Berada di New Delhi – India di Hari Keempat: Taj Mahal dan Sungai Yamuna (3)

0
441 views
Taj Mahal. (Ist)

PAGI itu Minggu, 29 Oktober 2017, kami terbangun lebih awal di kamar 209 Hotel Bloomrooms di 8591 Arakashan Road, New Delhi, India dengan bugar. Pagi itu kami tidak akan mengikuti sesi hari terakhir The 11th  World Congress on Adolescent Health di Hotel Pullman Aerocity, New Delhi. Terpaksa Plenary Panel Symposium tidak kami ikuti, sehingga topik ‘Early Adolescent Health and Development in Low and Middle-Income Countries’ yang menampilkan Robert Blum (Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health USA), Jo Boyden (Oxford Department of International Development, Young Lives UK) dan  Rajib Acharia (Population Council, India) tidak kami nikmati.

Untunglah materi tentang ‘Social Media of Adolescent Health in the Digital Age’ yang menampilkan Michael Rich (Harvard University USA) dapat kami peroleh abstraknya. Yang cukup kontroversial sebenarnya adalah Plenary Debate dengan tema mengerikan ‘For adolescents, all our efforts should be put into promoting condoms instead of promoting oral or long-acting reversible contraceptives’, dipimpin oleh Gwyn Hainsworth (Bill & Melinda Gates Foundation, USA) yang menampilkan Kate Baye Easton (International Youth Alliance for Family Planning, USA) dengan Ishita Chaudhry (Ashoka Fellow, Founder and Managing Trustee, The YP Foundation Italy).

Stasiun KA tersibuk di New Delhi

Terpaksa semua sesi itu hanya kami bayangkan, karena pagi itu kami berniat ke Agra.Ada apa di kota Agra di negara bagian Uthar Pradesh?

Setelah kami berjalan kaki sekitar 10 menit sejauh 750 m dari hotel, kami mencapai Stasiun Kereta Api New Delhi (The New Delhi Railway Station dengan kode stasiun NDLS), yang merupakan stasiun kereta api utama di Delhi.

Ini adalah Stasiun Kereta Api tersibuk keempat di negara ini dalam hal frekuensi kereta api setelah Kanpur Central, Vijayawada Junction dan Delhi Junction, tetapi merupakan stasiun kereta api tersibuk di India dalam hal pergerakan penumpang. Sekitar 500.000-an penumpang setiap hari dengan 16 peron atau platform memasuki stasiun kereta api New Delhi, yang memegang rekor untuk sistem jalur interlocking terbesar di dunia, bersama dengan Stasiun Kereta Api Pusat Kanpur di India selatan, yaitu 48.

Setelah melalui konter pemeriksaan detektor logam yang terpisah antara penumpang pria dan wanita, kami segera naik ke jembatan penyeberangan penumpang di atas jalur kereta api. Papan petunjuk arah dan peringatan cukup jelas, dengan huruf Latin dan Hindi. Untunglah kereta api kami di platform 1, sehingga paling dekat dengan pintu masuk.

Suasana stasiun sangatlah ramai penumpang, meskipun hari masih pagi buta dan *luas total areal platform sekitar 4 kali lipat berbagai stasiun di Pulau Jawa, karena sebanyak 427 buah kereta api penumpang berasal, berhenti, atau melewati Stasiun Kereta Api New Delhi, untuk melayani 269 kereta penumpang, dengan 867 stasiun di seluruh India terhubung langsung ke Stasiun Kereta Api New Delhi.

Kami menuju ke Bhopal Shtbdi atau nama lengkapnya New Delhi Habibganj Shatabdi Express, yaitu kereta api yang dioperasikan oleh Indian Northern Railway, yang melayani rute antara New Delhi melewati Agra di Uthar Pradesh dan berakhir di Habibganj, yaitu stasiun kereta api kedua di Bhopal City, Ibukota negara bagian India tengah Madhya Pradesh.

Setelah Gatimaan Express yang akan kami tumpangi, maka inilah Shatabdi Express yang merupakan kereta tercepat kedua di India dengan kecepatan tertinggi 150 km/jam. Seperti Gatimaan Express, kereta ini juga termasuk dalam kategori kereta api semi-high speed train. Kereta api ini mulai beroperasi pada tahun 1988 dan merupakan kereta Shatabdi pertama yang diperkenalkan.

