Gereja St. Petrus Paroki Pekalongan: Misa Inkulturasi 1 Suro 1952

1
329 views
Petugas Liturgi dalam busana Jawa. (ME Soesiati/Paroki Pekalongan)

CRAH agawé bubrah, rukun agawé sentosa.

Umat Paroki Santo Petrus Pekalongan merayakan Misa 1 Suro 1952 dengan tema “Crah agawé bubrah, rukun agawé sentosa” pada hari Selasa, 11 September 2018 di gereja paroki Jl. Blimbing 1 Pekalongan.

Misa Syukur 1 Suro sudah menjadi tradisi di Paroki Pekalongan,  selain Misa Imlek yang merupakan misa inkulturasi Katolik dengan budaya setempat. Pada perayaan misa berbahasa Jawa ini,  para iomo, petugas liturgi, dan sebagian besar umat yang hadir memakai busana adat Jawa. Tim paduan suara dengan diiringi gamelan, menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jawa yang diambil dari Kidung Adi. Misa berlangsung meriah dan dihadiri oleh kurang lebih 800 umat katolik.

Para imam konselebran Romo Martinus Ngarlan Pr dan Romo Martinus Maryoto Pr, keduanya imam Paroki Pekalongan.

Penthul & Tembem melawan Angkara Murka

Sebelum misa dimulai, diperagakan pula visualisasi Penthul dan Tembem, dua sahabat yang selalu bersama dalam suka dan duka. Dalam upaya memerangi kejahatan, tokoh Penthul selalu mendapatkan dukungan dari sahabatnya. Sebagai sahabat, Tembem selalu mendukung, menghibur, dan memberi semangat dalam keadaan yang bagaimanapun. Persahabatan keduanya melahirkan suatu kekuatan untuk memenangkan keangkara-murkaan.

Visualisasi persahabatan Penthul dan Tembem.

Satu dalam Perjamuan Kudus

Romo Martinus Ngarlan Pr, dalam homili berbahasa Jawa fasih, menyampaikan bahwa kejahatan selalu ada. Tapi persatuan dan kerjasama pasti dapat mengalahkannya.

Umat diimbau untuk selalu bersatu karena pada hakikatnya adalah satu setelah dipersatukan oleh Yesus Kristus sendiri. Peran yang berbeda tidak menyebabkan terpecah tapi justru untuk saling mendukung demi terbentuknya suatu kekuatan, karena perpecahan akan menyebabkan kelemahan.

Pergola Misa 1 Suro 1952 .

Akhirnya, Romo Ngarlan menambahkan bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk, tapi kita harus tetap bersatu mempertahankan NKRI.

Misa 1 Suro

Bulan Suro adalah bulan pertama Kalender Jawa yang merupakan kalender lunar dan dihitung berdasarkan peredaran bulan sinodis (1 tahun=354 hari). Sultan Agung Hanyokrokusumo menciptakan kalender tersebut pada tanggal 1 Suro Tahun Alip 1555 Saka. Saat itu bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah dan 8 juli 1933 Masehi. Bertepatan dengan tanggal 11 September 2018, Kalender Jawa mulai memasuki tahun 1952.

Hasil bumi perlambang berkat Allah.

Misa Inkulturasi itu sendiri adalah sejalan dengan yang pernah disampaikan oleh Paus Yohanes II dan dimuat dalam Liturgi Romawi & Inkulturasi (diterjemahkan Komisi Liturgi KWI tahun 2014) antara lain sebagai berikut: “Lewat inkulturasi, Gereja membuat injil menjelma dalam aneka kebudayaan, dan sekaligus memasukkan para bangsa dengan kebudayaan mereka ke dalam persekutuan Gereja sendiri.”

Bhisma gugur

Misa syukur yang dimulai pukul 18.00 WIB diakhiri dengan pemberkatan hasil bumi seperti padi, buah pisang, ketela pohon, dan sebagainya, yang kemudian boleh dibawa pulang umat agar menjadi berkah rezeki berkelimpahan. Acara dilanjutkan dengan potong tumpeng dan santap bubur suran bersama.

Di penghujung acara, disajikan melalui layar lebar, wayang kulit dengan lakon Bhisma Gugur.

8Pengantar nonton wayang dengan lakon Bhisma Gugur dalam Perang Bharata Yudha yang terjadi karena menolak perdamaian.

Menjawab pertanyaan, salah satu panitia Bapak St. Subiyanto mengatakan bahwa gugurnya Bhisma adalah lantaran Duryudana yang menolak perdamaian yang sebelumnya ditawarkan kepadanya.

“Itu adalah karena Duryudana yang keras kepala menolak perdamaian,” ungkapnya.

Pilihan lakon Bhisma Gugur dimaksudkan agar umat selalu mengedepankan hidup rukun dan damai di tengah masyarakat yang sangat heterogen demi persatuan dan kesatuan.

Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.

 

 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here