Halte Kopi Lakmaras Pertama di Atambua

0
616 views

WARGA kota Atambua dan sekitarnya disuguhi aroma kopi Lakmsras. Kehadiran halte kopi dengan desain tempat yang strategis di arena pasar senggol alun kota ternyata memberi nuansa beda serta menyenangkan.

Konstantinus Klau
Konstantinus Klau

Perintis Halte Kopi, Konstantinus Klau ketika dijumpai saat menikmati suasana santai di  lokasi, Jumat, (29/7/2016) sangat senang karena antusiasme warga begitu tinggi. “Mimpi saya untuk membuka Halte Kopi di Kota Atambua sudah lama dihembus tapi belum sempat terealisir. Ketika Ajang Car Free Day dibuka di Atambua saat itulah mimpi itu menjadi kenyataan. Apa yang terjadi? Ternyata peminat kopi begitu tinggi. Kualitas kopi Lakmaras menjadi sajian favorit untuk dijikmati. Setiap sore saat Halte Kopi dibuka selalu saja ada pengunjung. Banyak dukungan dari teman-teman sehingga Halte Kopi bisa menjadi tempat bersantai ria bersama keluarga dan sahabat kenalan,” kata Klau.

Anak muda menghibur pengunjung / Foto : RD Ino
Anak muda menghibur pengunjung / Foto : RD Ino

Apresiasi banyak kalangan muncul. Di antaranya Ivon Sulaiman. Salah satu pendukung setia hadirnya Halte Kopi di Kota Atambua. Baginya kehadiran Halte Kopi memberi warga baru dalam kota. ” Bisa dibayangkan dulu Kota Atambua yang telah sepi karena minimnya fasilitas publik yang bisa memberi tempat kepada warga untuk sejenak menikmati keindahan kota. Sekarang dengan hadirnya Halte Kopi keadaan berubah jauh. Halte Kopi menjadi tempat nongkrok sekaligus menabur inspirasi untuk bisa berdiskusi dan sebagainya. Juga tempat santai keluarga sambil  menikmati kopi Lakmaras,” cetus Sulaiman saat ditemui di tempat suguhan Halte Kopi.

Para pengunjung / Foto : RD. Ino
Para pengunjung / Foto : RD. Ino

Salah satu tokoh perintis Halte Kopi sekaligus rohaniwan Keuskupan Atambua, Romo Sixtus Bere, Pr menyentil sisi lain yang lebih urgen dari hadirnya Halte Kopi. Dengan menimbah ilmu ketika studi Filsafat di Jerman. Halte Kopi sebagai tempat berjumpa. Tidak hanya itu
Nilai lebihnya sebagai tempat untuk berdiakusi bersama. “Banyak hal bisa didapat di Halte Kopi. Tidak semata dijadikan tempat menikmati segelas kopi pahit bersama aroma khas tanpa bekas. Diutamakan disini sebagai tempat kita membangun ceritera yang lebih berkualitas. Membentuk opini publik tentang aneka persoalan. Bukan untuk saling menyudutkan tapi lebih pada upaya untuk membentuk ide baru yang berguna bagi kehidupan,” ujarnya dengan penuh semangat.

Dengan berjalannya waktu, Halte Kopi makin dikenal. Walau baru berumur 2 bulan namun gaungnya makin terasa. Kahadiran Halte Kopi membuka lapangan pekerjaan baru banyak pihak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here