Kereta sepenuhnya ber-AC dan memiliki standar yang jauh lebih tinggi daripada kebanyakan kereta api di India. Kami segera mencari gerbong 4 dengan nomor kursi 60 dan 61. Untuk para penumpang Shatabdi Express disediakan makanan ringan, makanan, kopi/teh, botol air satu liter/300ml air kemasan (untuk perjalanan jarak pendek). Kereta api ini akan melintasi pusat pariwisata India yang mencakup kota-kota turis besar seperti New Delhi, Agra Cantonment, Mathura Junction, Gwalior, Jhansi dan Bhopal.

Kereta tersebut memiliki 3 gerbong AC kelas satu di belakang sebuah gerbong pembangkit setelah lokomotif, 17 gerbong AC kelas bisnis atau chair cars, 1 gerbong pembangkit di belakang, sehingga total ada 22 gerbong atau coaches.

Pemeriksaan karcis penumpang dilakukan di atas gerbong, sedangkan di Indonesia pemilahan penumpang dan pengantar dilakukan di gerbang peron stasiun, sebab rasanya tidak ada seorang pun pengantar penumpang di India. Dalam sebuah gerbong, terdapat 3 kursi di kiri dan 2 kursi penumpang di kanan jalan tengah,  separo kursi deretan 1 sampai 38 menghadap ke depan dan deretan nomer 39 sampai 78 menghadap ke belakang saling berhadapan.

Menuju Taj Mahal

Kami berangkat dari The New Delhi Railway Station tepat pkl 06.00 yang masih gelap dan turun di Agra pk. 08.30, untuk langsung mengunjungi Touris Information Center, agar dibantu untuk mengunjungi Taj Mahal.

Taj Mahal adalah salah satu keajaiban dunia di Agra, India,  yang merupakan sebuah bangunan makam sangat indah untuk seorang permaisuri Raja Shah Jahan, yaitu Mumtaz Mahal.

Shah Jahan merupakan gelar yang diberikan Maharaja Jahangir pada putera kelimanya, Pangeran Khurram. Shah Jahan sendiri memiliki arti ‘raja dunia’. Ini dibuktikan dengan prestasi Pangeran Khurram yang membawa Kerajaan Mohgul ke puncak kejayaannya. Begitu Mumtaz Mahal wafat pada 17 Juni 1631, Shah Jahan begitu sedih dan terluka. Apalagi Mumtaz Mahal sedang mengandung dan baru saja mendampingi Shah Jahan menumpas pemberontakan di Burhanpur.

Untuk mengenang isterinya, Shah Jahan membangun bangunan terindah di dunia saat itu.

Pembangunan Taj Mahal dilakukan sejak tahun 1631-1648 melibatkan 20.000 pekerja. Tidak hanya itu, pembangunannya juga melibatkan para arsitek, seniman kaligrafi, pematung, hingga ahli mosaik. Para ahli di bidangnya ini didatangkan dari Persia, Suriah, dan Eropa. Bahkan Shah Jahan juga mengerahkan armada 1.000 ekor gajah untuk membawa bantuan berharga dari berbagai pelosok India dan sejumlah negara Asia lainnya. Ribuan pekerja ini ditempatkan di pemukiman sebuah kota kecil bernama Taj Ganj. Namun, mereka lebih suka menyebutnya sebagai “Mumtazabad” atau “Kota Mumtaz”.

Arsitek India keturunan Persia bernama Ahmad Lahorilah yang sering disebut-sebut ahli sejarah sebagai perancang Taj Mahal. Namun, beberapa catatan sejarah menyebut Geronimo Verroneo, sebagai perancangnya.

Taj Mahal selesai dibangun pada tahun 1648, dan menjadikannya bangunan terindah di dunia. Dinding pualamnya memantulkan warna-warni cahaya berbeda setiap waktunya.

Setelah membeli tiket masuk untuk pengunjung asing seharga Rs 1.000, kami segera memasuki antrian yang memisahkan pengunjung pria, wanita, asing dan India. Prosedur pemeriksaan menggunakan detektor logam cukup ketat, pengunjung hanya boleh membawa minuman tanpa makanan dan pembungkus sepatu sekali pakai, dengan kamera. Antrian pengunjung mengular sangat panjang, tetapi disiplin dan saling memberi tempat antar pengunjung.

Kami segera larut dalam pencarian posisi terbaik, untuk pengambilan foto yang istimewa.

