Kepingin Langsing

0
140 views
Obesitas alias kegemukan by Ist

“HEBAT”. Saya termasuk 1 per 5 orang “istimewa” di Indonesia. Sayang, konotasinya tidak positif. Yang dimaksud adalah masuk golongan “kegemukan”.

Majalah Gatra edisi terbit 8-14 November 2018 melaporkan hasil “Riset Kesehatan Dasar” (Riskesdas) 2018 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan yang menyebut bahwa seperlima penduduk Indonesia tergolong “obesitas”. Dan saya, meski masih ringan, masuk kategori ini.

Kriteria yang dipakai adalah angka “Indeks Masa Tubuh” atau “Body Mass Index” (BMI). Ia merupakan hasil bagi dari “berat badan dalam kilogram” dengan “kuadrat tinggi badan dalam meter”.

Bila BMI diatas 25.0, mohon maaf, anda tergolong “obesitas”, dengan berbagai tingkatan dan resikonya.

Celakanya, obesitas di Indonesia cenderung naik. Bila tahun 2007 baru pada angka 10.5%, tahun 2013 sudah naik menjadi 14.8%. dan kini bertengger di angka 21.8%. Lebih lagi, obesitas menyerang segala umur, tak kenal tua-muda.

Mempunyai berat badan berlebih, seperti yang saya alami, sering terlihat berperilaku aneh. Mayoritas orang tidak menyukainya, tetapi (sangat) sedikit yang bener-benar berusaha untuk keluar dari area itu. Lebih heran lagi, semua orang tahu bagaimana mencegah masuk, atau mendorong keluar, namun usaha ke arah itu tak juga dilakukannya.

Begitu seseorang mulai mendekat atau bahkan sudah menghampirinya, sejuta satu jurus untuk mengelak dikeluarkan, pembenaran dibuat, dan akhirnya menjadi sesuatu yang bahkan dinikmatinya.

Mekanisme pertahanan diri untuk menjastifikasi “tubuh besar” sering keluar tanpa alasan yang jelas.

Sudah banyak penelitian yang mencari tahu, mengapa obesitas di Indonesia (dan juga dunia) terus melonjak. Banyak sebab sudah diidentifikasi. Beberapa dibungkus dengan kata-kata yang halus agar nampak lebih sopan, seperti kemakmuran, tingkat ekonomi, kemajuan teknologi, dan pola hidup.

Padahal, semua sebab yang penuh basa-basi itu berakar pada satu perilaku manusia yang semakin susah atau malah tak bisa dikelola, yaitu “terlalu banyak makan”.

Input lebih besar daripada output. Itu pun dengan catatan bahwa kualitas dan jenis makanan semakin tinggi dari sisi bahan baku yang diolah tubuh menjadi energi. Bila energi tak juga dikeluarkan akan diubah tubuh menjadi angka BMI yang semakin tinggi.

Pola makan yang semakin “manja”, nampak menguat pada kebiasaan masyarakat Indonesia. Salah satu contoh, pada pesta pernikahan atau upacara lainnya. Self service  atau prasmanan menjadi pemandangan yang biasa.

Tidak hanya menjangkiti kelas menengah ke atas, tapi menjalar ke menengah ke bawah. Prasmanan mendorong para tamu mengambil porsi yang berlebih. Bila belum memenuhi seluruh piring sampai munjung, dianggap belum mengambil makanan.

Di sisi lain, agar tak disebut sebagai pesta yang “biasa-biasa saja”, tuan rumah menyediakan jenis, kualitas dan kuantitas makanan yang wah. Nah, supply, system dan behaviour yang kontra produktif berkumpul menjadi satu, bermuara pada “terlalu banyak makan”. Itu yang mendorong lahirnya masyarakat obesitas.

Bila melayat teman yang meninggal dunia, sering terlihat pelayat, sambil menangis, memeluk keluarga yang bersedih ditinggal saudaranya. Ucapan duka-cita saja nampaknya belum cukup untuk melampiaskan kesedihan yang sedang mendera.

Itu pemandangan yang sering dilihat sehari-hari.

Sebelumnya saya tak mampu memahami, mengapa kebiasaan itu terjadi, sampai kira-kira 3 bulan lalu, saat kami kehilangan keponakan tercinta. Usia yang masih muda, ditambah kedua anak perempuannya yang balita, rasa sedih kami, keluarganya, sungguh tak terperikan.

