In Memoriam Romo Basilius Kolo MSC: Lama Berkarya di Kei (3)

0
160 views
Keluarga alm. Romo Bas Kolo MSC. (Ist)

SEMENTARA warga Kei yang hadir malam itu, sebagian besar adalah para mahasiswa yang kuliah di Jakarta. Ketika berita kematian Pastor Bas sampai di Kei, orangtua dan kerabat mereka memberitahukan kabar itu kepada anak-anak muda ini dan meminta mereka untuk melayat mewakili keluarga dan umat yang pernah dilayani oleh almarhum. Lagu-lagu berbahasa Kei pun mengalun indah malam itu.

Sudah pasti Pastor Bas yang mendengarnya akan ikut bernyanyi bersama mereka. Mereka bertahan menjaga jenazah hingga menjelang pagi.

Berkarya di Maluku Tenggara

Betapa tidak. Ia cukup lama berkarya di Bumi Larvul Ngabal itu, di Paroki Waur, Kei Besar (1992-1995), Paroki Tual, Kei Kecil (1995-1997), lalu beberapa bulan di Paroki Rumat, Kei Kecil, kemudian di Paroki Ohoijang, Kei Kecil (2002-2005), sebagai Ketua Yayasan Siwa Lima (2005-2007) dan karya khusus pengembangan ekonomi di Kei (2005-2010), dan Paroki Jailolo, Maluku Utara (2010-2019).

Sejak Sabtu (9/2) pagi hingga sore, para pelayat terus berdatangan. Mereka menyalami Pastor Bas yang terbujur kaku, lalu memberi membagi pengalaman mereka bersentuhan dengan sang imam selama hidupnya.

Eugenius Renwarin bercerita tentang pengalaman indah bersama Pastor Bas di Kei, saat mereka pergi memancing ikan di laut dan berkebun. Ada macam-macam kesan dan pengalaman, yang semua itu bisa terjadi karena Pastor Bas adalah sosok imam yang dekat dengan kehidupan umatnya.

Ibu Yola dari Ternate juga tak lupa mengungkapkan pengalaman dilayani oleh Pastor Bas.

Sejak dibawa dari Ternate ke Jakarta, Pastor Bas Kolo juga dijenguk oleh Bupati Halmahera Barat Bapak Danny Missy SE, MM, yang memberi kesaksian bahwa selama di Jailolo ia berteman akrab dengan Pastor Bas dan saling membantu dalam mengembangkan masyarakat di Jailolo.

Kepergian Pastor Bas, sungguh memukul hatinya karena ia kehilangan seorang mitra kerja yang baik dan selalu suka membantunya.

Taat dan humoris

Perayaan Ekaristi pada pukul 20.00 WIB, malam itu, dipimpin langsung oleh Provinsial MSC Provinsi Indonesia, Pastor Jhony Luntungan MSC didampingi Superior MSC Daerah Maluku Pastor Fred Sarkol MSC, dan Wakil Uskup Maluku Utara Pastor Titus Rahail (Jr) MSC.

Sekitar 30 pastor ambil bagian dalam misa itu, sebagian besar adalah para imam dan biarawan MSC, oastor diosesan Amboina dan pastor diosesan Manado, serta para Suster PBHK, JMJ, Ursulin, dan beberapa lainnya.

Wakil Uskup Maluku Utara Pastor Titus Rahail (Jr) MSC, teman seangkatan dan sekaligus teman kerja dengan Pastor Bas, mengatakan dalam sharing malam itu sebagai berikut.

Ia telah mengenal Pastor Bas selama 35 tahun.

“Ketika umat Jailolo mendengar kematian Pastor Bas, mereka seperti ‘patah sayap’. Sedih, bukan main. Sampai mereka meminta saya agar jenazahnya dipulangkan ke Jailolo untuk dimakamkan di sana,” kata Pastor Titus saat sharing dalam Misa itu.

In Memoriam Romo Basilius Kolo MSC: Persembahan Keluarga dari Timor (2)

Hidup dan berkarya bersama dengan Pastor Bas di Maluku Utara, selama bertahun-tahun, maka ada tiga hal yang mencolok dan berkesan bagi Wakil Uskup Maluku Utara itu.

  • Pertama, “Pastor Bas itu sosok imam yang sangat taat kepada pemimpin atau pembesar. Diberi tugas apa saja, ia tak pernah menolak. Medan pastoral yang dikelilingi laut dan tak mudah dijangkau karena kondisi alam, itu semua tak menyurutkan hati Pastor Bas untuk melangkah melayani umatnya,” demikian tutur Pastor Titus.
  • Kedua, ia sosok yang sederhana. Kesederhanaan itu membuat ia dekat dengan siapa saja. “Ketika ia meninggal, pendeta dan beberapa umat Muslim mendesak saya agar jenazahnya dibawa ke Jailolo. Seorang muslim mengatakan kepada saya, kapan lagi kita mendapatkan imam seperti ini,” jelas Pastor Titus yang pernah merasakan getirnya konflik sosial yang melanda Maluku Utara itu.
  • Ketiga, jelas Titus, Basilius Kolo adalah orang yang rendah hati. “Kalau ia datang ke pastoran saya, dia selalu ajak saya untuk doa brevir, lalu membaca dan mendalami Konstitusi Tarekat MSC, lalu kami sharing pengalaman. Di meja makan, setelah kami berdua santap bersama, ia meminta saya untuk keluar dari ruang makan itu dan dia mulai ambil semua kopi, susu, teh, dan gula, yang akan ia bawa ke Jailolo untuk diberikan kepada umat dan masyarakat di sana.”

Dalam kesaksiannya tentang Pastor Bas, Supda MSC Maluku, P. Fred Sarkol MSC, mengatakan, Pastor Bas adalah imam dan biarawan yang taat dan humoris.

Pendiri MSC Pater Jules Chevalier sendiri menulis sikap humor itu dalam Konstitusi MSC no 32. Mengutip salah satu  ayat Konstitusi MSC, Fred menegaskan pentingnya sikap ketaatan sebagaimana diprioritaskan oleh Pendiri MSC Pater Jules Chevalier.

“Para biarawan MSC itu boleh kalah dalam hal kepintaran, dll, tetapi tidak boleh kalah dalam hal ketaatan,” jelas Pastor Fred, yang pada 1 Pebruari 2019 telah selesai bertugas sebagai Supda MSC Maluku dan digantikan oleh Pastor Josep Frederik Rettob MSC.

Sisi lain dari hidup almarhum adalah humoris. Ia sering menjadi “bulan-bulanan” teman-teman, karena dia humoris. “Tanpa kehadirannya, kami jadi sepi,” ucap Pastor Fred. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here