Bintang RI untuk Dua Pastor Jesuit: Franz Magnis-Suseno SJ dan alm. Piet Zoetmulder SJ

1
2,431 views

PADA hari Kamis tanggal 13 Agustus 2015, Pemerintah RI menganugerahi dua bintang penghargaan bagi dua pastor Jesuit moncer yang dianggap berjasa bagi bangsa Indonesia. Kedua pastor Jesuit moncer itu adalah alm. Pastor Prof. Dr. Petrus “Piet” Josephus Zoetmulder SJ (1906-1995) dan Pastor Franz Magnis-Suseno SJ.

Alm. Pastor Zoet –demikian begawan untuk studi sastra Jawa klasik ini biasa dipanggil– dianggap berjasa atas karya intelektualnya yang cemerlang dengan menulis kamus Bahasa Jawa Kuna dalam dua edisi: Bahasa Inggris (1982) dan Bahasa Indonesia (1995). Pastor Zoet juga menulis buku masterpiece tentang sastra Jawa yakni Kalangwan.

Diutus sebagai misionaris ke Tanah Jawa masih sebagai novis Jesuit, Pater Zoet melanjutkan studinya di Yogyakarta dan kemudian kuliah di Universitas Leiden atas saran Pastor J. Willekens SJ yang kelak menjadi Uskup Batavia.

Usai mendapatkan gelar doktor bidang Sastra Jawa Klasik di Universitas Leiden di Belanda (1935), Romo Zoet langsung melanjutkan studi imamatnya di Maastrict. Sebagai Jesuit, ia menjalani masa tersiatnya di Belgia.

Ia kembali ke Tanah Jawa dengan lika-liku perjalanan yang menegangkan karena saat itu Eropa mulai dikuasai oleh ekspansi Nazi Jerman. Ia mesti mengungsi ke Perancis dan kemudian ke Inggris dan selanjutnya naik kapal menuju Indonesia melalui Hong Kong. Salah satu teman perjalanannya meninggal dunia ketika hendak naik kapal namun kemudian kapal itu ditorpedo oleh Angkatan Laut Nazi Jerman.

Sepanjang hayatnya, Pater Zoet mengajar Sastra Jawa Klasik di UGM sampai pensiun. Pater Zoet meninggal dunia di Yogyakarta dan dimakamkan di kerkop Muntilan.

father magnis-suseno sjPater Franz Magnis-Suseno menerima penghargaan dari Pemerintahan RI atas jasanya ikut ‘mencerahkan’ alam pikir bangsa Indonesia melalui karya-karya intelektualnya yang dipublikasi melalui buku dan esainya di media massa. Lahir di sebuah kota kecil yang kini menjadi bagian Polandia, Romo Magnis –demikian bangsawan Jerman ini biasa dikenal oleh masyarakat Indonesia– mengawali hidupnya sebagai misionaris ketika sebagai Jesuit muda diutus ke tanah misi: Jawa.

Pastor Jesuit yang suka nonton wayang dan banyak menulis essai tentang etika umum, etika politik dan filsafat ini ikut berjasa membesarkan STF Driyarkara Jakarta –tempatnya mengajar sejak muda hingga sekarang.

Tahun 2007, Romo Magnis dengan gagah berani menolak pemberian Bakrie Award karena merasa penghargaan itu bertentangan dengan suara hatinya. Langkah penolakan ini kemudian diikuti oleh banyak penerima Bakrie Award lainnya yang kemudian mengambil sikap sama: menolak penghargaan award ini.

Menjawab Sesawi.Net, pastor Jesuit ahli Marxisme, Etika Umum dan Etika Politik ini mengatakan: “Pekan lalu saya diberitahu bahwa saya diusulkan oleh Menteri Pendidikan Nasional bersama delapan orang lainnya –tujuh di antaranya sudah meninggal dunia– untuk menerima bintang penghargaan ini.  Saya merasa terhormat dengan penghargaan ini yakni Bintang Mahaputera yang saya juga baru dengar setelah menerima pemberitahuan dari Sekretariat Negara hari ini (baca; Rabu, tanggal 12 Agustus 2015 kemarin).”

Ia kemudian melanjutkan, “terutama juga bahwa orang yang kadang-kadang mengritik pun juga mereka hargai.”

Kredit foto: Ist

 

 

 

 

1 COMMENT

  1. Kenapa kata mencerahkan ada di antara tanda kutip? Karena Romo Magnis benar-benar mencerahkan, bukan seolah-olah, seharusnya kata ini tidak dalam tanda kutip.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here