Cerpen : Ibu, Sobeklah Aku!

0
3,203 views

ibuSenja itu, Rina seorang diri. Duduk di bawah pepohonan dan keningnya berkerut, batinnya berlari serta pikirannya berteriak. Dia melihat sekumpulan awan yang sedang berterbangan ke sana ke mari, dalam menyambut sang ratu-nya untuk kembali ke peraduannya. Tampak dedaunan pepohonan sekali-kali menyapanya, dengan cara berguguran dari ranting. Perlahan pula, dedaunan itu berguguran ibarat ditembak musuh dari seberang. Suasana udara di senja itu pun, sangat melankolis. Walau pun keningnya berkerut, Rina tidak terbawa emosi. Batinnya terasa dingin. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Dimana, bila Rina sedang dihadapi suatu problem, batinnya meraung-raung dan siap menerkam apa saja bila dilihat dan didengarnya. Bahkan tubuhnya sendiri, pernah disobeki dengan tangannya. Namun, tubuhnya tak sampai berluka.

Pernah suatu ketika, ketika ibunya diomelin tetangga sebelahan rumahnya yang juga masih mempunyai tali pusar dalam rumpun keluarga besarnya, Rina yang sedang berbaring di tikar, daun telinganya menangkap beribu-ribu kalimat yang ditujukan kepada ibunya. Rina beranjak bangun dari pembaringannya dan menuju ke arah ibunya untuk memastikan dari dekat, apa yang sedang dipertontonkan tetangganya itu terhadap ibunya. Rina berusaha menahan kadar amarah, yang perlahan menggigit ubun-ubunnya. Tarikan napasnya tidak beraturan lagi, bak orang gila yang diganggu ke-gila-annya oleh orang normal. Denyut nadi bersama sekompi adrenalinnya beradu kekuatan, di dalam tubuhnya yang siap mematangkan hasil nanakan di tunggu perapian.

“Ibu, manusia siapakah yang mencerca dengan beragam anak kalimat yang sangat mengganggu tidurku?? Katakan!! Entah setan atau Tuhan sekali pun, aku ingin menghadapinya. Kita berasal dari debu tanah, dan tentunya akan kembali pula dalam bentuk tanah. Tanah itu adil. Tanah itu selalu siap dan kapan serta dimana saja, ketika kita dipanggil kembali ke “kandang”.   Aku tidak tega ibu diteriaki tetangga. Aku tidak tega melihat ubun-ubunku terbakar habis, hanya karena amarahnya “setan-setan” jalanan. Dan aku pun tidak akan membiarkan ibu hidup dan berkembang, dihimpit keserakahan “setan-setan” tersebut. Ibu, manusia siapakah yang mencerca dengan beragam anak sungai yang mulai mengaliri amarahku?? Katakan!!!

“Rina, anak Ibu yang baik hati. Tenangkan dirimu. Kuasailah amarahmu. Amarah adalah sebuah bentuk kediktatoran dalam membunuh diri dan masa depan. Amarah juga merupakan “pelacur-pelacur” kecil, yang saban hari mengganggu tangga pemikiran kita. Dewasa dan bijaklah dalam mendengar, melihat serta menyelesaikan setiap problem. Problem membuat kita semakin kaya akan cara-cara dalam menuntaskan problem itu sendiri. Ingat lho, setiap kita mempunyai problem yang telah terisi ke dalam perabotan rumah tangga. Dan tergantung kita-nya saja dalam mempergunakan perabotan tersebut. Masih dikuasai amarah??

“Masih!!” “Bersedia keluar dan berdamai dengan amarahmu itu?? Bersedia berdamai dengan dirimu, lingkungan serta orang-orang yang telah mencerca ibu dengan tidak sopan?? Bersediakah untuk kesemuanya itu??”

“Ibu, maafkan aku. Aku bukanlah malaikat. Aku juga bukanlah Tuhan Allah. Aku hanyalah sebagian dari sisa-sisa “sampah”, yang selalu kemasukan bau busuknya tetangga-tetangga itu. Aku bukan pohon, bila ditebas rantingnya hanya diam dan iklhas diperlakukan seperti itu. Aku bukan putik bunga, bila dihisap madunya oleh sekawanan lebah dan bisanya menangis. Aku bukan kertas, bila dipakai buat menulis secarik kata-kata cinta, hanya tersenyum sesaat. Aku bukan sapu tangan, bila dipakai mengeringkan lelehan keringat dan cuman mengiyakan saja. Namun dari itu, aku hanyalah semak belukar yang tumbuh, bernapas dan memakan. Bahkan, aku pun selalu dimakan ternak-ternak bila dilanda kelaparan sampai tidak meninggalkan sejejak pun, untuk dibuntuti ke manakah kaki-kakinya menorehkan luka yang belum disembuhkan dan telah bernanah bertahun-tahun. Sanggupkah ibu menyembuhkan kesemuanya itu, dengan sebotol betadine dan sepotong guntingan kain kasa?? Sanggupkah ibu mengembalikan ceceran-ceceran darah perawanku, yang pernah tertumpah di tanah ini karena dinaiki lelaki yang tidak bertanggung jawab itu?? Siapakah yang menjual perawanku kepada lelaki itu, demi melunasi hutang piutang?? Ibu, dekati dan sobeklah aku!”

(Felixianus Ali— Cerpenis, Penyair, Freelance dan Penulis buku 1.700 Kata-Kata Bijak dari A sampai Z. Asal Atambua, NTT. Saat ini, tinggal dan bekerja di Jakarta. Sabtu, 2 Maret 2013)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here