Eksekese Orang Pedalaman: Pintu yang Sempit, Mt 7:6.12-14

0
83 views
Ilustrasi: Candi Cetho. (Ist)

SAYA pernah ke Candi Ceto di Karangnyar, Jawa Tengah. Posisi Candi Ceto berada di atas bukit.

“Ceto” adalah bahasa Jawa. Bila diartikan kedalam bahasa Indonesia, “Ceto” diartikan sebagai “itu yang benar” atau jelas. Kalau masyarakat Jawa bilang, “lakumu nggak ceto”. Itu berarti perilakumu nggak benar.

Pilihan kata “ceto” yang dijadikan nama candi ini, barangkali berkaitan dengan lukisan perziarahan hidup rohani manusia menuju “kecetoan” atau kebenaran. Jadi, Candi Ceto adalah representasi dari spritualitas manusia dalam meraih “kecetoan”.

Namun, yang menjadi pertanyaan, seperti apa jalan menuju “kecetoan”.

Jalan menuju “kecetoan” adalah jalan mendaki yang penuh rintangan melewati tikungan sempit dan lereng bukit yang curam.

Setiba di Candi Ceto, orang akan melewati tangga yang tinggi untuk melewati pintu Candi Ceto. Ada 7 pintu dan semua lurus dari pintu pertama sampai yang terakhir. Pintu-pintunya, memiliki ukuran yang bervariasi.

Pintu yang pertama bisa masuk 10 orang, yang kedua, cuma 2 orang, yang ketiga cuma bisa masuk 1 orang dan yang paling terakhir cuma orang kurus yang bisa masuk, karena pintunya sangat sempit sekali.

Badan saya tidak bisa masuk ke situ. Lantas saya bertanya pada seorang Pendeta Hindu yang bertugas di situ, “Mengapa pintu yang terakir ini dibuat sangat sempit”?.

Dia menjawab, di pintu ini, dirancang bukan untuk memasukan tubuh fisik, tetapi dibuat untuk memasukan jiwa yang bersih. Orang yang bisa masuk ke sini, hanya mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Di sini tempat nirwana, sakral dan suci”.

Kata-kata bertuah dari guru spiritual ini, mengingatkan saya pada kosa kata Yesus soal jalan menuju kehidupan yang melewati jalan sempit.

Bahkan kata-Nya, tidak cuma jalannya yang sempit, tetapi pintu menuju ke arah sana juga sangat sempit. Siapa yang akan bisa melewati ke-jalan dan pintu yang sempit itu?

Dia bilang, “cuma sedikit orang yang bisa melewati jalan dan pintu yang sempit itu”.

Aku pun bertanya, Apakah aku termasuk dari yang Dia bilang cuma sedikit yang bisa masuk ke situ? entahlah…

Lagi-lagi Dia bilang, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu. Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” (Luk 13:24).

Rupanya, jalan kearah sana bukan jalan instan. Kita kesana, membutuhkan perjuangan. Persis seperti kata-kata bertuah dari guru spritual Hindu tadi.

Renungan: Apakah yang sedang aku perjuangkan di sini, sudah mengarah pada tujuan yang Yesus dan guru spritual Hindu maksud?

Tuhan memberkati.

Apau Kayan, 25.06.2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here