Taj Mahal terdiri dari empat menara masjid yang mencapai tinggi 41,2 m dan kubah utama setinggi 60 m dari landasan utama. Kubah ini berdiameter 17,7 m. Bangunan utama Taj Mahal terbuat dari batu pualam putih yang didatangkan dari Makrana pusat marmer di Rajasthan, India. Menara utamanya dihiasi batu pasir merah dari Punjab. Tak hanya itu, sejumlah batuan berharga juga didatangkan dari berbagai daerah. Batu giok dan Kristal didatangkan dari China, batuan turquoise dari Tibet, lapis lazuli dari Afganistan, safir dari Srilanka, batuan cornelian dari Arab, dan intan dari Panna, India.

Kedua menara di depan dan kubah utama kami jadikan latar belakang foto kami berdua, bergantian dengan para pengunjung lainnya.

Keutuhan musoleum ini dari tangan jahil pengunjung dapat dihindari, apalagi dari bahaya besar penyerbuan kelompok Jat terhadap penjajah kolonial Inggris. Penyerbuan yang terjadi saat pemberontakan di India tahun 1857 itu, berniat membongkarnya. Selain itu, Taj Mahal juga direstorasi dan dipasang perancah agar terlindungi dari serangan bom dari pesawat Jepang di dalam PD II.

Meskipun demikian, bangunan Taj Mahal sebenarnya tidak terlepas dari perseteruan keluarga, karena tak lama setelah pembangunannya selesai, Shah Jahan digulingkan dan dipenjarakan puteranya sendiri, Aurangzeb. Untunglah akhirnya Aurangzeb, puetra tersebut menuntaskan baktinya sebagai anak dengan menguburkan sang ayah di samping Mumtaz, di dalam bangunan utama Taj Mahal, yang kedua nisannya dapat kami saksikan.

Setelah puas menyaksikan dari dekat kemegahan Taj Mahal dan berswafoto dari berbagai sudut, segera kami menuju Benteng Agra yang dibangun oleh Kaisar Mughal ketiga Akbar pada tahun 1565. Itu adalah kediaman utama kaisar Dinasti Mughal sampai tahun 1638, ketika ibukota tersebut dipindahkan dari Agra ke Delhi.

Benteng Agra adalah situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak sekitar 2,5 km barat laut dari Taj Mahal. Benteng ini sangat luas, sehingga sering kali digambarkan sebagai kota bertembok.

Setelah Pertempuran Pertama Panipat pada tahun 1526, Kaisar Babur yang menang segera tinggal di benteng, di Istana Ibrahim Lodi. Penggantinya, Humayun, dinobatkan di benteng tersebut pada tahun 1530, tetapi dia dikalahkan pada pertempuran di Bilgram pada tahun 1540 oleh Sher Shah Suri. Kemudian Akbar menjadikannya ibukota dan tiba di Agra pada tahun 1558.

Benteng batu bata merah ini dikenal dengan nama ‘Badalgarh’ dan sekarang disebut Red Fort. Benteng ini diserbu dan dikuasi oleh Kekaisaran Maratha pada awal abad ke-18. Setelah itu, ia berpindah tangan setelah kekalahan dahsyat di Pertempuran Panipat Ketiga oleh Ahmad Shah Abdali pada 1761. Selanjutya Mahadji Shinde merebut benteng tersebut pada tahun 1785. Benteng tersebut merupakan lokasi pertempuran selama pemberontakan India tahun 1857, yang menyebabkan berakhirnya kekuasaan perusahaan perdagangan (The British East India Company) di India, dan selanjutnya India dipemerintah langsung oleh Ratu Inggris.

Benteng seluas 380.000 meter persegi berbentuk setengah lingkaran, akord-nya sejajar dengan sungai dan temboknya setinggi tujuh puluh kaki. Terdapat empat buah pintu gerbang di keempat sisinya, dan satu pintu masuk Khizri menuju Sungai Yamuna. Dua gerbang bagian depan  benteng yang terkenal, yaitu “Gerbang Delhi” dan “Gerbang Lahore”.

Gerbang Lahore juga populer juga dikenal sebagai “Gerbang Amar Singh,” untuk menghormati keberanian Amar Singh Rathore (11 Desember 1613 – 25 Juli 1644), yaitu seorang bangsawan Rajput dan panglima Kaisar Mughal Shah Jahan abad 17. Pada tahun 1644, dia marah karena usaha kaisar untuk mengenakan denda kepadanya dan d ihadapan kaisar, ia menikam dan membunuh Salabat Khan, yang telah diminta mengumpulkan denda tersebut.

