Dengan Nama Baptis, Kita Membawa Salib

0
341 views
Ilustrasi (ist)

TAHUN 2005, saya berkenalan dengan seorang Direktur Keuangan dari sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di kantor pusatnya di Kebayoran Baru, Jakarta. Pada kesempatan itu, saya tergelitik ingin tahu tentang kepanjangan huruf F di depan namanya yang terdiri dari dua kata itu.

Ia menjelaskan bahwa itu adalah singkatan dari nama baptis “Fransiskus Xaverius” yang tertulis hanya satu huruf “F” saja, karena terbatasnya tempat menulis nama di formulir pendaftaran mahasiswa ITB dulu. Maka susunan nama seperti itulah yang kemudian tertulis di ijazah dan terbawa resmi sampai sekarang.

Dengan atau tanpa nama baptis, yang jelas ia berhasil meniti karier di BUMN besar tadi hingga meraih posisi puncak dan strategis sebagai penanggungjawab keuangan. Bahkan tetap dipercaya pada posisi itu sejak akhir pemerintahan Presiden Soeharto, Habibie, Gus Dur, hingga pensiun pada masa Megawati. Orang Katolik, dalam banyak kesempatan, memang cukup dipercayai untuk menangani keuangan organisasi karena dianggap cermat mencatat, jujur, dan bertanggungjawab.

Unggul

Persekolahan Katolik yang dirintis oleh para misionaris dari Eropa dan tersebar di seluruh Indonesia sejak lama, memang sudah berbuah banyak dalam diri manusia Indonesia baru yang lebih menghargai kepentingan umum, terlihat dari sifat disiplin waktu, mengakui karya-pendapat dan kekayaan orang lain, serta mencintai alam ciptaan-Nya. Di samping tetap rendah hati, santun, rela berkorban, tulus melayani, bekerja sepenuh hati untuk hasil yang optimal, mengampuni, dsb.

Jumlah orang Katolik di Indonesia sekitar 3% (di samping Umat Kristen lainnya menjadi sekitar 7%), jumlah yang cukup banyak sejak dulu. Ada beberapa pahlawan nasional dari kalangan umat Katolik seperti Mgr. Albertus Soegijapranata, Yosaphat Sudarso, Ignatius Slamet Rijadi, Augustinus Adisutjipto, Ignatius Joseph Kasimo, dll.

Juga ada sejumlah pejabat tinggi seperti Frans Seda, Benny Moerdani, JB Soemarlin, Bernardus Sugiarta Muljana, Cosmas Batubara, Joseph Soedrajad Djiwandono, Jacob Nuwa Wea, Purnomo Yusgiantoro, Mari Pangestu, Nafsiah Mboi, Ignasius Jonan, Thomas Trikasih Lembong, dsb.

Dalam ranah publik, di lapangan olahraga misalnya, kita sering melihat pebulutangkis Susi Susanti, Jonatan “Jojo” Christie, atau petinju Chris John yang mensyukuri kemenangan mereka dengan membuat tanda salib dan terlihat jelas dalam siaran langsung televisi. Juga dalam aneka bidang kehidupan lainnya: pendidikan, keilmuan, bisnis dan industri, politik dan kebudayaan, dsb., selalu ada tokoh beragama Katolik yang berkiprah di situ.

Melalui nama-nama para tokoh publik seperti mereka itulah, di samping nama persekolahan, rumah sakit, dll., masyarakat Indonesia terbiasa dengan aneka nama baptis yang khas Katolik, yaitu nama-nama para martir dan orang kudus.

Membawa inspirasi

Setiap nama membawa semangat, teladan, dan inspirasi menjadi orang Katolik yang baik.

Orang Katolik memilih nama Santo-santa sebagai pelindung rohani sejak pembaptisan. Ada saja orang tua yang sudah memilihkan nama orang kudus itu sebagai nama resmi anaknya dan tertulis dalam Akte Lahir, bahkan sebelum pembaptisan.

