Kepada Paus di Vatikan: “Saya Muslimah dari Indonesia,” Kata Dewi, Penggiat Komunitas GusDurian Semarang

4
9,187 views
Untuk kesekian kalinya terjadi perjumpaan pribadi antara Dewi dengan Paus Fransiskus di Vatikan. Dewi adalah penggiat Komunitas GusDurian dari Semarang yang selama Februari-Juni 2019 mengikuti program studi beasiswa dari Nostra Aetate Fondazione PCID. (Dok. Dewi)

INI untuk kesekian kalinya Dewi Kartika, perempuan muda Muslimah asal Semarang dan penggiat Komunitas GusDurian dari Ibukota Jateng bisa bertemu muka dengan Paus Fransiskus.

Tempatnya kejadiannya pun juga “bergengsi” di Vatikan. Terlebih lagi, perjumpaan-perjumpaan personal itu juga terjadi pada beberapa kesempatan berbeda. Namun, bagi perempuan muda Muslimah yang aslinya berasal dari Wonogiri, Jateng ini, masing-masing perjumpaan itu punya nilai historisnya sendiri-sendiri.

Yang jelas, kata Dewi, semua itu telah “membuka mata hatinya”, selain juga amat membekas dalam di lubuk sanubarinya dan amat mengesankan

Pra Sinode Orang Muda Sedunia di Vatikan

Pertemuan pertama terjadi pada waktu berlangsung acara Pra Sinode Orang Muda Sedunia di Vatikan, Maret 2018 lalu.

Dewi yang membawa nama diri sejak lahir sebagai Dewi Kartika Maharani Praswida itu bisa datang melihat Vatikan dan akhirnya bisa bertemu langsung dengan Paus Fransiskus karena satu hal. Yakni, dia ikut serta dalam rombongan delegasi utusan OMK Indonesia utusan resmi Komisi Kepemudaan KWI untuk datang mengikuti Pra Sinode Orang Muda Katolik Sedunia di Vatikan.

Dewi bertemu Paus Fransiskus untuk pertama kalinya di forum Pra Sinode Orang Muda Katolik Sedunia di Vatikan, Maret 2018. (Dok. Dewi)

Waktu Maret 2018 lalu, Dewi datang bersama dua utusan Indonesia lainnya yang keduanya Katolik. Hanya Dewi saja yang bukan Katolik.

Dan betapa bahagianya Dewi, ketika dia didapuk Komisi Kepemudaan KWI boleh ikut pertemuan OMK Sedunia bersama Paus di mana di antara raturan OMK dari seluruh dunia, hanya dia menjadi satu-satunya perempuan Muslimah dengan memakai jilbab di forum itu dan itu pun dari Indonesia.

“Di forum Pra Sinode Orang Muda Sedunia di Vatikan itu, ada dua perempuan muda Muslimah yang diundang datang. Saya dan satu lainya dari Libanon. Namun, teman Muslimah dari Timur Tengah itu malah tidak berjilbab. Hanya saya saja yang mengenakan jilbab,” papar Dewi kepada Sesawi.Net.

Waktu itu dan kepada forum, Dewi sempat menggugat dan “bertanya” kepada Vatikan: Mengapa dia yang bukan Katolik kok malah diundang datang ke forum Pra Sinode Orang Muda Katolik Sedunia?

Jawaban Vatikan malah lebih mencengangkan Dewi.

Justru karena Dewi seorang Muslimah dan datang dari Indonesia –negara Islam terbesar dengan mayoritas Umat Muslim yang moderat dan toleran– maka kehadirannya di forum Pra Sinode Orang Muda Katolik Sedunia itu menjadi sangat signifikan.

“Gereja Katolik Sedunia ingin tahu bagaimana orang-orang di luar Gereja melihat Gereja Katolik,” begitu kurang lebih intensi undangan untuk Dewi.

Selama mengalami atmosfir “pergaulan” di kancah forum pertemuan Orang Muda Katolik Sedunia itu, Dewi merasakan kehangatan sebagai “sesama manusia” yang dihargai dan dihormati keberadaannya meskipun –kata Dewi– “dalam banyak hal, saya tetap berbeda dengan mayoritas peserta forum.”

“Namun, toh saya tetap merasa aman dan nyaman. Begitu pula, mereka tetap bersikap akrab dan menghormati aneka perbedaan yang melekat dalam diri saya, terlebih soal iman kepercayaan,” demikian papar Dewi waktu itu.

Pengalaman berada di tengah “komunitas iman yang berbeda” dan persis di “jantung ke-Katolik-an” Sedunia itu sangat membekas dalam-dalam di hati Dewi.

Sampai sekarang.

