Ketika Aku Telanjang, Kamu Memberi Aku Pakaian

0
135 views
Orang miskin di musim dingin by CFH Org,

MUSIM dingin 1996 sungguh-sungguh luar biasa dingin. Apalagi tinggal di kota seperti Milwaukee, Wisconsin (USA), yang terletak di tepi Danau Michigan. Suhu udara dalam beberapa hari di bulan Februari 1996 itu mencapai 32 derajat Celcius di bawah nol.

Sungguh luar biasa dingin bagi orang-orang yang berasal dari daerah tropis seperti saya.

Namun aktifitas-aktifitas tetap berjalan. Tidak ada kuliah yang diliburkan, karena udara dingin dan hujan salju.

Dalam situasi seperti itu yang menarik bagi saya adalah seorang gelandangan dengan pakaian compang-camping di sebuah soup kitchen (dapur sup untuk orang-orang miskin) di Kota Milwaukee.

Menurut keterangan yang saya peroleh dari pengurus soup kitchen itu, orang itu selalu mampir setiap hari untuk memanaskan diri dan mendapatkan semangkuk sup. Ia juga diberi pakaian yang tebal untuk melindungi tubuhnya dari suhu udara yang sangat dingin itu.

Siang itu, saya memang sengaja mampir di soup kitchen itu. Lelaki berusia lima puluhan tahun itu berjalan tertatih-tatih menuju pintu soup kitchen. Ia mendorong pintu rumah, karena sudah terbiasa mampir di situ. Wajahnya kering kemerahan usai diterpa udara dingin dengan angin sepoi-sepoi yang senantiasa berhembus dari Danau Michigan.

Lantas ia duduk di kursi yang sudah disiapkan. Lalu ia melepaskan sarung tangan kumalnya dan memasukkannya ke dalam saku mantolnya. Kemudian ia melepaskan topi yang menutup kepalanya. Tampak kepalanya yang sudah kehilangan rambut. Seuntai senyum menghiasi wajahnya yang dipenuhi janggut.

Sebuah senyum pengharapan.

Begitu ia masuk, pengurus soup kitchen langsung memberinya mantol tebal. Namun dingin tidak begitu saja lenyap dari tubuhnya. Ia masih menggigil kedinginan.

Sambil menikmati semangkuk sup yang masih panas, tangan orang itu bergetar kedinginan. Lantas ia mendekatkan dirinya ke alat pemanas yang ada di pinggir tembok rumah. Ketika datang, tangannya mengkerut, telinganya memerah, bibirnya pecah-pecah dan wajahnya kering. Semangkuk sup yang panas dan alat pemanas ruangan kemudian perlahan-lahan menghilangkan dinginnya itu. Usai makan, ia masih duduk di soup kitchen itu.

”Kalau dia tidak ingin kedingingan, dia mesti datang ke sini. Kami biasa beri dia mantol yang tebal di awal musim dingin,” kata salah seorang pengurus soup kitchen itu.

”Sangat dingin di luar sana. Saya sangat membutuhkan mantol yang lebih tebal lagi. Biar nanti malam saya tidur lebih enak,” kata orang itu kepada petugas soup kitchen yang lalu memberinya tambahan mantol.

Sebagai orang yang tidak punya rumah (homeless), mantol di musim dingin menjadi sebuah perlindungan yang sangat ampuh baginya. Ia dapat menggunakan mantol itu untuk melindungi dirinya dari salju yang sering turun menerpa bumi Milwaukee.

Bagi seorang lelaki jalanan, musim dingin memang suatu perjuangan hidup atau mati. Ia mesti mendapatkan pertolongan dari sesamanya. Ia tidak bisa berjuang sendirian mengarungi kehidupan yang belum tentu arahnya. Tangan-tangan kasih dari sesama sungguh memberi semangat hidup untuk terus melangkahkan kaki dan menegakkan kepala.


“Untung masih ada orang yang mau membantu kami di musim dingin seperti ini. Hari ini, saya sudah mendapatkan semangkuk soup. Ada tambahan mantol. Mudah-mudahan saya bisa bertahan sampai musim gugur nanti,” harap orang itu.

Di dunia sekarang ini ada begitu banyak orang miskin yang tidak punya pakaian. Kondisi seperti ini tidak hanya menimpa manusia dari negara-negara miskin, namun juga di negara-negara kaya seperti USA.

Di Amerika Serikat, terutama di kota-kota besar seperti New York, Chicago, Philadelphia, Milwaukeem dan beberapa kota lainnya orang-orang miskin selalu terancam oleh dingin di musim dingin, karena kekurangan pakaian. Mereka sangat menderita kedinginan di musim dingin yang sering dilanda badai salju dan kulit mereka terbakar hangus di musim panas. Mereka menangis namun sedikit orang saja yang mendengarkan suara-suara mereka.

Di negara-negara seperti Rwanda, Ethiopia, Bosnia, Brasil, Cuba, Vietnam, Irak dan Afganistan atau di tanah air kita sendiri banyak orang menderita kekurangan pakaian. Mereka tidak punya cukup pakaian.

Padahal produksi pakaian dalam negeri sangat banyak. Tumbuh pabrik-pabrik tekstil yang menghasilkan pakaian jadi dalam jumlah yang sangat besar.

Perang yang berkelanjutan dan situasi yang sulit di beberapa negara menyebabkan orang-orang kehilangan pekerjaan dan harapan akan masa depan. Mereka menjadi para pengemis yang tanpa malu menjulurkan tangan-tangan mereka yang berdaki di jalan-jalan raya menantikan sebersit belas kasihan.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana mereka akan mengatasi masalah-masalah mereka. Siapa yang akan mengubah situasi-situasi itu, sehingga mereka dapat melanjutkan hidup mereka di dunia yang fana ini?

Sebagai orang-orang kristiani, kita dipanggil untuk memberi perhatian kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan sesamanya. Orang-orang itu membutuhkan bantuan yang kita beri dengan kasih dan kegembiraan.

Yesus berkata bahwa orang yang memegang teguh perintah-perintahNya adalah orang yang mencintaiNya; dan barangsiapa mencintaiNya akan dicintai oleh BapaNya. Apa artinya? Artinya, kita sebagai kawananNya mesti mengungkapkan kasih kita kepada sesama dan dalam hal ini kepada mereka yang sedang telanjang.

Kita tahu bahwa banyak orang tidak punya pekerjaan atau telah kehilangan pekerjaan mereka. Terjadi begitu banyak PHK di sejumlah negera. Akibatnya, terjadi gelombang pengangguran yang begitu besar jumlahnya.

Mereka bingung bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga mereka, terutama dalam hal pakaian. Tanpa pekerjaan, mereka tidak dapat berbuat sesuatu pun untuk diri mereka sendiri. Di wajah mereka kita menjumpai raut wajah yang sedih dan menderita.

Hingga sekarang Yesus tetap mempunyai konsen terhadap orang-orang miskin.Yesus adalah milik mereka dan berjuang bersama mereka melalui RohNya. Ia memberikan cintaNya kepada mereka melalui kita semua. Kita semua dapat menjadi Yesus yang dapat menyelamatkan mereka dari penderitaan mereka.

Yesus berkata, “Dan raja itu akan menjawab: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here