“Hunter Killer”, Presiden dan Kapten Kapal Rusia dalam Perlindungan Kapal Selam AS

0
123 views
Resensi "Hunter Killer". (Ist)

SUNGGUH tidak biasa bahwa seorang presiden negara adidaya dan kapten kapal selam negara adidaya harus ‘mampir’ untuk menyelamatkan nyawa dan prestise kedaulatan negaranya. Ini hanya ada di film laga anyar yang menarik minat untuk ditonton: Hunter Killer.

Film ini menarik, lantaran sekarang ini terjadi ‘perang dingin’ yang semakin memanas antara Kremlin dan Gedung Putih. Suasana kurang kondusif ini juga telah mengalir di Skandinavia, negara perbatasan di Eropa yang memisahkan wilayah NATO dan (dulu) Pakta Warsawa.

Laporan CNN edisi Jumat tanggal 1 November 2018 bertitel NATO back on the hunt for Russian submarines in the Arctic memperjelas kondisi geopolitik di Eropa Utara yang semakin memanas lantaran munculnya ‘perang dingin’ antara kekuatan militer AS (NATO) dan Russia.

Di dunia nyata, terjadilah perang urat syaraf yang menegangkan antara Kremlin dan Gedung Putih plus Brussels –maskas besar NATO di Belgia.

Musuh jadi teman

Di Hunter Killer, ketegangan geopolitik itu hanya terjadi di awal film laga ini. Selebihnya, Moskwa dan Washington ‘bergandengan mesra’ di dalam dek kapal selam USS Arkansas untuk sebuah misi politik dan operasi keamanan yang juga tidak biasa.

Commander Joe Glass (Gerard Butler) mendapat tugas menyelamatkan Presiden Russia Zakarin yang ditawan Menhan Admiral Dmitri Durov setelah sebelumnya menyatakan diri melakukan kudeta. Untuk itulah, peran besar Captain Sergei Andropov –komandan kapal selam Rusia- menjadi sangat penting karena dia bisa menjadi ‘penunjuk jalan’ yang paling tepat.

Singkat cerita, operasi militer menyelamatkan Presiden Zakarin dan mengevakuasi tim Navy Seal yang terperangkap dalam baku tembak berhasil dilakukan dengan baik. Lagi-lagi, berkat kerjasama antara “dua musuh” yang dalam situasi khusus ini berubah menjadi “teman sejawat” yang harus saling membantu.

Hunter Killer menarik ditonton, justru karena ketegangan politik antara dua negara yang saling ‘bermusuhan’ itu melebar ke aksi militer di mana serangan bertubi-tubi rudal dan torpedo menghiasi berbagai adegan laga di film anyar ini.

Kremlin tidak begitu gembira menyambut  Hunter Killer.

Bagi Moskwa, film besutan Hollywood hasil garapan sutradara Donovan Marsh ini dianggap ‘menghina’ lantaran mana mungkin seorang presiden negara adidaya sebesar Rusia mesti ‘menyerahkan’ keselamatan pemimpin dan kedaulatan negaranya kepada pasukan elit US Navy. Karena itu, tak heran bahwa penguasa Kremlin menolak film ini diputar di Rusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here