Kami sempat berswafoto dengan latar belakang patung gagah Amar Singh Rathore yang sedang naik kuda terpasang di persimpangan jalan besar menuju gerbang tersebut. Oleh karena militer India (Brigade Parasut) masih menggunakan bagian utara Benteng Agra, maka Gerbang Delhi tidak dapat digunakan masuk oleh masyarakat umum. Wisatawan, termasuk kami berdua, hanya dapat masuk melalui Gerbang Amar Singh.

Setelah puas menikmati kedua bangunan sangat bersejarah tersebut, kami segera menikmati makan siang. Menu salad seharga Rs 80, chicken tikka Rs 295, mixed salad Rs 185, rice Rs 180, dan tax Rs 80, kami santap di Only Restaurant yang beralamat di 45/1 Taj Road, Agra 282001 UR India.

Sungai Yamuna yang suci

Selanjutnya kami menyeberangi Sungai Yamuna yang suci.

Sungai Yamuna berasal dari Gletser Yamunotri di Pegunungan Himalaya dan mengalir membentang sepanjang 1.376 kilometer dari India Utara, melewati negara bagian Uttarakhand, Haryana, Himachal Pradesh, Delhi dan Uttar Pradesh sebelum menyatu dengan Sungai Gangga di Allahabad.

Sungai Yamuna.(Ist)

Sungai Yamuna dan Sungai Gangga dipercaya oleh umat Hindu sebagai sungai suci terkait mitos ceritera dalam dunia pewayangan, yaitu Dinasti Raja Santanu. Pada suatu ketika Prabu Santanu mendengar kabar bahwa di sekitar Sungai Yamuna tersebar bau yang sangat harum semerbak, yang berasal dari seorang gadis desa yang sangat elok parasnya dan harum tubuhnya, bernama Gandhawati (lebih dikenal sebagai Satyawati atau Durgandini). Ayah gadis tersebut bernama Dasabala yang mengajukan syarat bahwa jika Gandhawati (Satyawati) menjadi permaisuri Prabu Santanu, keturunan Gandhawati-lah yang harus menjadi penerus tahta. Dewabrata, putera pertama Prabu Santanu mewakili ayahnya untuk melamar Gandhawati dan menuruti segala persyaratan yang diajukan Dasabala. Ia juga bersumpah tidak akan menikah seumur hidup dan tidak akan meneruskan tahta keturunan Raja Kuru, agar kelak tidak terjadi perebutan kekuasan antara keturunannya dengan keturunan Gandhawati, dan semenjak saat itu namanya berubah menjadi Bisma. Akhirnya Prabu Santanu dan Dewi Gandhawati menikah lalu memiliki dua orang putra bernama Citrangada dan Wicitrawirya. Setelah Prabu Santanu wafat, Bisma menunjuk Citrānggada sebagai penerus tahta kerajaan dan akan menurunkan keluarga besar Korawa dan Pandawa, di seberang Sungai Yamuna yang sore itu kami kunjungi.

Di seberang Sungai Yamuna, kami mengunjungi Makam I’timād-ud-Daulah atau Baby Taj, yang merupakan mausoleum Mughal yang sering dianggap sebagai draft atau awal rancangan dari Tāj Mahal. Strukturnya terdiri dari banyak bangunan luar dan kebun, dibangun antara tahun 1622 dan 1628 merupakan transisi antara fase pertama arsitektur Mughal yang monumental, ke fase kedua.

Fase pertama menggunakan bahan batu pasir merah dengan dekorasi marmer, seperti di Makam Humayun di Delhi dan makam Akbar di Sikandra. Sedangkan fase kedua  menggunakan marmer putih seperti di Tāj Mahal. Makam tersebut dibangun oleh Nūr Jahān, istri Jahangir, untuk ayahnya Mirzā Ghiyās Beg, yang pada awalnya merupakan seorang Amir Persia di pengasingan dan kakek Mumtāz Mahāl, istri kaisar Shāh Jahān. Setelah puas mengagumi keindahan dan keunikan arsitektural fase awal Mughal di I’timād-ud-Daulah, kami segera berlanjut.

Dengan diselingi berfoto dekat truk dan bis India yang sedang parkir di pinggir jalan, karena bentuknya yang khas kotak tegas, kami segera melanjutkan perjalanan ke Mehtab Bagh.

