Dua Dunia Anne Avantie untuk Sukses (2)

1
1,971 views

HIDUP di dua dunia yang berbeda. Inilah yang dilakoni desainer kondang spesialis kebaya Anne Avantie.

Satu sisi kehidupannya adalah dunia panggung yang sangat gemerlap, penuh glamor, banyak decak kagum. Derai tempik sorak selalu datang membahana, setiap kali pergelaran busana nyaris rampung. Di atas pentas bernama panggung catwalk itu, Anne Avantie selalu dikerumuni komunitas fashionista, pecinta mode, selebriti, artis, dan tentu saja juga orang kaya.

Semua itu telah membuka peluang Anne Avantie bisa mendulang popularitas yang juga kian mendongkrak laju bisnis jualan desain kebayanya. Inti kata, inilah dunia penuh warna disertai banyak konsolasi alias penghiburan yang sarat memanjakan perasaan dan harga diri.

“Padahal, resminya saya ini hanya lulusan SMP. Saya harus drop out sekolah, ketika baru duduk di kelas 2 SMA,” kata berterus terang.

Sementara, sisi lainnya adalah dunia batin yang terpuruk, gelap, banyak onak, kekelaman penuh dendam dan sakit hati. Namun, di ujung perjalanan waktu selama 25 tahun yang sarat pengalaman desolasi ini, di ujung akhir cerita lalu tersembul harta nilai rohani yang besar: semangat besar untuk berbuat kebaikan bagi sesama.

Temuan diri dan harta rohani inilah yang akhirnya mengubah semangat hidupnya. Kalau dulu sering menjalani hari-hari kekeringan batin layaknya berjalan meniti perjalanan jauh di padang gurun, maka sekarang desolasi lalu berubah menjadi konsolasi.

Kontradiktif
Dalam satu hentakan nafas, hidup Anne Avantie masuk dalam dua pusaran kiblat dunia yang berbeda dan saling kontradiktif.

Presdir PT Sido Muncul Irwan Hidayat: Mau Sukses, Ingatlah Ibu dan Tuhan (1)

Menghirup nafas sosial penuh glamor di atas panggung catwalk telah menghadiahi Anne Avantie perasaan suka cita besar, karena didaulat masyarakat fashionista sebagai orang penting di jagad fashion Indonesia. Namun, pada banyak kesempatan lain, ia justru menikmati hari-harinya dengan kegiatan yang sama sekali ‘bertolak belakang’ dengan kehidupannya sebagai perancang busana.

Alih-alih hidup di tengah keramaian, Anne Avantie justru sering ‘menyendiri’ untuk berdoa, bertenang diri, berefleksi ‘duduk-bersama-dengan’ Tuhan untuk kemudian bisa menata hati dan pikiran. Itulah jeda waktu sangat penting, demikian penegasan Anne Avantie, ketika dia merasa perlu harus selalu menimba ‘energi jiwa’ untuk mengelola hidupnya agar semakin berguna untuk orang lain.

Itulah sebabnya, ketika keluar dari khalayak ramai untuk menjadi pemandu acara program penggalangan dana, Anne Avantie tidak ingin menjadi pusat perhatian. Tak seperti lazimnya pergelaran busana, pada episode acara penggalangan dana awal Oktober 2015 lalu di kawasan Tangerang Selatan itu, Anne Avanti keluar dari ‘kegelapan’ antah berantah.

Berjalan perlahan menuju panggung dari sisi penonton, Anne Avantie datang membawa diri sembari melantunkan lagu-lagu rohani dan madah pujian. Di sela-sela itu ditampilkan gambar-gambar visual yang menampilan sosok religius Anne Avantie yang duduk terpekur khusuk bersembahyang di bangku Gereja Katedral Semarang.

Kali lain, tampil Anne Avantie datang menyapa orang sakit. Berikutnya, ia mendaratkan kecupan sayang di dahi anak-anak malang penderita penyakit hydrochepalus dari kaum papa yang kini dia rawat agar hidup layak dan bermartabat sebagai manusia.

Anne Avantie (219)
Pergelaran busana Anne Avantie di sebuah mal besar di Jakarta Selatan tahun 2014 (Courtesy of Mardisudomo)

Dua dunia
“Saya hidup di dua dunia yang sangat kontradiktif,” katanya memulai sharing imannya.

