Ketika Aku Haus, Kamu Memberi Aku Minum

0
106 views
Rombongan pezairah gabungan dari Banjarmasin, Malang, Surabaya, Bandung, dan Tangerang dalam program Ziarah Mengenang Kisah Exodus di depan Sumur Musa di Mara, Mesir. (Asmi Arijanto)

BERADA di atas Pegunungan Jaya Wijaya bagai sebuah mimpi. Namun itulah kenyataannya.

Akhir Desember 1999, saya mendapat keberuntungan untuk berada di punggung gunung yang berhiaskan emas, perak dan tembaga itu. Saya memang ingin sekali menginjakkan kaki di gunung itu, apalagi kesempatan itu belum tentu terulang kembali.

Guide dari PT Freeport yang berkantor di Kuala Kencana, Timika, Mas Luki Irawan, memarkirkan mobilnya di depan rumah untuk para tamu, begitu kami tiba di Tembagapura. Udara yang dingin sekitar 10 derajat itu sungguh menusuk tubuh. Karena itu, secangkir teh hangat yang disajikan di ruang tamu itu sungguh menyegarkan. Tubuh terasa hangat kembali.

Setelah mengganti sepatu dan jaket kuning lengkap dengan topinya, seorang guide lain mengajak saya untuk meneruskan perjalanan. Kami menuju tambang emas Ersberg yang terletak di ketinggian 3.000 meter.

Tampak gunung-gunung yang berlapis-lapis yang seolah menanti untuk dieksplorasi. Gunung-gunung berbatu itu memancarkan kemilau dari bebatuannya yang menonjol. Sementara desiran sungai yang jernih memercik menuju laut bersama pasir-pasir limbah tambang.

Namun Ersberg yang sudah ditinggalkan itu belum memberikan gambaran apa-apa bagi saya tentang wilayah pertambangan milik PT Freeport yang terkenal itu. Kami masih harus menembus 1.100 meter lagi untuk menyaksikan dari dekat proses eksplorasi tambang terbuka itu.

Dengan kereta listrik, kami meneruskan perjalanan menuju tambang Grassberg. Perjalanan yang menanjak.

Dari atas kereta listrik tampak keindahan alam Jaya Wijaya yang menakjubkan. Kabut-kabut yang tipis menambah indahnya alam pagi itu. Hatiku berdecak kagum. Mentari pagi menerpa punggung gunung. Namun tidak menghilangkan cuaca dingin di ketinggian 4.100 meter itu.

Udara tetap dingin. Cuma delapan derajat Celcius. Sementara Puncak Jaya menorehkan senyumnya, sehingga giginya yang putih tampak berkilau. Salju abadi masih tetap lengket di puncaknya.

Jaya Wijaya memang indah. Namun setelah berkeliling sambil mendengarkan penjelasan dari sang guide, kerongkongan saya terasa sangat kering. Saya merasa haus meski udaranya dingin. Haus sekali. Biasanya saya bisa tahan terhadap rasa haus.

Namun kali ini saya menyerah.

“Mas, punya air?” saya bertanya kepada guide itu tanpa merasa malu.

“Romo haus? Kan belum lama minum di mes tadi?,” ia agak terkejut.

“Saya tidak tahu kenapa. Tetapi sekarang saya merasa haus sekali. Kalau ada air di dekat sini, tolonglah,” saya memandang wajahnya.

“Kalau begitu kita kembali ke ruang pengawasan. Di sana ada minuman yang segar,” kata guide itu.

Kami pun menuju ruang itu. Satu kaleng Sprite kuteguk habis. Lumayan, bisa sejenak menghilangkan rasa dahaga. Kerongkong saya terasa basah. Beberapa saat saya merasa segar kembali

“Nah, saya sudah segar sekarang.Mau ke mana lagi?,” saya bertanya kepada sang guide yang menunggui saya meneguk sekaleng Sprite itu.

“Kita istirahat sebentar di sini. Setelah itu kita turun ke Tembagapura lagi,” kata sang guide sambil melemparkan seuntai senyum manisnya.

Tidak lama kemudian kami pun berangkat menuju kereta listrik yang selalu siap itu. Udara masih dingin, meski sudah jam sebelas siang. Sementara kabut mulai berdatangan menyelimuti daerah sekitar tambang.

