Kematian Anak

0
158 views
Pastor mendoakan jabang bayi yang mengalami kondisi kelainan paru ketika baru saja dilahirkan dari pasangan alumni Kolese/SMA Gonzaga Jakarta. (Ist)

DIPERKIRAKAN 6,3 juta anak di bawah usia 15 tahun meninggal pada tahun 2017 yang lalu di seluruh dunia. Sekitar 5,4 juta di antaranya adalah balita dan 2,5 juta neonatal atau meninggal dalam bulan pertama kehidupan.

Ini berarti 15.000 kematian balita setiap hari. Apa yang seharusnya kita lakukan?

Lebih dari setengah kematian dini anak  disebabkan oleh kondisi yang dapat dicegah atau diobati, dengan sarana yang sederhana dan terjangkau. Penyebab utama kematian pada anak balita adalah komplikasi kelahiran prematur, radang paru-paru, asfiksia lahir, diare dan malaria.

Tingkat kematian balita

Hampir setengah dari kematian balita ini terjadi pada bayi baru lahir, sebuah angka yang akan naik secara relatif, karena tingkat kematian anak yang lebih besar telah terus menurun.

Anak di Afrika lebih dari 15 kali lebih mungkin meninggal sebelum usia 5 tahun daripada anak di negara berpenghasilan tinggi. Kemajuan global substansial telah dibuat dalam mengurangi kematian anak sejak 1990.

Jumlah kematian balita di seluruh dunia telah menurun dari 12,6 juta pada 1990 menjadi 5,4 juta pada 2017, atau sekitar 15.000 kematian balita setiap hari, dibandingkan dengan 34.000 pada 1990.

Sejak 1990, tingkat kematian global balita telah turun 58%, dari 93 kematian per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1990 menjadi 39 pada tahun 2017.

Mencegah kematian balita

Lebih dari setengah kematian balita disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dan diobati melalui intervensi sederhana dan terjangkau. Memperkuat sistem kesehatan untuk memberikan intervensi seperti itu kepada semua anak akan menyelamatkan banyak nyawa anak.

Anak yang kekurangan gizi, terutama mereka yang kekurangan gizi akut, memiliki risiko kematian yang lebih tinggi akibat diare, pneumonia, dan malaria. Faktor-faktor yang berhubungan dengan gizi berkontribusi pada sekitar 45% kematian pada anak balita.

Pneumonia, atau infeksi pernapasan akut lainnya lebih sering terjadi pada anak dengan faktor risiko berikut. Selain Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), juga malnutrisi, tidak mendapat ASI eksklusif, dan kondisi rumah tinggal yang penuh sesak.

Oleh sebab itu, tindakan pencegahannya meliputi vaksinasi lengkap, nutrisi yang cukup, menyusui secara eksklusif dan pengurangan polusi udara rumah tangga. Tindakan perawatan yang sesuai oleh petugas medis dan kesehatan terlatih meliputi antibiotik dan bantuan oksigen untuk penyakit yang parah.

Diare pada anak lebih sering terjadi pada anak dengan faktor risiko berikut. Selain anak yang tidak disusui secara eksklusif, juga pada anak dengan air minum dan makanan yang tidak aman, serta praktik kebersihan yang buruk dan malnutrisi. Oleh sebab itu, tindakan pencegahan meliputi  menyusui  secara eksklusif, penggunaan air dan makanan yang aman, sanitasi dan kebersihan yang memadai, serta nutrisi yang cukup dan vaksinasi.

Tindakan perawatan yang sesuai oleh petugas medis dan kesehatan terlatih meliputi pemberian larutan garam rehidrasi oral rendah osmolaritas (ORS) dan suplemen seng.

Vaksin tersedia untuk beberapa penyakit infeksi pada anak yang paling mematikan, seperti campak, polio, difteri, tetanus, dan pertusis, pneumonia akibat Haemophilius influenzae tipe B dan Streptococcus pneumonia dan diare karena rotavirus. Vaksin dapat melindungi anak balita dari penyakit dan kematian.

Kemungkinan kematian pada anak yang lebih besar, yaitu rentang usia 5 hingga 14 tahun adalah 7,2 kematian per 1.000 anak pada tahun 2017, atau sekitar 18% dari angka kematian balita di tahun 2017. Sekitar 2.500 anak dalam kelompok usia ini meninggal setiap hari dan kematian anak berusia 5-9 tahun menyumbang 61% dari semua kematian anak berusia 5 hingga 14 tahun.

Cidera (termasuk kecelakaan lalu lintas, tenggelam, terbakar, dan jatuh) menempati urutan teratas penyebab kematian dan kecacatan seumur hidup, pada anak yang berusia 5-14 tahun. Pola kematian pada anak yang lebih besar dan remaja, mengalami pergeseran dari penyakit menular menuju pada kecelakaan atau cedera.

Kelainan bawaan atau kongenital, cedera, dan penyakit tidak menular, dalam hal ini mencakup penyakit pernapasan kronis, penyakit jantung didapat, kanker, diabetes, dan obesitas, adalah prioritas yang muncul dalam agenda kesehatan anak global. Kelainan kongenital mempengaruhi sekitar 1 dari 33 bayi, yaitu 3,2 juta bayi mengalami cacat saat lahir setiap tahun.

Beban penyakit global akibat penyakit tidak menular yang mempengaruhi pada masa anak dan terus menerus di kemudian hari, semakin meningkat dengan cepat, meskipun banyak faktor risiko yang sudah dapat dicegah.

Demikian pula, jumlah anak yang kelebihan berat badan di seluruh dunia meningkat dari yang diperkirakan 31 juta pada tahun 2000 menjadi 42 juta pada tahun 2015, termasuk di negara-negara dengan prevalensi rendah gizi buruk pada masa kanak-kanak.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau The Sustainable Development Goals (SDGs) telah diadopsi oleh PBB pada tahun 2015, untuk mempromosikan kehidupan yang sehat dan kesejahteraan bagi semua anak.

Sasaran 3 SDG adalah untuk mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada bayi baru lahir dan balita di tahun 2030.

Terdapat dua target, yaitu:

  1. Mengurangi kematian bayi baru lahir hingga setidaknya 12 per 1.000 kelahiran hidup (SDG 3.1);
  2. Mengurangi angka kematian balita hingga setidaknya 25 per 1.000 kelahiran hidup (SDG 3.2).

Kemajuan diperlukan di lebih dari seperempat dari semua negara di dunia, untuk mencapai target SDG 3.1, pada penurunan kematian balita tahun 2030. Upaya terfokus masih diperlukan di Sub-Sahara Afrika dan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, untuk mencegah 80 persen dari kematian ini.

Apakah kita sudah terlibat membantu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here