Keindahan dalam Doa “Salam Maria”: “Maria Penuh Rahmat” (2)

0
3,929 views

NAMA Maria berasal dari kata Ibrani Maryam. Pada zaman Yesus (abad pertama Masehi), kira kira ada 1 dari 3 orang perempuan di Israel yang bernama Maria. Nama Maria adalah nama yang sangat populer untuk dipakai untuk seorang perempuan di Israel. Maka tidak heran ketika kita membaca Kitab suci, kita menemukan beberapa nama Maria, misalnya : Maria saudari Lazarus dan Maria Magdalena.

Kalau kita lihat gambar-gambar atau patung-patung Maria, sering kali Sang Bunda berhiaskan jubah berwarna biru. Hal itu ada kaitannya dengan bahasa Latin “Mare” yang berarti “laut”. Laut yang berwarna biru, luas, teduh dan penuh ketenangan dan kelembutan menjadi sifat-sifat yang cocok dikenakan pada karakter Maria, Bunda Yesus.

Penuh Rahmat

Atribut pertama yang ditempelkan pada diri Maria dalam doa Salam Maria adalah dirinya yang dalam keadaan penuh dengan rahmat. Rahmat (blessing) adalah karunia atau pilihan cuma cuma dari Allah Sang sumber rahmat kepada manusia. Kita tahu bahwa rahmat Allah selalu membawa keselamatan dan kebahagiaan kepada manusia. Maria dikatakan berahmat karena dia adalah seorang wanita yang dipilih Allah dari jutaan wanita lainnya. Maria dipilih untuk menjadi rekan kerja Allah dan menjadi “pembawa” Yesus ke dunia.

Tentunya pilihan Allah tidaklah sembarangan. Sebagaimana Allah telah mempersiapkan Maria sejak masa kelahirannya setelah terkandung tanpa noda di keluarga Anna dan Yoakim (orang tua Maria), sampai Maria tumbuh menjadi gadis yang takut akan Allah, dan menjadi seorang perempuan Israel sejati yang menantikan kehadiran seorang Mesias, Sang Juru Selamatnya. Dan kini Sang Juru Selamat yang dinantikan oleh semua orang, hadir di dalam rahimnya.

Dalam tugasnya sebagai seorang Ibu Penebus, Maria menjalaninya dengan penuh kesadaran meski tugas itu sangatlah sulit. Maria menyadari bahwa anak yang dia miliki adalah Anak Allah yang sedang melakukan kehendak Allah BapaNya dengan menderita bahkan sampai mati. Sejak Yesus dalam kandungan sampai tergantung di salib, Maria selalu berada di sisi Putranya. Itulah tanggung jawab Maria terhadap rahmat yang ia terima.

Sampai akhirnya Maria terangkat ke surga dengan mulia dan menjadi Hawa (ibu) baru. Perjalanan Sang Ibu umat manusia ini sejak awal sampai akhir menunjukan bahwa Maria sungguh-sungguh seorang perempuan yang dirahmati oleh Allah, bahkan bisa dikatakan penuh dengan rahmat karena Maria menerima dan menjalani rahmat itu tanpa cacat sekalipun.

Hal yang bisa kita renungkan:

Selain rahmat yang diterima Maria membawa keselamatan pada dirinya, ternyata juga membawa keselamatan pada seluruh umat manusia. Itulah mengapa Maria dikatakan penuh dengan rahmat. Segala rejeki, karunia, talenta, berkat atau apapun namanya, yang kita terima dari Allah, akan mencapai nilai kepenuhannya bila kita bisa berbagi kepada sesama. Rahmat yang disimpan untuk diri sendiri, tidaklah menghasilkan buah. Tentunya Anda masih ingat bacaan Injil tentang seorang hamba yang jahat yang menyembunyikan talenta tuannya di dalam tanah?

Maka dari itu mulailah dari sekarang kita menjadi pribadi yang rela berbagi dengan sesama. Suka dan duka sahabat dan orang lain, menjadi suka dan duka kita. Bagi Anda yang sudah merasakan indahnya berbagi, pasti setuju dengan apa yang saya katakan.

Pada waktu di Roma saya membeli banyak barang rohani, mulai dari rosario, patung atau pun gambar-gambar. Ketika tiba di Indonesia, oleh-oleh itupun dengan cepatnya tersebar di antara sahabat dan kenalan. Ada yang menerimanya dengan suka cita dan penuh terima kasih, namun ada juga yang menerimanya biasa-biasa saja (mungkin sudah punya yang lebih bagus di rumah).

Hingga waktu berselang, saya diminta untuk memberikan Sakramen Perminyakan di rumah seorang nenek tua yang sudah hidup sebatang kara di rumahnya yang kecil di pinggir rel kereta. Begitu saya masuk ke rumah nenek tersebut, alangkah kagetnya saya, ketika melihat sebuah gambar yang pernah saya beli di roma dengan harga sangat murah ( 10 buah seharga 1 euro), kini gambar itu menjadi hiasan dinding satu satunya di dinding rumah nenek tersebut. Nenek itu berkata: “Romo, terima kasih sudah mau datang ke rumah saya, lihat, gambar yang Romo berikan dulu kepada saya, sekarang saya gantung di dinding, hanya itu harta saya yang paling berharga.”

Mendengar kata-kata nenek itu, air mata saya pun menetes perlahan tak tertahan, saya rasakan “indahnya” berbagi terlebih kepada mereka yang kurang beruntung dalam hidupnya. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain menjadi hal yang remeh temeh tak berarti, tetapi di tangan mereka yang sederhana, justru menjadi harta yang sangat bernilai. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here