Kata Para Uskup tentang Imam Diosesan (2)

0
495 views
Kardinal Justinus Darmojuwono bersama Paus Yohanes Paulus II. Keduanya kini sudah meninggal dunia. (Ist)

BUKU anyar Uskup Tanpa Imam Diosesan Seperti Macan Ompong ini terdiri dari 12 bab yang dibagi dalam empat bagian pokok, yakni:

  • Pertama, Menghidupi Spiritualitas Imam;
  • Kedua, Kemandirian Gereja Lokal;
  • Ketiga, Ecclesia Semper Reformanda;
  • Keempat, Menjadi Imam Sampai Akhir.

Pada bagian pertama, diuraikan bagaimana spiritualitas imamat yang diamanatkan dalam ajaran Gereja Katolik, secara khusus Konsili Vatikan II.

Ada dua bab yang disampaikan pada bagian ini, yaitu spiritualitas para imam diosesan dan ajakan untuk menimba inspirasi dari Santo Paulus, Sang Rasul Agung. 

Pada bagian kedua, disajikan bagaimana upaya yang ditempuh dalam mewujudkan kemandirian Gereja Lokal (Keuskupan) di bawah reksa pastoral para Bapak Uskup.

Mgr. Rubi dan para Ketua UNIO KAS.

Seminari sebagai jantung keuskupan

Penulis menyajikan tiga bab, yaitu seminari menjadi jantung Keuskupan, wajah imamat para imam diosesan, dan relasi Uskup dengan seminari dan para imamnya.

Pada bagian ketiga, dipaparkan bagaimana Gereja selalu berusaha memperbarui diri terus-menerus, agar semakin mampu menghadapi dan menjawab tantangan-tantangan masa kini. Di bagian ini penulis menguraikannya dalam tiga bab:

  • terobosan baru yang visioner;
  • persaudaraan para imam diosesan;
  • dan peranan imam diosesan sebagai garda depan Keuskupan.

Menjadi imam sampai akhir hayat

Pada bagian keempat, penulis menyajikan bagaimana Menjadi Imam Sampai Akhir (MISA).

Menyadari panggilan imamat adalah anugerah Allah dan ambil bagian dalam imamat Uskup, penulis mengangkat “mutiara-mutiara” yang sangat berharga tentang panggilan dan pelayanan imamat yang pernah disampaikan oleh Paus Emeritus Benediktus XVI, Justinus Kardinal Darmojuwono (Kardinal pertama Indonesia), Mgr. Ignatius Suharyo, dan alm. Mgr. Johannes Pujasumarta.

Tulisan mereka disajikan dalam empat bab terakhir.

Diharapkan “mutiara-mutiara” yang berharga itu dapat menginspirasi, meneguhkan dan menyemangati para imam dalam menghidupi anugerah imamat dan melayani umat-Nya pada zaman ini sampai akhir hayat.

Kata para Uskup

Kardinal Julius Darmaatmadja-SJ

Dalam buku itu dikutip pernyataan para Uskup terkait dengan para imam diosesan. Sebut saja misalnya, Bapak Julius Kardinal Darmaatmadja SJ yang pernah menjadi Uskup Agung Semarang (1983-1996) dan Uskup Agung Jakarta (1996-2010) mengungkapkan sebagai berikut:

“Sebagai seorang Uskup Diosesan, saya merasa memiliki orangnya sendiri, dan karenanya merasa dibantu, dan sangat dipermudah dalam melancarkan kegiatan-kegiatan pastoral sesuai dengan perencanaan Keuskupan,” tulisnya.

Sedangkan Mgr. Ignatius Suharyo yang pernah menjadi Uskup Agung Semarang (1997-2009), Uskup Agung Jakarta (2010-sampai kini), dan sebelumnya juga Administrator Apostolik Bandung (2010-2014) mengungkapkan demikian:

Mgr. Ignatius Suharyo saat Misa Syukur untuk kaum pekerja di Paroki Citra Raya Gereja Santa Odilia. Rabu, 1 Mei 2019. (FOTO DOK. KOMSOS PC-GIT/AY TEGUH).

“Corak spiritualitas imam diosesan berakar dan dibentuk oleh identitas imam. Identitas imam diosesan adalah bahwa ia dipilih sebagai perantara dalam hubungan antara Allah dengan manusia. Identitas ini diwarnai oleh dua peranannya yang utama, yaitu sebagai Pelayan Sabda dan Sakramen (fungsi liturgis) dan sebagai ‘Dokter Jiwa-jiwa’ (fungsi menyembuhkan dan rekonsiliasi) yang dijalankan dalam berbagai cara,” paparnya.

Sementara itu, dalam prolog buku ini, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang saat ini sekaligus Ketua Komisi Seminari KWI menuturkan sebagai berikut:

“Sebagai seorang Uskup diosesan, saya merasakan dan mengalami betapa kehadiran para Imam Diosesan atau Rama Praja ini menjadi kekuatan tersendiri. Betapa tidak? Imam Diosesan merupakan rekan kerja dan ‘balatentara’ Uskup Diosesan dalam menyelenggarakan reksa pastoral di keuskupannya,” tuturnya.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko menerangkan motto pastoralnya “Qaerere et salvum facere.” di Sendangsono. (Dok. Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan)

Kekuatan reksa penggembalaan seorang Uskup Diosesan ada pada kehadiran dan keterlibatan para Imam Diosesan, tanpa meninggalkan kemungkinan melibatkan para imam tarekat/religius ikut bekerja di dalamnya,” tulisnya.

Sedangkan Mgr. Blasius Pujaraharja, Uskup Emeritus Keuskupan Ketapang sekaligus salah satu pendiri UNIO Indonesia (Unindo) menegaskan sebagai berikut:

“Hal yang membanggakan juga tentang UNIO KAS ialah bahwa sejak semula UNIO KAS tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi memikirkan kebutuhan imam diosesan di keuskupan lain. Sebelum keuskupan tetangga bisa membentuk UNIO sendiri, UNIO KAS sudah sering mengajak imam diosesan di keuskupan lain (Malang, Surabaya, Purwokerto) untuk ikut rekoleksi, retret, studi, dan lain sebagainya,” paparnya.

Mgr. Blasius Pujaraharja.

“UNIO KAS juga membantu terbentuknya Unio di keuskupan-keuskupan lain. Puncaknya ialah berdirinya Unio Indonesia yang perwujudan dan lahirnya embrionya dari Keuskupan Agung Semarang, tahun 1976. UNIO KAS berinisatif mengumpulkan wakil-wakil dari keuskupan dan imam yang studi di Yogyakarta yang mewakili keuskupannya untuk membentuk Unio Indonesia,” lanjutnya.

Diharapkan, buku ini bisa menginspirasi dan meneguhkan panggilan imamat bagi para rekan imam dan dapat memantapkan langkah calon imam (seminaris) yang sedang menanggapi atau berproses menghidupi panggilan Tuhan.

Semoga buku ini juga dapat membantu Anda semua (bapak/ibu, rekan-rekan muda, anak-anak dan remaja, biarawan/wati, pendidik, katekis atau guru agama, pengurus Dewan Paroki, dsb) untuk semakin mencintai Gereja, semakin mencintai para imam dan semakin peduli pada pendidikan calon imam di seminari. (Selesai)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here