Belajar dari Tomas di Zaman Edan (2)

0
119 views
Ilustrasi: Kritis bertanya. (Sr. Maria Seba SFIC)

TOMAS adalah salah satu murid Yesus yang terkenal karena keistimewaannya: tidak mau percaya begitu saja.

Ia tidak mau menerima begitu saja apa kata orang. Keistimewaan tersebut sering dinilai negatif. Lalu, nyaris setiap pengajar agama Kristen sering terjebak dengan ajarannya: ayo… jangan seperti Tomas yang tidak percaya.

Menurut saya, di zaman edan ini, kita malah harus mengajarkan kepada setiap pemeluk agama: mari belajarlah dari Tomas. Jadilah seperti Tomas yang tidak mudah mau percaya begitu saja.

Mengapa? Sebab yang sebenarnya dilakukan Tomas tidak lain adalah berpikir kritis dan logis. Sekarang ini, terlalu sedikit orang yang mau berpikir kritis dan logis.

Barangkali itulah salah satu akibat larangan “Jangan seperti Tomas”. Bahkan ada kesan cukup kuat, bahwa seorang pemeluk agama yang mencoba berpikir kritis dan logis selalu dianggap sebagai ancaman, sehingga sering ditanggapi dengan sinis.

Mari kita tanya pada diri kita. Bukankah kita semertinya sering perlu meniru Tomas? Tidak begitu saja percaya, menerima apa yang dikatakan orang lain, khususnya kalau orang itu terpandang.

Berarti juga kita  menerima begitu saja apa yang jadi keputusan, rekan dan pemimpin agama kita, tanpa pernah (mau) mengkritisinya.

Di keluarga

Ketika anak bertanya tentang pendapatan dan pengeluaran uang rumah tangga, apa orangtua dengan senang hati berbagi, dan menjawab pertanyaannya?

Atau menepis pikiran kritis logis anak tersebut, dengan berkata: “Itu urusan orangtua, kamu anak kecil tahunya apa?”

Banyak anak yang lalu diam, menerima, dan percaya begitu saja? Tetapi ia tak belajar seperti Tomas: berpikir kritis logis.

Di sekolah

Terlalu banyak contoh guru-guru yang tidak bisa menerima, ketika murid-murid bertanya, apalagi mempertanyakan pendirian gurunya.

Murid-murid tersebut sebetulnya mau mengikuti gaya Tomas: kritis.

Itulah salah satu sebab kenapa pendidikan di negeri kita ini tak pernah maju. Bertanya saja dianggap menantang. Tidak yakin kata orangtua atau gurunya dianggap sebagai kekurangajaran.

Di rumah dilarang, di sekolah dilarang berpikir kritis dan logis, jadilah mereka itu anak-anak zaman yang konformistis atau malah apatis.

Akibatnya terjadi di  kantor

Ada terlalu banyak contoh karyawan dan bawahan, bahkan juga pimpinan yang hanya bisa membeo, percaya begitu saja kata seseorang, tanpa mengkritisinya.

Tambah lagi, kritis di perusahaan sering mengandung bahaya disingkirkan. Karena banyak perusahaan yang belum profesional. Merekrut staf dan karyawan berdasarkan like or dislike.

Karena itu, jangan heran kalau di masyarakat luas kita tahu banyak kasus orang yang mudah percaya dimakan orang lain. Betapa banyak kasus di masyarakat kita, orang jadi kurban iklan.

Kenapa? Karena mereka itu terbiasa percaya begitu saja apa kata iklan. Mereka tidak belajar dari Tomas untuk tidak mempercayai kata orang atau pimpinan.

Bahkan sampai sekarang pun masih saja terjadi kurban penipuan melalui SMS atau kini “berita palsu” melalui WA.

Mereka ini pasti tak pernah belajar dari Tomas.

Di lingkungan agama

Lebih banyak contohnya. Ini juga contoh agama jadi ‘candu’ yang meninabobokkan kekeliruan. Apa pun kata pimpinan agama, langsung di-yakan- tanpa pernah dikritisi.

Kalau dalam agama kita tidak dapat berlajar kritis logis, apa sumbangan agama kepada kehidupan bermasyarakat?

APP

Contoh paling jelas adalah masalah APP. Misalnya, tema APP.

Tema itu dibuat untuk dapat dipakai oleh seluruh wilayah negara/keuskupan. Artinya tak mungkin memperhitukan kekhususan paroki tertentu.

Maka, kalau mau belajar dari Tomas, paroki dan bahkan lingkungan harus berani mengkritisi tema APP tersebut.  

Syukur kalau mampu membuat tema sendiri yang sesuai dengan kebutuhan paroki, lingkungan, komunitasnya.

Kalau APP (aksi puasa pembangunan) sekarang ini umumnya jadi IPP (ibadat puasa pembangunan), UPP (uang puasa pembangunan), umat ikut saja apa kata pemimpinnya.

APP yang ide dasarnya mengusahakan aksi, meskipun kini berubah menjadi ibadat atau bahkan kegiatan mengumpulkan uang dan umat sudah tak kritis lagi.

Kalau cuma mengumpulkan uang, apa bedanya dengan pengumumam di koran dengan label ….. Peduli, atau TV Peduli?

Kalau gak percaya, lihat saja ukuran keberhasilan APP adalah jumlah uang yang terkumpul, bukan intensitas aksi yang dilakukan umat.

Bahkan kadang yang disebut aksi itu untuk dirinya di lingkup ibadat lagi. Contohnya: ziarah.

Tidak pikir lagi bagaimana dapat membuat aksi untuk orang kecil dan yang membutuhkan, tanpa dibatasi seagama dengan kita atu tidak. Yang memerlukan itu yang kita bantu.

Ketika pimpinan agama memutuskan sesuatu, umat, bahkan dewannya,  biasanya tidak lagi berpikir kritis logis. “Ya-ya aja”.  

Dalam ibadat dan doa-doa pun, kita sering  gak kritis lagi. Ketika pimpinan menawarkan (ditangkap= mengharuskan) lagu-lagu tertentu, umat tidak kritis lagi. Diterima saja.

Padahal ada banyak lagu yang lebih mengena di hati, sesuai dengan pengalaman hidup kita di zaman ini.

Jadi jelas bahwa di zaman ini kita makin perlu bejar dari Tomas. Yakni, untuk tidak begitu saja menerima (baca: percaya ), melainkan harus kritis menanggapinya, minimal dengan pikiran kritis dan logis.

Syukur dapat mengkritisi berdasarkan pengalaman hati dan budi kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here