Belajar dari Tukang Jahit Handal

0
2,100 views

OMMA Joy punya tiga orang anak. Yang sulung bernama Nyek Joy, yang nomor dua Idu Joy dan yang bungsu bernama Taruah Joy.

Karena esok adalah hari pertama masuk sekolah, maka omma Joy bermaksud memberikan hadiah bagi anak-anaknya.Hadiahnya adalah baju baru. Omma Joy mengajak ketiganya membeli di toko. Setelah melihat lihat, ketiga anak itu ternyata mengarahkan pandangan mereka pada baju yang bagi mereka menarik dan mempesona. Problemnya, ketiganya melihat baju yang sama dan hanya ada satu-satunya di toko itu.

Omma Joy menjadi sedikit bingung. Maka, ia memanggil ketiga anaknya ke sudut toko dan bertanya.

“Kalian memilih baju yang sama. Dan ini sulit bagiku. Bagaimana. Apakah kalian mau aku tetap membeli baju itu dan menyuruh kalian bergantian memakainya?” kata Omma Joy.

Ketiga anak itupun diam.

Akhirnya si sulung, Nyek, berkata, “Biarlah itu untuk Taruah aja. Dia kan bungsu. Kita semua sayang adik.”

Taruah menyahut,”Enggak, Pa. Lebih baik itu untuk kakak Idu saja. Supaya dia bisa lulus tahun ini.”

Idu pun menukas,”Aku kira lebih baik itu untuk kakak Nyek saja karena dia selalu baik kepada adik-adiknya. Layak kita beri hadiah untuknya.”

Omma Joy pun menengahi. “Ah, sama saja. Kalian semua terlalu baik. Membuat papa mama pusing.”

Idu pun menambahkan,”Apakah kita harus bertanya siapa penjahitnya supaya kita bisa pesan tiga baju yang mempesona seperti itu?”

“Aku setuju,” kata Nyek.

Taruan menimbrung,”Tapi bukan untuk memesan tiga baju yang mempesona.”
Nyek bertanya-tanya,”Maksud adik?”

“Menemuinya bukan untuk memesan baju tetapi untuk belajar menjahit,” tukas Taruah.

Pembicaraan dengan ketiga anaknya mengajari Omma Joy sebuah kebijaksanaan. Untuk sesuatu yang mempesona, lebih baik menghasilkannya daripada memesannya. Bukankah keselamatan juga suatu yang mempesona, pikir Omma Joy.

Pantaslah Yohanes Pembaptis (Yoh 1:35-42) bukan memesan dari Yesus keselamatan bagi para muridnya, tetapi malah menyuruh para muridnya pergi kepada Yesus dengan berkata,”Lihatlah, Anak Domba Allah!”

Yohanes ingin agar para muridnya tidak memesan keselamatan tapi belajar “menjahit keselamatan” dari tukang jahit handal itu. Barulah Omma Joy mengerti mengapa Yesus mengajak para murid belajar “menjahit baju keselamatan” dengan ajakan “Marilah dan kamu akan melihatnya.”

Omma Joy mulai memahami bahwa keselamatan bukan barang pesanan, tapi soal kehidupan bersama Yesus.
Ya, sebuah kehidupan yang menjawab undangan Yesus, “Marilah dan kamu akan melihatnya.”
Pastor Julius Lingga, OFM Cap
Sumber: Gema, Berita Paroki Tebet
Website: www.sanfransis.blogspot.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here