Artikel Politik: Thamrin Suatu Malam

0
121 views
Protes hasil Pemilu 2019 di depan Kantor Bawaslu - Courtesy of Kompas

“TERINGAT Tahrir dan sekitar Ittihadiah, waktu itu.” Begitu tulis, Kadarisman, teman lama yang ketemu di Kairo, Mesir tahun 2013 silam, lewat WA.

Waktu itu, Kadarisman sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, sebuah universitas tua yang sangat prestisius. Kadarisman kuliah di Kulliyah Lughah al-Arabiyah Qism Lughah (Fakultas Bahasa, Jurusan Bahasa).

Rasanya terlalu jauh membandingkan apa yang terjadi di sepenggal Jalan Thamrin hari Rabu ltanggal 22 Mei 2015 lalu itu dengan yang terjadi di Tahrir Square (pusat Revolusi Musim Semi Arab, 2011) dan Istana Ittihadiah (pusat perlawanan rakyat terhadap rezim Muhammad Morsi dukungan Ihkwanul Muslimin, 2013).

Yang terjadi di Thamrin—juga di dua-tiga tempat lainnya di Jakarta—lebih merupakan aksi anarkis, kerusuhan.

Terma “anarkhisme” memiliki akar kata dalam bahasa Yunani kuno, anarchos, yang berarti “tanpa penguasa.”

Ada yang mengartikan sebagai “tanpa aturan”.

Kaum anarkis adalah orang-orang yang menolak semua bentuk pemerintahan atau kekuasaan koersif, semua bentuk hierarki dan dominasi. Bertindak anarkis berarti bertindak tanpa mempedulikan hukum dan tatanan.

Menurut Pierre-Joseph Proudhon (1809-1865), tokoh anarkisme Perancis, gerakan anarkisme haruslah disandarkan pada kekuataan gerakan massa. Massa merupakan sumber kekuatan revolusi.

Massa inilah yang digunakan oleh para demagog untuk mewujudkan kepentingannya.

Demagogue secara harafiah berarti orang yang meminjamkan suaranya kepada rakyat.

Di Indonesia, fenomena demagogue seperti itu menghinggapi juga beberapa politikus yakni politikus yang gemar mengaduk-aduk perasaan masyarakat, biasanya dengan menggunakan isu agama, untuk kepentingan politiknya, daripada mengajak berpikir secara obyektif dalam mencari jalan keluar (Haryatmoko: 2003).

Seorang demagogue, selalu mencari kambing hitam atas segala masalah. Argumen yang digunakan seorang demagogue dan menjadi senjata utamanya biasanya ad hominem alias menyasar orang dengan penuh kebencian. Itulah yang terjadi belakangan ini.

Terlepas dari semua itu, pertanyaan dasarnya adalah mengapa manusia melakukan kekerasan terhadap sesamanya?

Segala bentuk tindakan kekerasan hampir pasti bersifat destruktif dan tidak mengindahkan rasionalitas pikiran manusia, yang menafikkan sistem nilai yang ada.

Apabila kekerasan bukan bagian integral dari watak bangsa Indonesia, tetapi mengapa kekerasan selalu ada dan digunakan dalam praktik kegiatan dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan, lebih khususnya lagi, dilakukan untuk kepentingan politik.

Begitulah Thamrin pada malam itu. Terang benderang, tetapi terasa gelap gulita. Karena, keadaban sudah hilang.

Anarkisme, amuk, kerusuhan telah merasuki hati dan pikiran sementara orang. Tindakan semacam itu adalah tindakan tidak menghormati negerinya. Padahal, orang yang tidak menghormati negerinya, berarti tidak menghormati dirinya sendiri.

Dan, melihat Thamrin malam itu, teringat yang pernah dinyatakan oleh filsof kelahiran Swiss, Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), “Segala yang jahat berasal dari kelemahan.”

Kelemahan dalam segala-galanya.

Untuk menutupi kelemahan itu, kejahatan dilakukan, bahkan cenderung kebrutalan. Kebrutalan tidak bisa dilawan. Tetapi, mereka yang berpandangan optimistik akan mengatakan, “Di mana ada kehidupan, masih ada harapan.”

Harapan akan kehidupan, memang, masih ada, seperti Matahari pagi yang terbit di ufuk Timur, ketika melihat aparat keamanan ada di Thamrin. Sebab, seperti ditulis oleh penyair dan ahli kaligrafi Jepang Mitsuo Aida (1924-1991) dalam puisinya, seperti dikutip Paulo Coelho (2006):

Andai tomat-tomat ingin menjadi melon,
Betapa menggelikannya Heran sungguh saya melihatnya
Begitu banyak orang ingin menjadi yang bukan diri mereka;
Apa gunanya menjadikan diri sendiri bahan tertawaan?

PS:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here