Inilah 3 Ciri Hakiki Spiritualitas Ignatian

2
3,361 views

Tampaknya tidak ada “rumusan baku” tetang spiritualitas Ignatian. Dalam edisi sesawi.net 8 Juni 2011  “Karakteristik Spiritualitas Ignatian”  telah ditulis 10 karakteristik spiritualitas Ignatian menurut Romo Paul Brian Campbell, SJ.

Romo Josephus Darminta, SJ, mantan provinsial Serikat Yesus dan sekarang menjadi anggota tim Pusat Spiritualitas Girisonta mengetengahkan tiga ciri hakiki spiritualitas Ignatian.

Tiga ciri yang beliau ketengahkan dalam buku peringatan 70 tahun Kolese Santo Ignatius, “Meyesuit lewat Kolsani”, tahun 1993, adalah: Manusia dari Allah, Manusia bagi sesama, dan Manusia dalam pengutusan. Dari ketiga ciri itu jelas bahwa spiritualitas Ignatian tidak spesifik menunjuk pada panggilan hidup tertentu, misalnya sebagai imam atau biarawan, tetapi untuk semua orang Kristiani. Karena itu untuk sementara bisa disiumpulkan pada dasarnya spiritualitas Ignatian adalah spiritualitas awam.

Manusia dari Allah: Manusia berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Segala sesuatu diarahkan pada pengabdian kepada Allah dan menolong sesama. Hal itu bisa terjadi bila manusia yang bersangkutan menjadi manusia pendoa. Ignatius tidak mementingkan banyaknya kata-kata atau lamanya orang berdoa. Yang penting orang itu dapat berjumpa dengan Tuhan secara intensif. Sebagai bahan renungan: Markus 1: 35.

Manusia bagi sesama: Menolong jiwa orang lain, dan dengan demikian menyelamatkan jiwa diri sendiri, merupakan keprihatinan utama dalam hidup Ignatius. Oleh karena itu, sharing pengalaman rohaninya ditulis dengan gaya untuk membantu orang lain, bukan sekedar sharing. Tulisan itu merupakan bantuan metode untuk membantu sesame seturut kondisi dan panggilan masing-masing manusia. Ignatius tidak pernah memaksanakan cara hidupnya (yang telah terbukti suci) untuk orang lain melainkan memberikan bantuan sarana pada orang untuk mampu membantu orang lain. Sebagai bahan renungan: Markus 1: 29 – 34.

Manusia dalam pengutusan: Bagi Ignatius, diutus berarti pengutusan di dalam Gereja. Mengabdi Kristus tidak mungkin di luar pengutusan Gereja. Agar secara efektif menjadi rasul, ia harus mempunyai semangat kemiskinan, artinya kemampuan menjadi lepas bebas, kesediaan untuk berubah untuk mengikuti dinamika pengutusan kita. Apakah itu berarti orang harus menjadi rohaniwan/biarawan? Tentu tidak. Jikalau kita sebagai awam, bekerja dengan penuh dedikasi bagi sesama, tidak korupsi dan kolusi, kita sudah menjadi rasul yang hebat dan menjalankan pengutusan Gereja. Sebagai bahan renungan: Markus 1: 36-39.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here