Dewi bersalaman dengan Paus Fransiskus saat berlangsung audiensi umum di Vatikan, tanggal 26 Juni 2019. (Dok. Dewi)

Bersaksi di hadapan OMK

Apalagi setelah kembali ke Indonesia, Dewi lagi-lagi masih “disapa” KWI dan juga kembali dilibatkan oleh Komisi Kepemudaan KWI untuk “bersaksi” bersama Ketua Komisi Kepemudaan KWI Mgr. Pius Riana Prapdi dari Keuskupan Ketapang di Kalbar. Peristiwa “sharing iman” dan bagi-bagi kisah dan cerita kepada segenap OMK itu berlangsung di Kampus Unika Atma Jaya di Jakarta.

Bersama peserta Pra Sinode Orang Muda Katolik Sedunia di Vatikan yang Katolik, Dewi didapuk berkisah juga tentang pengalamannya mengikuti forum pertemuan OMK Sedunia di Pusat ke-Katolikan- Sejagat itu di Vatikan.

Perasaan Dewi semakin membuncah ria dalam semangat, ketika tiba-tiba datang lagi sebuah “keberuntungan” lain yang kembali “menjawil” alumnus Universitas Negeri Unika Semarang ini.

Beasiswa dari Vatikan

Keberuntungan ketiga itu mampir “menyapa” Dewi. Pada bulan Februari-Juni 2019, dia mendapat kesempatan langka karena diundang Vatikan melalui Nostra Aetate Fondazione untuk belajar “sesuatu” di Roma; tepatnya di Universitas Angelicum dan PISAI (Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies) — keduanya di Roma.

Sponsor program studi beasiswa ini datang dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID). “Persisnya, saya mendapat program studi beasiswa untuk bisa belajar di Roma dari Nostra Aetate Fondatione di PCID,” jelas Dewi.

Belajar ke-Katolik-an

Dewi telah mendapat kesempatan emas bisa bertemu Paus Fransiskus di Pra Sinode Orang Muda Sedunia di Vatikan, kemudian menerima beasiswa dari Nostra Aetate Fondazione, dan kemudian bergaul dengan banyak orang Katolik di Vatikan, Roma dan di banyak kota lainnya di Italia.

Meski demikian, Dewi tetap merasa diri nyaman sebagai seorang perempuan muda Muslimah yang di banyak kesempatan mau tak mau mesti bergaul dengan komunitas non Islami, baik di Indonesia dan juga di tataran internasional — utamanya di Vatikan antara lain bersama Komunitas IRRIKA Italia.

Bahkan dalam beberapa kesempatan di Italia, Dewi juga ikut melibatkan diri dalam berbagai acara Komunitas IRRIKA Italia, termasuk mengikuti program berziarah di lokasi-lokasi ziarek Katolik di Italia.

“Justru asyik dan merasa nyaman, ketika saya dibuat menjadi tahu banyak hal tentang ke-Katolik-an,” paparnya.

Selama enam bulan studi di Angelicum dan PISAI di Roma, selain belajar tentang isu dialog antaragama, Dewi juga memanfaatkan kesempatan emas itu untuk belajar lebih mendalam lagi tentang Kristianitas, terutama ke-Katolik-an.

“Resminya dari Nostra Aetate itu saya didorong belajar tentang dialog antaragama. Namun, saya juga merasa tertarik ingin belajar bidang lain. Karena itu, saya juga ambil mata kuliah tentang ke-Katolik-an,” papar Dewi renyah.

Kepada Paus katakan: “Saya Muslimah dari Indonesia.”

Nah, sebelum nantinya pulang “mudik” ke Indonesia dan kembali meneruskan program studinya S-2 di Unika Soegijapranata Semarang, Dewi kembali lagi boleh bertemu dengan Paus Fransiskus di Vatikan pada tanggal 26 Juni 2019.

“Peristiwanya itu terjadi ketika berlangsung audiensi umum. Duuh senangnya, saya bisa kembali berjumpa beliau dan boleh ngobrol sedikit,” papar Dewi.

Kepada Sri Paus Fransiskus yang di mata Dewi menampilkan sosok seorang Pemimpin Gereja Katolik yang tidak jaim, namun berpembawaan diri yang sangat hangat disertai kewibawaan personal yang mempesoan itu, Dewi menyampaikan kepada beliau pesan pribadi sebagai berikut:

“Saya seorang Muslimah dari Indonesia,” kata Dewi kepada Sesawi.Net, ketika dia “punya” beberapa menit untuk bisa ngobrol langsung berhadapan muka dengan Sri Paus.

Jawab Paus kepadanya. “Oh… baik. Saya ingin mendoakan Anda,” kata Paus sebagaimana ditirukan Dewi kepada Sesawi.Net di hari Kamis malam tanggal 27 Juni 2019.

4 COMMENTS

    • selamat datang dan terima kasih sudah menengok web portal berita besutan dan diampu para mantan Jesuit Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here