“Golden Job”, Kekerasan di Tengah Loyalitas kepada Tetua dalam Tradisi Ketimuran

0
97 views
Resensi film "Golden Job" (Ist)

DALAM tradisi filsafat Timur umpamanya saja yang berlaku di keluarga Tionghoa, loyalitas dan hormat tinggi kepada leluhur itu sangat penting. Bakti kepada orangtua atau mereka yang dianggap “senior” menjadi wajib hukumnya.

Ini juga berlaku bagi kelompok pemburu harta bersemangatkan “Robin Hood”. Kesetiaan mereka yang sosok yang disebut “Papa” membuat kelompok ini  tetap satu terikat pada komitmen untuk senantiasa loyal kepada “keluarga”.

Namun, itu tak terjadi sebagai hal yang gampang bagi satu anggotanya. Ia selalu dihantui rasa bersalah, ketika melakukan “kesalahan” untuk sesuatu tujuan yang sebenarnya dirancang dengan tujuan  “baik”. Tapi justru karena maksud yang baik ini tidak pernah bisa dia sampaikan secara baik pula, maka selalu saja ada salah paham di antara anggota kelompok ini.

Satu melawan semua. Semua melawan “satu” orang semata.

Konfilik batin yang sedemikian intens dan eksistensial ini baru mencungul di ujung akhir film bertitel Golden Job yang baru dirilis Sepember 2018.

Film ini sarat dengan adegan “kekerasan” dalam bentuk yang lebih subtil daripada hanya gebuk-gebukan penuh darah sebagaimana sering dipertontonkan sinema Hong Kong.

Golden Job lebih mengetengahkan kecanggihan menyadap, aksi berbalap mobil, kebut-kebutan di jalanan Montenegro.

Golden Job menarik karena ini menjadi ajang “reunian” bagi segenap bintang Hong Kong yang pernah meramaikan jagad perfilman dengan aksi laga mereka di  Young & Dangerous –film bertema kelompok Triad Hong Kong tahun 1990-an.

Namun dibanding dengan Young & Dangerous (1990), film laga anyar bertitel Golden Job lebih “halus” karena tidak banyak ceceran darah kemana-mana, selain malah tembak-menembak dan balapan mobil mewah di jalanan Montenegro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here