Dunia gemerlap fashion telah memberinya panggung sangat terhormat. Namun, banyak orang tidak tahu bahwa di balik semua kegemerlapan itu, separuh hidupnya adalah kelam. Tanpa sungkan pada sesi sharing tersebut, Anne Avantie membuka ‘rahasia’ sejarah hidup pribadinya sendiri: di balik panggung gemerlap itu ada sejarah hidup yang dikuasai rasa sakit hati. Sebagai perempuan, ia mengaku pernah gagal membina hidup rumah tangga. Perkawinan kandas dan berujung pada perpisahan.

Kekelaman juga terjadi dalam usaha merintis usaha jahit. Rumah kerjanya di Solo luluh lantak rata dengan tanah karena amuk massa kerusuhan rasial saat terjadi geger politik tahun 1998. “Satu-satunya dapur kerja saya habis dibakar massa yang beringas,” katanya melanjutkan sharing imannya.

Sejak itu, Anne Avantie memutuskan meninggalkan Solo dan pindah merintis hidup baru di Semarang –tempat kelahirannya– hingga saat ini.

Anne Avantie terharu menerima pujian dan decak kagum setiap kali peragaan busananya berakhir dengan sukses besar. (Courtesy of Anne Avantie Net)

Peran ibu dan doa
Sukses sebagai desain spesialis kebaya, kata Anne Avantie, tak bisa dia pisahkan dari peran penting sosok ibu kandungnya. Pada episode malam penggalangan dana itu, ia dengan tegas menyebut ibu dan doa sebagai dua hal penting yang telah membuatnya punya daya juang tinggi melibas semua hambatan dan menaklukkan badai tantangan.

Karena selalu mendapat dukungan besar dari mamanya, Anne Avantie mengaku ‘kuat’ menahan derita hidup sebagai perempuan dan istri. Setiap kali ada masalah, katanya terus-terang, dia selalu teringat ibunya dan datang sowan menemui mamanya minta nasehat. Barulah kemudian, ia kembali merajut niat dan semangat hidup baru melalui banyak berdoa.

Melalui doa dan khalwat itulah, Anne Avantie mengaku banyak bersentuhan dengan Gereja Katolik dimana ia kemudian mendapatkan peneguhan iman. Syukurlah, kata dia, perkawinan kedua akhirnya mampu memberinya ruang bahagia. Suaminya bisa menjadi pasangan hidup baginya dan berlaku sebagai ayah yang baik bagi ketiga anaknya.

Dari sosok ibunya yang teramat sabar, berperilaku sebagai pendengar yang baik dan murah hati, Anne Avantie mendapat sokongan semangat dan kegigihan. Dari banyak kali berkanjang dalam doa dan hari-hari berkhalwat, ia mengalami banyak penghiburan rohani dan peneguhan.

Di situlah, kata Anne Avantie, dirinya lalu merasa dimampukan untuk mengolah sejarah hidupnya. “Kalau dulu diwarnai pengalaman hati yang sakit, kini –berkat mama dan doa—saya ingin memberi kasih kepada mereka yang pernah menyakiti saya. Sudah menjadi komitmen pribadi saya, hidup saya untuk Tuhan dan masyarakat telantar, terutama anak-anak penderita penyakit hydrochepalus,” katanya mantab.

Berhentikah sampai di situ? Tentu saja tidak.

anne-avantie-foto-profil
Setelah 25 tahun merintis hidup penuh perjuangan, kini sukses Anne Avantie berlanjut dengan berbuat banyak kebaikan demi Tuhan dan sesama. (Courtesy of Anne Avantie Net)

Kini, usai 25 tahun merenda sukses sebagai perancang busana dan penggerak kegiatan filantropis, Anne Avantie mengaku diri kini lebih dekat dengan Tuhan. Ia juga ingin bisa berbuat banyak untuk Tuhan dan masyarakat. Utamanya, melalui gerakan filantropis, ia ingin memberi harapan hidup layak dan bermartabat bagi anak-anak miskin penderita ‘busung kepala’.

Dua dunia Anne Avantie akhirnya membawa dia pada satu kesimpulan. Yakni, hidup selalu berserah pada Tuhan dan mengabdi pada sesama demi keluhuran martabat manusia; utamanya yang sakit dan menderita. Ia mengaku sudah mendapat berkah banyak dari Tuhan. Kini saatnya, kata dia, bisa menjadi saluran berkat bagi sesama.

Kredit foto: Anneavantie.net dan Mardisudomo.

1 COMMENT

  1. inspirasi yang luar biasa. semoga kisah ini menyentuh hati para pembacanya dan memberi pencerahan: berserah pada Tuhan dan mengabdi pada sesama demi keluhuran martabat manusia.

    tfs pak mathias.

Leave a Reply to teha sugiyo Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here