Jumat Pertama Juni 2017 PUKAT KAJ: Jadi Gembala Baik, Aturlah dan Kendalikan Pikiran, Perasaan, dan Mulut (1)

0
438 views
Romo Paulus Christian 'Koko" Siswantoko Pr saat memimpin perayaan ekaristi Jumat Pertama bersama PUKAT KAJ di Jakarta, 2 Juni 2017. (Dok. PUKAT KAJ)

BULAN Juni 2017 ini, kelompok Profesional dan Usahawan Katolik Keuskupan Agung Jakarta (PUKAT KAJ) menghadirkan Romo Paulus Christian Siswantoko Pr untuk memimpin misa Jumat Pertama –acara bulanan tetap PUKAT KAJ. Ia adalah imam diosesan (praja) Keuskupan Purwokerto yang baru saja didapuk menjadi Ketua UNIO Indonesia –forum persaudaraan para imam diosesan seluruh Indonesia.

Dalam enam tahun terakhir ini, ia bertugas di lingkungan KWI sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Perdamaian dan Keadilan serta Pastoral Migran Perantau KWI.

Berdasarkan bacaan Injil tentang tiga kali pertanyaan Yesus kepada Petrus yang bertanya “Apakah engkau mengasihi Aku?”, Romo Koko –demikian panggilan akrabnya—menguraikan hal menarik untuk menjadi bahan permenungan bersama. Bicara tentang ide besar penggembalaan itu, kata imam yang berasal dari tlatah Sendangsono ini, maka yang layak direnungkan adalah seberapa tingginya mutu penggembalaan itu.

Diri sendiri dulu, baru kemudian orang lain

Karena itu, sebelum mampu menggembalakan orang lain –tegasnya—masing-masing orang harus bertanya pada diri sendiri apakah ia sudah mampu ‘menggembalakan’ dirinya sendiri apa belum.

Dalam konteks keharusan mampu menggembalakan diri sendiri itulah, kata dia, orang perlu mengarahkan dan mengatur diri dalam tiga urusan penting ini.

  • Yakni, pertama-tama adalah keberhasilan bisa mengatur pikiran agar jangan sampai punya penilaian negatif terhadap orang dan kelompok lain. “Pikiran kita harus ‘digembalakan’ agar jangan pernah menjadi ‘liar’ dan tak terkendali,” ungkapnya.
  • Yang kedua, kata Romo Koko, kita pun harus mampu mengendalikan dan mengatur perasaan. “Kalau setiap hari bawaannya baper melulu, maka tata pergaulan kita menjadi repot. Kalau semua perkataan dan tindakan kita hanya diwarnai oleh emosi kita sendiri, maka menjadi repotlah lawan bicara kita, teman hidup kita, rekan kerja kita,” tambahnya.
  • Yang ketiga juga tidak kalah penting. Yakni, keharusan kita mampu menggembalakan mulut kita.  Seperti kata pepatah yang mengatakan ‘mulutmu, harimaumu’, maka masing-masing kita diharapkan bisa mengatur dan menjaga mulut. “Jangan sampai mengeluarkan kata, kalimat, dan ucapan yang malah membuat orang lain sakit hati, sedih, atau bereaksi negatif terhadap kita. Ujaran kebencian jangan sampai kita lakukan. Sebaliknya, kita harus sering-sering mengeluarkan kata-kata yang membuat suasana jadi sejuk, orang lain dibuat gembira dan senang,” kata dia.
  • Yang keempat adalah mengatur keinginan. “Jangan sampai kita membiarkan semua keingina, ambisi itu menjadi liar tak terkendali,” kata romo.

Sebagai orang katolik, tambahnya, kita diajak Yesus –sebagaimana Ia menantang Petrus dengan tiga kali pertanyaan dan tiga kali jawaban— untuk mampu menjadi seorang gembala yang baik. Yakni, ajakan agar kita mampu mengendalikan pikiran, perasaan, dan mulut  serta keinginan agar isi persepsi, emosi, dan kata-kata serta kalimat yang kita ucapkan itu akhirnya bisa menjadikan orang lain merasa damai, dihargai, dan bisa berkembang.

Keutamaan kristiani adalah kemampuan menjadi seorang gembala yang baik dan itu terjadi ketika masing-masing sudah mampu mengatur dan mengendalikan pikiran, perasaan, dan mulut. Setelah mampu menggembalakan diri sendiri barulah orang mampu menggembalakan orang lain. (Dok. PUKAT KAJ)

Kesimpulannya adalah ini. Sebelum kita bisa menggembalakan orang lain, ada baiknya kita mengukur diri apakah kita masing-masing ini sudah mampu menggembalakan diri sendiri. Yakni, mampu mengatur pikiran, menjaga perasaan, dan mengendalikan mulut.

Ciri gembala yang baik

Masih bicara tentang teman sama, Romo PC Siswantoko Pr kembali bicara tentang ciri-ciri seorang gembala yang baik.  Dari antara banyak hal, ia menegaskan inilah beberapa ciri yang bisa dimaknai sebagai ‘perilaku’ gembala yang baik.

Misa bulanan Jumat Pertama PUKAT KAJ bersama Romo Paulus Christian Siswantoko Pr.

Ia sosok pribadi yang mau berkorban, mau melayani. Ia juga sosok orang yang punya semangat pelayanan, jiwa pengorbanan, dan semangat berbagi kepada orang lain.

“Semangat berbagai itu antara lain ditunjukkan melalui sikapnya yang selalu ingin menciptakan hidup sosial yang nyaman. Di keluarga, maka ia mengusahakan suasana keluarga yang ‘surgawi’. Inilah suasana ketika masing-masing anggota keluarga merasa diri kerasan tinggal di rumah,”katanya memberi ilustrasi.

“Yang tengah bepergian merasa diri ingin cepat pulang dan berada di rumah,” tambah Romo Koko.

Dalam konteks sosial kekinian, Romo Koko ingin mengajak segenap anggota PUKAT KAJ dan umat katolik lainnya agar menunjukkan diri bersemangat ‘gembala baik’ itu di tengah masyarakat Indonesia yang sangat pluralistic ini.  Konkritnya adalah kalau hidup bertetangga dengan orang lain beda kultur, etnik, dan agama, maka masing-masing diharapkan bisa memberi keteduhan dan semangat berbagi serta menonjolkan jiwa suka perdamaian.

Mengambil keutamaan kristiani dari bacaan Injil pada hari Jumat tanggal 2 Juni 2017.

Karena itu, kiat keutamaan bisa mengatur pikiran, perasaan, dan mulut itu menjadi sangat relevan. “Marilah kita menggunakan bahasa yang santun dan beradab kalau bermain di jalur medsos. Berteman dengan siapa pun tanpa menampilkan semangat diskriminatif,” tegasnya.

 Homili singkat dan jelas dari Romo Koko ini berakhir dengan seruan marilah kita masing-masing menjaga dan mengatur pikiran, perasaan, dan mulut serta keinginan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here