Buku Baru: “Falsafah Burung Tattiu'”, Biografi Mgr. Petrus Boddeng Timang

0
190 views
Penyerahan buku biografi "Falsafah Burung Tattiu'" Mgr. Petrus Boddeng Timang dari tim penulis. (Ist)

FALSAFAH Burung Tattiu’,  demikian judul buku baru jenis  biografi tentang sosok Uskup Keuskupan Banjarmasin Mgr. Petrus Boddeng Timang.

Baru baru ini baru teah dirilis dan isinya “dibedah” di Aula Sasana Sehati, Paroki Keluarga Kudus Katedral Banjarmasin, Jumat,  tanggal 12 Oktober 2018 lalu.

Buku ini berisi kumpulan tulisan testimonial sejumlah orang tentang Mgr. Petrus Boddeng Timang. Kegiatan ini merupakan satu dari serangkain  kegiatan yang dilakukan dalam rangka HUT ke-80 Keuskupan Banjarmasin.

Perayaan ini juga bertepatan dengan 10 Tahun Tahbisan Episkopal Mgr Timang, 10 Tahun Pemberdayaan Meratus, dan Lima Tahun Sinode Keuskupan Banjarmasin.

Uskup sederhana

Dari keseluruhan buku, satu kesan yang dapat ditarik dari sosok Mgr. Petrus Boddeng Timang adalah kesederhanaannya.

Para penulis bercerita, ibunda Mgr. Petrus Boddeng Timang kerap mendongeng tentang tedong (kerbau) dan burung tattiu’.

Buku baru tentang sosok Uskup Keuskupan Banjarmasin Mgr. Petrus Boddeng Timang.

Unggas kecil itu biasa biasa bersarang pada batang padi di sawah. Dalam kesehariannya, burung tattiu’ itu biasanya hinggap di punggung kerbau yang sedang merumput atau berendam di sawah.

Melalui kisah tersebut, tersirat budaya saling tolong-menolong tanpa ada yang terbebani. Di antara dua binatang itu terjadi kerjasama yang saling menguntungkan, tanpa memandang besar kecilnya tubuh.

Dengan kata lain, “kecil” tidak berarti tidak bisa menjadi sumber berkat bagi sesama. Sedangkan “besar”, tidak berarti tidak membutuhkan bantuan pihak lain.

Cerita ini seakan merangkum perjalanan pelayanan Mgr. Petrus Boddeng Timang.

Salah satu penulis, Marselius Rombe Baan,  mengungkapkan, Mgr. Petrus Boddeng Timang adalah sosok yang cerdas, pintar, dan punya visi yang jelas. Kesederhanaan, lanjut Marcelius, menjadi warna yang langsung dapat ditangkap dari sosok uskup.

Sementara, Rektor UIN Antasari Banjarmasin, H. Mujiburrahman mengatakan, dokumentasi hidup Mgr. Piet Timang memberikan kontribusi dan sumbangan yang berarti bagi kemajuan suatu masyarakat.

Misa syukur bersama Mgr. AM Sutrisnaatmaka MSF dan Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF dan puluhan imam lainnya.

Kegiatan lainnya

Ada berbagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka memeriahkan peringatan ini.

  • Pemberkatan Gereja Katolik St. Gregorius Agung Gendang dan Paroki St. Vincensius a Paulo Batulicin, Minggu, 7 Oktober 2018.
  • Temu akbar pemimpin umat Keuskupan Banjarmasin di Aula Sasana Sehati, Sabtu, 13 Oktober 2018.

Pertemuan sehari ini juga menghadirkan pembicara Sekretaris Eksekutif Komisi Karya Misioner Konferensi Waligereja Indonesia Pastor Markus Nur Widipranoto dan Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Banjarmasin Pastor Antonius Bambang Doso Susanto.

Tema yang diusung adalah “Pergi Jugalah Kamu ke Kebun Anggurku” (Matius 20:4a). Perikop ini mengingatkan para pengurus dewan pastoral paroki harian, ketua wilayah, ketua stasi, dan ketua komunitas akan tugas mereka sebagai ujung tombak kegiatan pastoral.

Mereka diharapkan semakin terlibat dan bersemangat dalam tugas pelayanan. Lewat pertemuan ini, mereka mendapatkan bekal sebagai pemimpin umat dan menjalin persaudaraan dalam tugas dan karya.

Berbagai rangkaian perayaan sukacita ini dipuncaki dengan Misa Syukur HUT ke-80 Keuskupan Banjarmasin di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin, Minggu, 14 Oktober 2018.

Misa yang dipimpin Mgr. Petrus Boddeng  Timang ini juga dihadiri oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Samarinda Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF dan Uskup Keuskupan Palangka Raya Mgr. AM Sutrisnaatmaka MSF, serta puluhan imam dari berbagai tarekat.

Perluasan Keuskupan

Dalam homilinya, Mgr. Petrus Boddeng Timang mengajak seluruh umat untuk selalu siap sedia menghadapi segala tantangan sesudah 80 tahun.

“Dalam usianya yang ke-80 tahun, keuskupan ini sudah mempunyai tiga ‘anak’. Keuskupan Agung Samarinda adalah ‘anak’ pertama yang lahir pada bulan April 1955,” ungkapnya.

“Kemudian lahirlah ‘anak’ kedua yaitu Keuskupan Palangka Raya pada tahun 1993 yang pada tanggal 21-22 Oktober 2018 genap merayakan pesta 25 tahun. Selanjutnya lahir pula Keuskupan Tanjung Selor,” terang Mgr. Petrus Boddeng Timang.

Menurut Mgr. Piet Timang, dari segi usia, Keuskupan Banjarmasin sudah sukses, namun masih ada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh seluruh komponen umat di Keuskupan ini.

“Apakah yang sudah kita berikan kepada Tuhan dan masyarakat seturut apa yang disampaikan dalam Arah Dasar Keuskupan Banjarmasin? Apakah kita sudah rela untuk memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki sebagai tanda syukur kepada Allah?” ujarnya.

Kredit foto: Dionisius Agus Puguh Santosa, Suster Yosse PBHK.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here