Mehtab Bagh (Moonlight Garden) adalah kompleks taman yang terletak di utara kompleks Taj Mahal dan Benteng Agra di seberang Sungai Yamuna. Kompleks taman, berbentuk persegi, berukuran sekitar 300 sampai 300 meter (980 kaki x 980 kaki) dan sangat sesuai dengan Taj Mahal di tepi seberang Sungai Yamuna.

Taman Mehtab Bagh adalah taman kesebelas Mughal yang dibangun di sepanjang tepi sungai Yamuna di seberang Taj Mahal dan Benteng Agra, yang dibangun oleh Kaisar Babur (wafat 1530). Kaisar Shah Jahan telah memastikan sebuah areal dataran berbentuk bulan sabit di seberang Sungai Yamuna sebagai lokasi yang ideal untuk melihat Taj Mahal. Oleh sebab itu, di situlah  dibangun taman kesenangan yang diterangi bulan, yang disebut ‘Mehtab Bagh’.

Jalan setapak berplester putih, kolam renang dan air mancur juga dibangun, dengan dilengkapi pohon buah-buahan dan disebut Mughal Riverfront Garden of Agra.*Setelah puas berfoto di situ dengan latar belakang Taj Mahal di seberang Sungai Yamuna yang aliran airnya semakin kecil, kami jadi tergetar kawatir seturut prediksi penyair terkenal India, Rabindranath Tagore, yang melukiskan Taj Mahal sebagai “setetes air mata pada muka sangkala”.

Namun, Taj kini menghadapi ancaman paling berbahaya yaitu degradasi lingkungan. Taj Mahal berdiri di pinggir Sungai Yamuna yang perlahan mengering. Menyusutnya permukaan air dari Sungai Yamuna mempercepat laju pembusukan kayu yang menyangga strukturnya, sehingga dikhawatirkan sewaktu-waktu dapat ambruk.

Segera kami berniat bersujud berdoa di hari Minggu, 29 Oktober 2017 yang disucikan itu. Kami segera meluncur ke Gereja St. Maria Agra, yang gedung megahnya diberkati pada 5 April 1923 oleh Uskup Agra, Mgr. Raphael Bernacchioni OC dengan Uskup Bombay Mgr. Goodier SJ. Setelah khusuk berdoa dan memohon penyelenggaraan Ilahi di gereja yang telah sepi umat pada sore hari itu, kami segera berjalan keliling kompleks, termasuk ke Seminari Santo Laurensius.

Salah satu lulusan terbaiknya adalah Mgr. Raphy Manjaly, uskup Katolik Roma di Allahabad, India. Dia bergabung dengan St. Lawrence Minor Seminary, Agra, pada tahun 1973 dan menyelesaikannya pada tahun 1975. Bergabung dengan Seminari Tinggi St. Joseph, Allahabad dan menyelesaikan pendidikan Filsafat dan Teologinya pada tahun 1983 di Universitas Agra. Selanjutnya menyelesaikan Doktor dalam bidang Spiritualitas dari Universitas Angelicum, Roma, Italia.

Setelah puas berdoa, kami segera kembali ke Stasiun Agra (Agra Cantt Railway Station). Di ruang tunggu setasiun, fasulitas free wi-fi dan sambungan internet sangat kuat, tetapi PIN sambungan hanya akan diberikan melalui sms kepada nomer telephon India (+9). Untunglah kami berhasil dibantu oleh seorang saudara jauh yang tinggal di Chennai, sehingga PIN dapat kami peroleh.

Persyaratan nomer telephon India (+9), ternyata berlaku juga untuk pembelian e-ticket kereta api, registrasi seminar dan e-visa India, yang telah kami lakukan sejak di Yogyakarta. Untunglah masalah e-ticket dan e-visa dapat diselesaikan oleh rekanan biro perjalanan dan registrasi seminar kami lakukan dengan mengutip nomer telephon panitia penyelenggara.

Ini adalah sebuah kebijakan politik digital protektif yang layak ditiru.

Tepat sesuai jadwal, pk. 17.45, kami menaiki Gatimaan Express di paltform 6, yaitu kereta api berkecepatan tinggi pertama di India, yang melayani rute antara Delhi dan Agra pulang pergi. Dengan kecepatan maksimum 160 km / jam (99 mph), maka saat ini Gatimaan Express merupakan kereta tercepat di India.

