Gua Maria Bintauni: Aplasi untuk Nama Marga (2)

0
1,583 views

BEBERAPA abad kemudian, nama “Aplasi” ini lalu diabadikan menjadi nama sebuah marga bagi semua keturunan langsung Sang Penakluk. Seiring dengan perjalanan waktu yang begitu panjang, sekalian anak-cucu marga Aplasi hingga hari ini masih tinggal menetap di kampung  Bitauni dan kampung Oelolok. Keduanya terbilang masuk di wilayah Gereja Paroki Kiupukan.

Bitauni, tante Aplasi, dikabarkan juga tidak punya keturunan anak laki-laki.  Lantaran tidak ada penerus garis keturunan Bitauni dan tidak bisa mencantumkan nama marga bagi anak-cucunya, maka Aplasi kemudian sengaja menyebut lokasi sebuah permukiman baru dimana ia bersama rombongan penjelajah itu datang dan lalu memutuskan tinggal menetap di situ. Nama “Bintauni” diabadikan Aplasi guna mengenang bibinya.

Rumah pertama

Tak jauh dari lokasi permukiman baru dimana Aplasi dan para pengikutnya itu tinggal menetap di Desa Bintauni terdapat sebuah  sebuah kawasan perbukitan. Sebuah gua batu alam ada di bukit ini dan Aplasi bersama rombongan pengikutnya tertarik mendiami  gua alami ini sebagai “tempat tinggal sementara”.

Aplasi dan rombongannya juga memfungsikan gua batu alami ini sebagai benteng pertahanan dari kemungkinan mendapat serangan dari para suku yang telah ditaklukannya. Ia memilih gua batu alami ini lantaran posisinya yang sangat strategis.

Pintu gua yang merupakan akses penting untuk mencapai benteng pertahanan ini kelihatan dengan jelas dari kaki bukit bagian Utara. Namun, pintu ini tidak bisa dijangkau lantaran posisi lereng bukit yang berjurang terjal serta dipenuhi onak semak berduri.

Berbulan-bulan para suku penyerang serius membangun tenda-tenda penginapan di kaki bukti sembari menunggu saat tepat dimana Aplasi dan rombongannya akan kehabisan persediaan makanan dan air minum untuk kemudian mau menyerah kalah. Harapan itu ternyata berakhir dengan sia-sia, karena kelaparan dan penyerahan diri tanda kalah itu tak pernah terjadi.

Yang terjadi malah sebaliknya. Para suku penyerang ini justru mula dihinggapi rasa jenuh dan bosan yang memuncak karena terlalu berlama-lama menunggu momentum tepat untuk menyerang dan ternyata momentum itu tidak pernah datang. Mereka mulai mencemaskan kondisi persediaan makanan.

Pada saat-saat kritis seperti itulah, Aplasi dan para serdadu andalanya turun menyerang. Banyak pemimpin dari para suku penyerang berhasil ditawan, tetapi beberapa bulan kemudian, pasukan serdadu Aplasi malah mengantar kembali para tawanan ke wilayah suku mereka dan melakukan mufakat perdamaian sesuai pesan Tualasi, sapaan akrab Aplasi.

Kunci kemenangan Aplasi yang tidak diperhitungkan para suku penyerang adalah lorong rahasia yang menghubungkan gua induk tempat tinggal Aplasi dan pintu masuk di bagian Selatan bukit yang dijaga ketat oleh para serdadu pilihan. (Bersambung)

Prisco Virgo alias Romo FX Primus Djuki adalah putra asli daerah Bintauni; sekarang menjadi romo misionaris di Dili, Timor Leste.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here