Belajar Tegar Seperti Frans: Menanti Datangnya Rekonsiliasi Keluarga (4)

2
2,581 views

SETELAH kepergian istri dan anak-anak yang disayanginya, Frans kehilangan semangat dan gairah hidupnya. Bertahun-tahun dia mencari dan menunggu kabar. Untuk menyambung hidupnya, dia berusaha memulai bergabung dengan beberapa MLM. Ada yang hampir berhasil, namun ada mismanajemen di perusahaan itu yang membuat bisnis itu perlahan-lahan hancur. 

Pernah juga Frans mencoba berjualan pulsa elektrik, namun tidak bisa menekuninya. Berkali-kali melamar kerja, tidak ada yang tembus juga. Untung saja dia mempunyai pembantu yang setia, yang selama ini menemaninya. 

Penopang hidup

Mbak Wah –nama pembantu rumah tangga itu—dulunya sudah terbiasa merawat anak-anak Frans. Mbak Wah juga merasa kehilangan yang sama. Jika pembantu lain mungkin akan meninggalkan majikannya jika tahu majikannya sudah bangkrut atau tidak mempunyai pekerjaan lagi, Mbak Wah tidak begitu. Dia dengan setia menemani keheharian Frans, sambil mencari uang untuk makan sehari-hari. 

Mbak Wah bekerja mencuci pakaian di tetangga-tetangganya. Menurut kabar, beberapa hari lagi Mbak Wah akan pulang kampungnya di Sleman, Yogya, karena keluarganya ada di sana. Kesetiaan Mbak Wah genap sampai akhir, tanpa berkeluh kesah. Kepergian Frans memang kehilangan yang sangat besar baginya, namun dalam setiap pembicaraan, dia kelihatan begitu tegar dan tanpa menunjukkan emosi yang dalam. Dia menjawab dengan jujur dan lugu. 

Kontak terjalin

Beberapa tahun lalu, Wisnu pernah dihubungi oleh istri Mr X ini. Menurut cerita Wisnu kepada saya, ternyata Mr. X ini juga meninggalkan seorang istri dengan kedua anaknya yang hingga kini dia telantarkan sampai sekarang. 

Istri resmi Mr. X ini mengatakan dirinya ingin menemui Frans. 

Wisnu bertanya mengapa dia ingin bertemu mas Frans. Istri Mr. X  ini mengatakan dia ingin minta maaf atas kelakuan suaminya. Namun Wisnu bilang, bahwa itu tak perlu, karena istri Mr. X ini tidak salah apa-apa. Bukankah istri dan anak-anak Mr.  X ini merupakan korban? 

Cinta buta?

Sewaktu saya tanya apakah ada masalah keluarga di antara Frans dan istrinya yang menyebabkan perpisahan itu ataukah hanya karena cinta buta? Wisnu sangat yakin tidak ada permasalahan apa pun di antara mereka. 

Penyebabnya hanyalah Mr. X itu. Sepertinya Mr. X ini Bambang telah memakai ‘sesuatu’ (ilmu pelet?) sehingga istri Frans sepertinya telah kehilangan akal sehatnya bahkan sampai tegas memfitnahkan sesuatu yang jahat  terhadap Frans, Bahkan kepada anak sulungnya pun, dia sampai bercerita agar dia bisa menerima alasan ibunya pergi meninggalkan bapaknya. 

Bergeming pun tidak

Ketika saya bertanya bagaimana reaksi Mr. X yang pada waktu pemakaman Frans juga hadir mengantarkan ‘istri’nya? Apakah dia mau bercermin dan mau kembali ke istri sejatinya? 

Wisnu menjawab, “Pasti tidak ada pengaruh apa-apa baginya. Dia kelihatan seperti cuek saja. Tetapi ini masih baik, karena dia sudi mengantarkan istri sah Frans ke Yogyakarta.”

Wisnu dan keluarga sangat menghargai kesediaan Mbak, ‘suami’ dan anak-anak datang pada prosesi pemakaman. Ketika keluarga bercerita kepada Mbak Y mengenai perjuangan, kesabaran dan kesetiaan mas Frans selama ini, dia tak henti-hentinya menangis. 

Entah apa yang sedang dipikirkannya, apakah ada penyesalan atau sedih, tidak ada yang tahu.  Yang penting, semua anggota keluarga mas Frans, saat itu hadir semua untuk mengantarkannya di peristirahatan yang terakhir. (Bersambung)

2 COMMENTS

  1. seperti komentar (usulan) saya sebelumnya:
    dari halaman bacaan yang bagus ini, sukar/tidak tersedia bagi saya link untuk maju (ke bagian 5nya, kalau ada) atau mundur (ke bagian 3nya). mungkin bisa dibuatkan link untuk tulisan berserinya?

    sukses selalu,
    wur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here