Kereta api ini memakan waktu 100 menit untuk menempuh jarak 188 km (117 mil) dari Hazrat Nizamuddin di New Delhi ke stasiun kereta Agra Cantonment yang memberikan kecepatan rata-rata 113 km / jam (70 mph). Biaya tiket kelas eksekutif ₹ 1,505 (US $ 23).

Kereta tersebut memiliki dua gerbong ekskutif atau Executive AC Chair Car dan delapan gerbong biasa atau AC Chair Car. Kereta ini dilengkapi dengan toilet bio, alarm kebakaran, sistem informasi penumpang berbasis GPS dan pintu geser otomatis. Kereta api memiliki hostes kereta untuk layanan, mirip dengan maskapai penerbangan dan penumpang mendapatkan akses ke Wi-Fi dan konten multimedia gratis.Makanan vegetarian dan non-vegetarian tersedia dalam variasi India Utara dan India Selatan.

Di dalam kereta api yang bersih tersebut, kami sempat membaca promosi melalui majalah kereta api untuk para penumpang, tentang rencana pemerintah India di bidang kesehatan. India memulai sebuah target ambisius untuk mencapai Cakupan Kesehatan Semesta atau Universal Health Coverage (UHC) untuk semua warganya selama periode Rencana Strategis ke-12. Semua warga India berhak mendapatkan layanan kesehatan yang komprehensif di negara ini. Merupakan kewajiban Negara Bagian untuk menyediakan makanan yang memadai, perawatan medis yang tepat, air minum yang aman, sanitasi yang layak, informasi mengenai pendidikan dan kesehatan untuk mencapai derajad kesehatan yang baik. Negara akan bertanggung jawab atau menjamin terciptanya UHC untuk warganya.

Kelompok Ahli Tingkat Tinggi UHC dibentuk oleh Komisi Perencanaan India pada bulan Oktober 2010, dengan mandat untuk mengembangkan kerangka kerja untuk menyediakan perawatan kesehatan yang mudah diakses dan terjangkau untuk semua warga India. Sementara perlindungan finansial warga miskin merupakan tujuan utama inisiatif ini, tetapi * UHC juga memerlukan ketersediaan infrastruktur kesehatan, tenaga kesehatan terampil yang memadai, dan akses terhadap obat dan teknologi yang terjangkau, untuk memastikan tingkat kualitas layanan kesehatan yang diberikan kepada setiap warganegara. Selanjutnya, perancangan dan penyampaian program dan layanan kesehatan memerlukan sistem manajemen yang efisien serta keterlibatan aktif masyarakat yang diberdayakan, seperti dijelaskan lebih lanjut pada National Health Portal (www.nhp.gov.in).

Setelah menikmati hidangan menu vegetarian di kereta api, kami tidak menuju ke Stasiun Kereta Api New Delhi (The New Delhi Railway Station atau NDLS), tetapi kami berdua turun di stasiun Hazrat Nizamuddin (kode stasiun NZM) New Delhi, yang merupakan satu dari lima stasiun kereta api utama di Delhi. Stasiun kereta api Hazrat Nizamuddin dikelola oleh Northern Railway zone of Indian Railways. Stasiun ini bersebelahan dengan dua arteri penting Delhi, Ring Road dan Mathura Road, dan menyatu dengan Terminal Bus Antar Negara (ISBT) Sarai Kale Khan. Stasiun kereta api Hazrat Nizamuddin menghubungkan semua kota besar dan dikembangkan untuk mengurangi kemacetan di stasiun kereta api New Delhi yang terletak sekitar 7 kilometer ke Utara. Stasiun ini tempat asal dan akhir keberangkatan berbagai kereta api Rajdhani Expresses, yang menuju kota-kota India seperti Bengaluru, Chennai, Madgaon, Mumbai, Secunderabad dan Thiruvananthapuram.

Setelah bernegosiasi dengan sopir taksi sampai sepakat di harga Rs 300, akhirnya kami kembali ke kamar hotel untuk beristirahat. Malam itu kami merasakan kepuasan mendalam, lengkap dan tuntas, dengan berbagai pengalaman yang inspiratif bagi layanan kesehatan remaja, dunia pariwisata, dan keindahan arkeologi di Indonesia, tentunya tidak hanya dari the 11th World Congress on Adolescent Health di New Delhi, India.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here