Nama baptis itu menjadi salah satu penanda orang Katolik, selain tanda-tanda lainnya seperti rosario, kalung dengan salib Yesus, dan berdoa dengan tanda salib. Dengan salah satu penanda itu, orang akan sangat mudah menduga kalau seseorang itu beragama Katolik atau bukan.

Tanpa Rosario dan berdoa pun, seseorang dengan nama baptis itu sesungguhnya sudah membawa salib yang melekat dalam nama-nama orang kudus itu.

Dengan tanda-tanda lahiriah seperti itulah, orang Katolik mengimani dan menjalankan keyakinannya sehari-hari, apakah menjadi batu penjuru atau justru menjadi batu sandungan.

Tetap merasa bangga

Bapak F di atas, tanpa sengaja tetapi terpaksa, harus menyingkat nama baptisnya, dan kariernya baik-baik saja. Dalam contoh-contoh yang lain, banyak orang Katolik dengan nama baptis tetap dapat mengembangkan kariernya tanpa halangan yang berarti. Hal ini karena seseorang berkembang itu karena ketekunan dan usaha yang terus-menerus. Tentu saja didukung dengan doa kepada Tuhan dan devosi melalui pelindung rohaninya.

Dalam setiap misa, kita selalu memulai Doa Tobat yaitu mengaku kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

dan kepada saudara sekalian bahwa telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian, dst.

Dengan demikian, setiap orang Katolik selalu diingatkan akan dosa karena pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian, yang dibuat secara sengaja maupun tidak sengaja. Dengan Doa Tobat itulah, maka orang lain boleh berharap bahwa setiap orang Katolik secara maksimal akan menjaga tutur katanya dan hanya melakukan yang baik untuk orang lain.

Bertindak sesuai moralitas Kristiani

Kenyataannya, kita kerap “terjatuh” juga dengan melalaikan panggilan hidup Kristiani tadi, dan larut dalam perbuatan melawan hukum atau norma sosial, seperti pengkhianatan terhadap negara, melakukan tindak korupsi, kriminal, perdagangan obat terlarang/manusia, kekerasan dalam rumah tangga, ketidakadilan, dst.

Ketika ada seorang anggota pimpinan pusat partai politik baru-baru ini menyerukan boikot membayar pajak, masyarakat langsung terhenyak dan spontan mempersoalkan nama baptis yang melekat di depan namanya, sebelum memperkarakan ucapannya.

Karena nama baptis itu, dia jelas-jelas seorang Katolik, orang yang memilih seorang Santo yang agung sebagai teladan hidupnya, nama orang kudus yang juga dipilih banyak orang lain di seluruh dunia. Kita menghormati hak politik seseorang untuk berpendapat secara bebas, namun kita menyesalkan setiap pikiran, perkataan, perbuatan, atau kelalaian yang tidak patut terhadap pemerintahan yang sah.

Apalagi kalau orang itu mendasarkan ucapan melawan hukum itu berdasarkan kutipan dari Injil Matius 22:18-21.

Kita semua menghormati nama-nama orang kudus karena teladan dan hidup rohaninya untuk iman kepada Yesus.

Oleh karena itu, tidaklah elok kalau ada orang yang mengorbankan nama mulia para orang kudus itu untuk hal-hal yang tak sepantasnya. Juga dalam hal menggunakan singkatan seperti “Petrus” untuk penembakan misterius yang marak terjadi di Indonesia tahun 1990-an; atau “Markus” alias makelar kasus karena tata peradilan negeri ini yang korup di masa lalu. Maknanya bergeser terlalu jauh dan tujuannya sangat melecehkan nama para kudus itu.

Mari kita membaca kembali riwayat hidup para orang kudus yang menjadi pelindung rohani kita, merenungkan teladan dan inspirasinya. Marilah kita menjadi batu penjuru, bukan batu sandungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here