Di Gereja St. Petrus Paroki Pekalongan: Persaudaraan dalam Kasih Allah

0
148 views
Gereja Santo Petrus - Paroki Pekalongan. (ME Soesiati/WKRI Paroki Pekalongan)

HUJAN deras tidak menyurutkan tekad umat Paroki St Petrus Pekalongan untuk hadir dalam Misa Syukur Perayaan Imlek pada Jumat, 18 Februari 2019 bulan lalu. Hal itu terbukti dengan penuhnya kursi di ruangan gedung gereja dan aula oleh umat.

Dua kali miisa inkulturasi

Sudah menjadi tradisi di Paroki St Petrus Pekalongan untuk merayakan Misa Syukur Inkulturasi dalam setahun, yaitu Misa Imlek dan Misa Suro.

Misa Syukur Perayaan Imlek tahun ini mengambil tema “Persaudaraan dalam Kasih Allah”. Acara misa yang dimulai pada pukul 17.00 WIB dilanjutkan dengan acara makan malam bersama seluruh umat dan pertunjukan kesenian barongsai dan berakhir pada pukul 21.00 WIB.

Kasih yang mengikat persaudaraan

Romo Martinus Maryoto Pr dalam homilinya menyampaikan bahwa masyarakat Tionghoa sudah sejak sebelum Confusius selalu merayakan pesta menyambut musim semi yang kini lebih dikenal dengan Pesta Tahun Baru Imlek. Ini karena bersamaan dengan dimulainya tahun baru Kalender Tinghoa.

Keluarga merayakannya dengan berkumpul dan makan bersama. Berbagi rezeki dengan membagi angpau dilakukan dalam kasih persaudaraan.

Ajaran tentang kasih persaudaraan ini rupa-rupanya sejalan dengan yang diajarkan Yesus Kristus.

Dalam Perjamuan Malam Terakhir, Yesus mengajak para murid berkumpul santap malam bersama dan meunjukkan keteladanannya dalam mengasihi sesama.

Kalender Tionghoa

Sejak tanggal 5 Februari 2019 yang lalu,  Kalender Tionghoa telah memasuki tahun baru yaitu 1 Cia Gwee 2570 yang ditengarai dengan Tahun Babi Tanah.

Tahun Baru Imlek sebagai Perayaan Musim Semi di Tiongkok selalu jatuh pada bulan Januari-Februari, padahal Kalender Tionghoa adalah kalender yang berdasarkan peredaran bulan.

Setiap bulan membutuhkan waktu 29 atau 30 hari, sehingga satu tahun chandra (Kalender Bulan) = 354 hari.

Untuk menyesuaikan agar Tahun Baru bertepatan dengan datangnya musim semi, maka setiap tiga tahun akan ada satu bulan yang dimundurkan (lun gwee). Maka yang terjadi kemudian, jika setiap tahunnya Tahun baru Imlek maju 11 hari dibanding Kalender Nasional kita (Kalender Matahari, 1 tahun = 365 hari), pada tahun ketiga dimundurkan satu bulan.

Itulah sebabnya, Tahun Baru Imlek selalu jatuh antara bulan Januari-Februari, bertepatan dengan tibanya musim semi di Tiongkok dan belahan Bumi Utara umumnya. Sementara itu di Indonesia sedang memasuki musim hujan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here