Dari saat sakit, meninggal, sampai pemakamannya, banyak kerabat dan handai taulan yang datang menghibur kami. Sebagian dari mereka menyatakan simpatinya sambil memeluk keluarga, terutama ibu, suami dan kedua anaknya.

Tak ada pakem-nya, tak ada rencana, tak dibuat-buat, tapi “memeluk” menjadi luapan spontan yang keluar saat dua orang sedang terlibat rasa sedih, bahagia, rindu atau perasaan emosional lainnya.

Yang sedih terlipur, yang bahagia memuncak, yang rindu terobati.

“Memeluk” adalah perilaku yang bermanfaat timbal balik, yang dirasakan langsung oleh kedua pelakunya. “A hug is like a boomerang – you get it back right away”. (Bil Keane – seniman dan kartunis dari Amerika).

Nampaknya, kedekatan fisik, apalagi sampai “memeluk”, melahirkan rasa bahagia karena dipicu oleh keluarnya suatu hormon dalam tubuh yang disebut “Qxytocin”.

Naluri seorang manusia untuk membuat dirinya lebih bahagia, salah satunya adalah, dengan lebih dekat dan akrab dengan sesamanya. Ini sejalan dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial, zoon politicon. Orang yang senang silaturahmi dan saling menyayangi satu sama lain, akan dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rezekinya.

Saya mendapat informasi ini dari seorang teman, dokter ahli saraf, RS Carolus, Jakarta. Informasi dari Pak Dokter tak hanya satu hormon, melainkan empat. Hormon-hormon itu keluar karena manusia melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Selain dekat dengan sesama, berikutnya adalah olah raga.

Setelah melakukan latihan tubuh dengan porsi yang cukup, nafas terengah-engah karena paru-paru sedang berusaha menarik oksigen lebih banyak, dan keringat bercucuran sambil mengeluarkan zat-zat yang tak dibutuhkan. Tubuh merasa lebih segar.

Olah raga membuat pelakunya exciting. Selain menyehatkan, rasa nyaman timbul menyelimuti jiwa dan raga kita.

Olahraga menciptakan hormon “Endorphins”, yang melahirkan rasa bahagia. Terjadi multiplier effect, karena kebahagiaan menyebar ke sesama dalam bentuk kebahagian lain dengan bobot yang berlipat ganda.

Hormon lain yang juga membuat manusia bahagia adalah “Dopamines”. Ia lahir karena seseorang berprestasi dan diakui oleh komunitasnya. Teorinya sederhana, prestasi lahir dari kerja keras dan pantang menyerah (Outliers, Malcolm Gladwell, 2008). Ketika pencapaian sudah digenggam, recognition akan berdatangan dari sekeliling kita.

Dari sisi lain, memberi pengakuan kepada sahabat yang berprestasi dapat melahirkan hormon Dopamines dalam dirinya, yang akhirnya membuatnya bahagia. Ini sejalan dengan pendapat Frederick Herzberg yang menggolongkan recognition sebagai motivator (Two Factors Theory, 1987). Manusia yang mempunyai motivasi tinggi dalam bekerja, pada umumnya juga memancarkan rasa bahagia.

“Serotonin” adalah hormon yang keluar karena seseorang bermanfaat bagi orang lain. Ajaib, ketika seseorang memberi, tidak saja si penerima mendapat manfaat dari pemberian itu, tapi si pemberi juga merasa bahagia karenanya.

Sekiranya faedah “memberi” dipahami dan diikuti oleh semakin banyak orang, tak susah membuat dunia ini damai sejahtera. Orang akan berlomba-lomba memberi, karena pada dasarnya manusia ingin bahagia. Ketika banyak orang bahagia, konflik akan mereda. Damai akan menjalar ke seluruh umat manusia. “Meaningful giving makes people happy”.

Sering kebahagiaan dikejar kesana-kemari. Kebanyakan dengan arah dan besaran yang keliru. Ternyata, kebahagiaan sepenuhnya dapat kita kelola. Dekat dan akrab dengan sesama, fisik dan batin. Rutin berolah-raga yang cukup. Berprestasi setinggi-tingginya, hingga diakui dan diapresiasi oleh orang lain. Dan selalu memberi dengan tulus.

Keempat aktivitas itu akan menciptakan hormon-hormon yang membuat bahagia. Nah, bila rasa bahagia yang anda cari, lakukan keempatnya. Maka, anda akan menjadi manusia beruntung karena merasa berbahagia hidup di dunia ini.

“Happiness is not something ready made. It comes from your own actions”. Dalai Lama

@pmsusbandono
25 November 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here