Balok Di Mata

0
547 views

“Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.” (Mat 7,5)

APA yang diajarkan oleh Sang Guru ini mirip dengan sebuah peribahasa yang diajarkan di bangku sekolah, “Gajah di pelupuk mata tidak nampak, kuman di seberang lautan tampak.”

Peribahasa ini mau mengungkapkan kecenderungan yang ada dalam diri banyak orang berkaitan dengan suatu kesalahan, yakni orang mudah sekali memperhatikan dan menemukan kesalahan kecil (selumbar) di dalam diri orang lain dan tidak memperhatikan kesalahan yang lebih besar (balok) di dalam dirinya sendiri. Orang seringkali mudah menghakimi orang lain dibandingkan dengan membuat refleksi atas diri sendiri; orang mudah menyalahkan orang lain dibandingkan dengan menyalahkan diri sendiri.

Kecenderungan seperti ini rupanya menjadi salah satu warna dari kehidupan masyarakat kita pada jaman ini. Beberapa Minggu yang lalu, Presiden meresmikan sebuah SMA di Malang, Jawa Timur. Dalam kesempatan itu, Presiden mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam kecenderungan dan kebiasaan untuk saling menghujat, menyalahkan, memfitnah, menyebar hoax dan menjelekkan satu dengan yang lain. Kecenderungan dan kebiasaan itu termasuk energi negatif yang tidak akan produktif untuk membangun bangsa dan negara.

Kecenderungan dan kebiasaan ini sesungguhnya memberikan beberapa pesan. Pertama, ini menunjukkan adanya kesombongan dalam diri banyak orang. Mereka merasa bahwa dirinya benar dan orang lain salah; diri mereka sempurna dan orang lain banyak kekurangan. Kesombongan merupakan balok besar yang menghalangi banyak orang melihat dirinya sendiri. Orang sombong mudah melihat orang lain sebagai penyebab terjadinya kesalahan, kekeliruan atau kegagalan, dari pada melihat diirnya sendiri.

Kedua, kebiasaan ini juga menunjukkan bahwa banyak orang tidak mau dan tidak mampu merefleksikan diri dan hidupnya. Kebiasaan refleksi bisa dihayati dengan berbagai bentuk, seperti: pemeriksaan batin dan diskresi. Ini merupakan kesempatan bagi setiap orang untuk melihat kembali dirinya sendiri, dalam berpikir, berkehendak, bersikap, berperilaku dan bertindak atau berbuat. Apakah semua hal itu sudah benar dan baik, selaras dengan iman dan ketentuan lainnya.

Kesombongan dan lemah dalam refleksi diri, akhirnya menjadi balok besar yang menyebabkan orang mengalami rabun dekat, tidak mampu melihat dengan jelas kekurangan, kelemahan dan kesalahan di dalam diri sendiri. Orang seperti ini akhirnya juga akan terhambat untuk mengembangkan dan menyuburkan kehidupan rohaninya.

Balok macam apa yang selama ini ada di dalam mataku, sehingga aku mengalami rabun dekat, tiak mampu melihat diriku sendiri dengan jelas dan mudah melihat kekurangan atau kesalahan orang lain? Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here