Namun dalam suasana seperti itu saya merasa haus lagi. Kali ini lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Kerongkong saya sungguh-sungguh kering. Saya tidak tahu mengapa hal itu terjadi.

Saya berusaha untuk menahan rasa haus itu hingga kami tiba kembali di rumah untuk tamu di Tembagapura. Begitu tiba langsung saja secangkir teh manis saya teguk. Sejenak rasa haus pun sirna. Lantas saya menenggak lagi segelas air putih. Plong! Hilang sudah rasa haus saya. Tubuh terasa segar kembali.

Haus! Saya yakin bahwa kita semua pernah merasakannya.

Haus adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Setiap orang dan bahkan semua makhluk hidup mengalami itu.

Ketika kita haus, naluri kita mendorong kita untuk mengambil segelas air untuk kita teguk. Kita merasa segar setelah minum. Namun jika kita tidak minum, kita akan mengalami sakit kepala atau mati karena kekurangan cairan. T

anaman-tanaman akan cepat layu dan bahkan akan mati, kalau dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka membutuhkan air.

Ketika orang-orang Israel berada di padang gurun, mereka mengerutu terhadap Musa karena haus. Mereka sangat membutuhkan air, namun tiada setetes air pun di padang gurun.

“Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum. Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” protes mereka kepada Musa (Kel. 17:2-3).

Pada waktu itu, air sangat penting bagi orang-orang Israel, karena mereka akan mati kehausan kalau setetes air segar tidak mendarat di kerongkong mereka.

Ketika mereka menemukan Sumur Mara, mereka sangat bersukacita. Namun mereka tidak bisa meminumnya, karena airnya pahit. Lalu Musa melemparkan ranting ke dalam sumur itu, sehingga airnya berubah menjadi manis. Mereka pun mengambil air itu dan melepaskan dahaga mereka.

Ketika Yesus berada di kayu salib, Ia berseru, “Aku haus.” Ia membutuhkan air untuk minum. Pengalaman kemanusiaan Yesus sama seperti pengalaman kita yang hidup di dunia sekarang ini.

Ketika kita haus, kita membutuhkan air untuk minum.

Namun pengalaman manusiawi akan haus tidak hanya terjadi secara fisik. Manusia dapat mengalami haus dalam kehidupan rohani yang membawa mereka kepada kehampaan dalam hidup. Mereka sulit menemukan sumber kehidupan, karena hati mereka haus.

Karena itu, Yesus berkata, “Barangsiapa minum air ini akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, tidak akan haus untuk selama. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya menjadi mata air di dalam dirinya yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:13-14). Persoalannya adalah bagaimana kita menemukan air yang telah Yesus janjikan itu?

Di dunia sekarang ini banyak orang haus akan kasih, perhatian, harapan dan iman. Mereka membutuhkan air yang diberikan dengan kasih, karena hati mereka dilanda kekeringan.

Mereka selalu butuh untuk membangun hubungan dengan mereka yang dapat membersihkan ’padang gurun’ dari hati rnereka dan memberi keteguhan iman kepada mereka. Mereka mengharapkan tangan-tangan kuat yang dapat menuntun mereka kepada kehidupan yang lebih baik.

Mereka menantikan seseorang yang dapat membawa mereka kepada air kehidupan dan menuntun mereka kepada Yesus yang berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum.

Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatiNya akan mengalir atiran-aliran air hidup” (Yoh. 7:37-38).

Untuk itu, kita mesti membangun iman yang kokoh kepada Tuhan Yesus yang menjadi sumber air hidup bagi kita. Kita mesti percaya kepada Yesus seperti perempuan Samaria yang berkata, “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

Mengapa perempuan Samaria itu sampai berkata begitu? Karena ia telah menemukan Yesus dan menyerahkan dirinya kepadaNya.

Ia sadar bahwa ia berhadapan dengan Yesus yang adalah air kehidupan yang tidak pernah berhenti mengalir.

Namun kita juga ingin memberikan air kepada mereka yang haus, “Ketika Aku haus, kamu memberi aku minum,” kata Yesus kepada para pendengarnya.

Artinya, jika kita memberi air kepada mereka yang haus kita melayani Yesus dan akan masuk ke dalam kerajaanNya dalam kemuliaan.

Air kehidupan yang kita peroleh dari Tuhan Yesus ternyata bukan untuk diri kita sendiri saja. Air yang tidak akan binasa itu mesti kita bagikan kepada semua orang yang membutuhkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here