Gua Maria Lawangsih: Kemurahan Hati Stasi Maria Fatima Paroki Nanggulan (4)

0
3,110 views

DARI mana asal-muasalnya Gua Maria Lawangsih, kalau bukan dari kemurahan hati umat Stasi Maria Fatima, Paroki Nanggulan?  Brosur sejarah singkat yang saya dapatkan di Gua Lawangsih dengan jelas memaparkan kisah iman berupa kebaikan dan kemurahan hati umat ini.

Ide pertama membangun sebuah lokasi devosional kepada Bunda Maria  sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1998. Digagas oleh alm. Warno Saputro dan Th. Supino –keduanya Ketua dan Wakil Dewan Stasi Maria Fatima—ide besar itu belakangan mendapat dukungan dari Pastur Paroki Nanggulan saat itu alm.Romo Ambrosius Adiwardoyo Pr.

Karena belum mendapatkan lokasi yang tepat,  gagasan mulia itu akhirnya direspon dengan membangun sebuah lokasi devosional di Bukit Pengilon tak jauh dari Kapel Stasi Maria Fatima dimana patung Bunda Maria berukuran mungil kemudian ditahtakan di situ.

Tahun 2003, dalam perjalanan waktu, lokasi paling ideal dimana ada gua alami sarang kelelawar itu akhirnya berhasil dibeli Th. Supina yang menggantikan alm.Warno Saputro sebagai Ketua Dewan Stasi. Bak gayung pun bersambut, ide besar itu mendapat respon positif dari Romo Ignasius Suka Walyana Pr dan Romo Slamet Riyadi Pr, keduanya  pastur Paroki Nanggulan.

Akhirnya, gagasan itu membulat menjadi sebuah gerakan pembangunan dan ini menjadi besar setelah turun tangan para donatur, termasuk Eric dari Jakarta. Proses kerja bakti yang dilakukan secara manual –di antaranya memecah bongkahan batu besar untuk membuka mulut gua—secara serentak dilakukan.

Mempertahankan nama aslinya

Sengaja mempertahankan kata Lawangsih, karena dalam bahasa Jawa kata “lawang” tiada lain adalah pintu; sementara kata “sih” berarti rahmat kasih, berkat. Dengan disepakatinya nama Lawangsih, maka lokasi devosional kepada Bunda Maria di Lawangsih ini diharapkan menjadi pintu, penyalur rahmat dan berkat kasih.

Berikut ini kami sampaikan semacam  kronologi sejarah munculnya Gua Maria Lawangsih di Stasi Maria Fatima, Paroki Nanggulan, Kulon Progo, DIY. 

  • 1988: Ide besar diungkapkan alm. Warno Saputro dan Th. Supino tentang keinginan membangun lokasi devosional di Stasi Maria Fatima;
  • 1990: Kegiatan jalan salib mudika Paroki Boro yang ditandai dengan pemancangan salib kayu pada 14 titik pemberhentian dari Gua Lawa ke Gunung Pengilon;
  • 1994: Gua Maria Pangiloning Leres diresmikan dengan pentahtaan patung Bunda Maria oleh romo Paroki Nanggulan yakni alm. Romo A. Adiwardoyo Pr dan Romo Fs. Suharto Widodo Pr;
  • 2000: Atas bantuan Romo Tri Wahyono Pr didirikanlah patung Yesus Kristus di lokasi Gua Maria Pangiloning Leres;
  • 2003: Lokasi Gua Lawa yang semula milik keluarga Sartowitono dibeli oleh Th. Supino yang kala itu menjadi Ketua Dewan Stasi Maria Fatima dan ide besar membangun sebuah lokasi devosional itu kembali bergulir meriah;
  • 13 Juli-24 Agustus 2008: Kegiatan persiapan berupa survei lokasi, pernyataan hibah kepada Paroki, kalkulasi dana;
  • 25 Agustus 2008: Pencangkulan pertama untuk meratakan lokasi dimulai;
  • 30 September 2008: Misa perdana menandai Bulan Rosario Oktober oleh Romo Ig. Slamet Riyanto Pr;
  • 30 September 2008: pentahtaan patung Bunda Maria dengan diawali prosesi iring-iringan dari Kapel Stasi Dukuh Maria Fatima ke Gua Lawangsih;
  • 1 Mei 2010: Pemasangan patung Yesus Kristus di Panti Semedi Gua Lawangsih oleh Romo Ig. Slamet Riyanto Pr;
  • 25 Mei 2010: Peresmian Gua Maria Lawangsih oleh Bupati Kulon Progo Drs. Toyo Santoso Dipo.  

Anda tertarik untuk membantu proses pembangunan berkelanjutan Gua Maria Lawangsih Paroki Nanggulan ini? Berikut ini kami sampaikan saluran berkat melalui Bank BPD DIY Capem Nanggulan; Nomor rekening 022.211.002053; a/n PGPM St. Maria tak Bernoda Nanggulan c.q. Gua Maria Pelem Dukuh. (Selesai)

Photo credit: Mathias Hariyadi

Artikel terkait:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here