Ikhlas dalam Islam, Sangat Ignasian!

3
1,565 views

Pada hari Minggu malam yang lalu, saya berkesempatan menghadiri undangan pertemuan Majelis Mushala At-Taubah di kampung. Pertemuan yang dihadiri oleh kurang lebih empat belas orang anggota Majelis ini, adalah pertemuan untuk membicarakan program menabung sebagai persiapan hari raya Idul Adha tahun depan. Sebagai satu-satunya orang nasrani yang hadir dalam pertemuan itu, saya berusaha untuk memelajari sungguh-sungguh hal-hal baru yang barangkali memberikan inspirasi bagi iman kristiani.

Pada hari raya Idul Adha, umat Islam di Indonesia biasanya menjalankan shalat Id di pagi hari, dengan tema refleksi tentang sikap iman dan ketaatan Ibrahim kepada Allah, dan dilanjutkan dengan menjalankan pemotongan hewan kurban baik berupa sapi maupun kambing. Daging hewan kurban tersebut selanjutnya akan dibagi-bagikan terutama kepada fakir miskin dan orang-orang yang tidak beruntung.

Sebagai orang nasrani yang hidup di tengah-tengah warga muslim di kampung, dengan penuh gembira hati saya mendukung rencana warga untuk menabung bersama demi menyiapkan hewan kurban pada tahun depan. Oleh karena itu, dengan gembira hati pula saya berkomitmen untuk ikut menabung bersama. Program menabung ini digagas karena sebagian besar warga kampung kami adalah petani, buruh tani, dan buruh lepas yang tidak mempunyai penghasilan tetap sehingga seringkali tidak mampu untuk membeli hewan kurban secara individual.

Melalui upaya menabung bersama, dipastikan bahwa pada tahun depan, seluruh warga dapat membeli hewan kurban secara bersama-sama. Sungguh sebuah niat yang luar biasa, yang saya temukan dalam diri orang-orang kampung yang sederhana ini. Meskipun tidak tergolong sebagai orang yang mampu secara ekonomis, mereka memiliki niat yang besar untuk dapat berbagi kepada sesama. Hal ini mengingatkan saya kepada sikap hormat Yesus kepada seorang janda miskin yang memberikan persembahan dari kekurangannya.

Ikhlas tidak mengharap sisa
Dalam pertemuan tersebut, saya menemukan dua hal menarik yang lain. Salah seorang anggota majelis yang biasa bertugas sebagai penjagal hewan kurban menyatakan bahwa apabila seseorang telah berniat menabung untuk kepentingan ibadah kurban, maka ia tidak boleh lagi mengharapkan sisa dari tabungannya itu bagi dirinya sendiri. Saldo tabungan itu sebaiknya diikhlaskan untuk diserahkan kepada fakir miskin dan orang-orang yang tidak beruntung. Itu adalah hal pertama.

Yang kedua, seseorang yang berniat memberikan hewan kurban, ia harus ikhlas menyediakan seluruh kebutuhan lain bagi pelaksanaan ibadah kurban tersebut sehingga tidak memberikan beban atau kerepotan kepada orang-orang yang melaksanakan penyembelihan hewan kurban, baik secara finansial maupun material lain. Karena dikawatirkan bahwa orang-orang yang melaksanakan penyembelihan hewan kurban itu adalah mereka yang sebenarnya tergolong sebagai fakir miskin dan orang yang tidak beruntung. Memberikan beban finansial dan material lain kepada mereka adalah hal yang tidak dibenarkan.

Apa yang dinyatakan oleh warga kampung tersebut sebenarnya merupakan pelaksanaan nyata dari apa yang disebut sebagai keikhlasan. Ikhlas adalah sikap rela yang radikal dan mendalam untuk memberikan diri kepada yang lain, terutama kepada mereka yang kurang beruntung dalam kehidupan. Sikap ikhlas ini dijalankan sebagai perwujudan nyata dari sikap islam. Dalam hal ini, islam adalah sikap tunduk syukur penuh serah diri dan hormat sebagai hamba di hadapan Allah yang Mahabesar (Allahu akhbar). Dengan demikian, keikhlasan itu dijalankan dalam keislaman. Kesukarelaan radikal dan mendalam itu dijalankan dalam ketundukan serah diri penuh hormat kepada Allah yang Mahabesar.

Dalam latihan rohani Santo Ignatius, keikhlasan dan keislaman ini sebenarnya dapat ditemukan dalam sikap melepaskan diri dari segala rasa lekat tak teratur, atau biasa disebut sebagai sikap lepas bebas dalam kerangka penyerahan diri kepada Allah. Untuk dapat mencapai sikap lepas bebas ini, pada umumnya orang dibantu dengan laku pembedaan Roh (discernment of spirit) agar dapat mengenali gerakan-gerakan yang tak teratur di dalam kehidupan batin.

Sebagai seorang nasrani, saya merasa sangat terhibur ketika melihat wajah-wajah orang kampung yang tergabung dalam Majelis Musahala At-Taubah ini. Wajah-wajah itu memancarkan keikhlasan dan keislaman yang jujur dan luar biasa, yang dengan demikian sekaligus memancarkan nilai-nilai Ignasian yang dihidupi dan diuri-uri sampai saat ini dalam tradisi kristiani.

Pengalaman sederhana ini menunjukkan bahwa ketika seseorang berani dan mau menyelami nilai-nilai dan spiritualitas yang teramat kaya dalam kehidupan ini, tanpa pernah tersekat-sekat oleh tembok dan benteng agama-agama yang formalistik, ia tidak akan pernah mengalami kekeringan rohani, melainkan senantiasa disegarkan dan diperkaya. Kalau boleh dikatakan, ternyata Spiritualitas Ignasian tidak hanya dapat ditemukan di dalam kehidupan Gereja, melainkan dapat juga dikenali wajahnya dalam diri anggota-anggota Majelis di Mushala desa.

Semoga warga desa anggota Majelis Mushala yang secara tulus dan jujur berniat untuk menabung agar dapat berbagi kepada sesama pada hari raya Idul Adha tahun depan ini, boleh menikmati buah-buah rohani yang melimpah. Semoga Allah yang memulai pekerjaan baik ini, akan menyelesaikanNya pula.

3 COMMENTS

  1. Yaa Tidak mudah memang belajar ikhlas, apalagi ditengah berbagai kekurangan… sebuah tulisan yang sangat inspiratif

  2. contoh kerukunan umat beragama yg baik, artikel yang sangat inspiratif, mengambil hikmah dari mana saja,walau bukan satu Umat,kalau setiap manusia berfikir seperti mas, tentu dunia akan damai tak ada peperangan karena perbedaan

Leave a Reply to Ign Loyola Hendrawan Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here