Artikel Politik: Kisah Napoleon

0
99 views
Napoleon Bonaparte (Ist)

“DALAM politik, kebodohan bukanlah cacat.”

Begitu kata Napoleon Bonaparte (1769-1821). Kaisar dan pemimpin militer Perancis yang bergelar Napoleon I itu dikenal sebagai kaisar ahli strategi militer ini yang menaklukan hampir seluruh wilayah Eropa pada awal abad ke-19.

Tetapi, kisah Napoleon berakhir di Waterloo, sekitar 15 kilometer sebelah selatan Ibukota Belgia. Kisah kekalahan Napoleon ini bisa menjadi ilustrasi betapa kesungguhan dan kompetensi bagaikan dua sisi mata uang yang sama. Keduanya, sama pentingnya. Yang satu tidak ada artinya bila tidak ada yang lain.

Pasukan Napoleon kalah melawan pasukan Inggris-Belanda-Jerman di bawah Jenderal Wellington dan sekutu Prussia-nya di bawah Feldmarschall Blücher, pada 18 Juni 1815.

Saat itulah muncul adagium, “Pertempuran Waterloo dimenangkan di medan berkiprahnya Eton.”

Eton, sebuah kota di Inggris selatan-tengah, yang terkenal dengan Eton College-nya, didirikan tahun 1440 oleh Raja Inggris Henry VI.

Eton College dikenal sebagai sekolah umum yang tidak hanya membina kecerdasan tetapi juga karakter.

Mengapa disebut Eton dan bukan Sandhurst? Bukankah Sandhurst dikenal dengan akademi militernya?

Karena kemenangan di Waterloo adalah hasil dari kesungguhan dan kompetensi. Kesungguhan dan kompetensi dari orang-orang yang memiliki kecerdasan dan karakter, seperti yang dihasilkan College Eton, bukan hasil akademi militer.

Di zaman kini pun, bahkan masa mendatang, kesungguhan dan kompetensi dari orang-orang yang cerdas dan berkarakter tetaplah faktor yang menentukan.

“Keganasan” zaman, hanya bisa ditaklukkan oleh orang-orang yang memiliki kesungguhan dan kompetensi kerja sesuai dengan panggilan hidupnya.

Orang yang memiliki kecerdasan dan yang berkarakter sebagai manusia pembaharu.

Sebab, menurut para bijak, kerja itu salah satu ciri yang membedakan manusia dari makhluk-ciptaan lainnya, yang kegiatannya untuk melestarikan hidupnya tidak dapat disebut kerja.

Hanya manusialah yang mampu bekerja; hanya manusialah yang bekerja, dan serta-merta dengan kerjanya mengisi hidupnya di dunia. Begitulah kerja secara khas ditandai oleh manusia dan kemanusiaan, oleh pribadi yang bekerja dalam persekutuan pribadi-pribadi.

Meterai manusiawi itulah yang serba menentukan ciri-ciri batin kerja. Dalam arti tertentu itulah yang merupakan hakikat kerja sendiri.

Begitulah, seperti perang Waterloo, kesungguhan dan kompetensi orang-orang cerdas dan berkarakter, yang akan memenangkan pertarungan. Dan, Napoleon yang menderita kekalahan di Waterloo mengingatkan, bahwa hanya ada dua kekuatan di dunia: pedang dan pikiran.

Dalam jangka panjang, pedang selalu dikalahkan oleh pikiran. Pikiran orang-orang sehat.

Pikiran orang-orang waras.

PS:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here