Kevikepan Kategorial Kerohanian Keuskupan Malang: Rekoleksi Generasi Milenial

0
136 views
Diskusi membuat konten pada Vlog. (Laurensius Suryono)

MEREKA yang lahir setelah tahun 1995 boleh dikatakan akrab dengan berbagai aplikasi di antaranya: WhatsApp, Facebook, Twitter, dan Instagram.  

Jari-jari mereka sangat lincah untuk mengusap permukaan datar smartphone, memilih aneka menu yang tersedia dan dibutuhkan serta menekannya bila sudah sesuai untuk dinikmati. Boleh dikata mereka terbiasa di era digital ini, bahkan ada yang sudah dikenalkan dengan gadget sejak balita.

Romo Dr. Antonius Denny Firmanto Pr.

Kemana saja mereka pergi telepon pintar ini selalu dibawa mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi tak terkecuali ketika pergi ke sekolah. Bahkan tugas-tugas sekolah juga ada dalam genggaman mereka termasuk ketika harus mencari jawab atas tugas tersebut.

Mereka inikah yang disebut dengan Generasi Millenial?

Generasi Millenial generasi yang aktif selalu ingin tahu melalui aktifitas ‘searching’.  Apa yang mereka cari, mereka mencari apa yang disukai misalnya: mode pakaian, makanan, game, tiket KA, dan spot yang unik.

Demikian pengantar yang disampaikan oleh Romo Antonius Denny Firmanto Pr dalam Rekoleksi Generasi Milenial yang dilaksanakan dalam rangka Prapaskah 2019 di Gedung KSB Paroki Kayu Tangan Malang.

Generasi Milenial memiliki:

  1. Keterampilan komunikasi interpersonal yang baik, selalu dalam jaringan, selalu mempunyai teman.
  2. Adanya kesadaran multikultural, bahwa mereka hidup diantara berbagai orang yang mempunyai latar belakang agama berbeda; suku, bahasa dan budaya yang beraneka ragam. Termasuk bersedia melayani tanpa memandatang latar belakangnya.
  3. Kesadaran kesetiakawanan sosialnya tinggi, cepat tanggap bersikap untuk membantu mereka yang sedang mengalami masalah atau korban bencana.

Generasi Milenial juga menghadapi tantangan dalam beriman kepada Yesus,

  1. Merasa minoritas tersisih, terkucilkan atau tidak kelihatan dalam kehidupan publik
  2. Penyebaran berita palsu atau bohong yang membanjiri gadge mereka
  3. Pemikiran relativisme (semuanya sama saja, semuanya sama-sama baiknya),

maka mereka perlu pendampingan.

Bagi Johanes sebagai murid Yesus, ia sangat berkesan kepada Yesus karena pengajaran-pengajarannya yang berbeda dengan para pemuka agama Yahudi, ia juga menemukan kisah-kisah yang menakjubkan pun pula membawa kegemparan namun tetap dalam situasi menggembirakan.  

Namun tidak dipungkiri ada aneka pilihan dalam menanggapi iman kepada Yesus :

  1. Mengundurkan diri, setelah mendengar pengajaran lalu menilai bahwa pengajaranNya keras dan beda dengan apa yang selama ini dialaminya, maka memutuskan ‘mengundurkan diri’ (Yoh.6: 60-66)
  2. Menyangkal Yesus, lebih tragis lagi kalau dihadapan orang banyak dengan terang-terangan menyangkal Yesus.  (Yoh.18: 25-27), atau sebaliknya bahkan
  3. Masuk dalam proses pemuridan seperti Nikodemus yang dengan diam-diam pada waktu malam mengagumi Yesus (Yoh.3: 2), mulai memberanikan diri membela Yesus seperti para penjaga-penjaga (Yoh.7: 45-47), dan bersaksi sebagai murid Yesus dengan cara hadir di pemakaman saat Yesus dimakamkan serta menyampaikan persembahannya berupa minyak mur dan minyak gaharu. (Yoh.19: 39)
Fasilitator yang energik dan kreatif.

Yesus Kristus pernah bertanya kepada para murid termasuk Johanes “Apakah yang kamu cari?” (Yoh.1:38). Pertanyaan ini juga relevan untuk kita semua pada saat ini.  Generasi Millenial perlu mencari Yesus dan tinggal bersama Yesus agar imannya tumbuh dalam kebersamaan dengan komunitas.

Generasi Millenial harus berani bersaksi, karena bersaksi adalah konsekuensi dari beriman dalam bentuk tindakan sehari-hari dalam moralitas Katolik. Kesaksian iman bahwa Yesus adalah Mesias, Yesus adalah Penolong dan Anak Domba Allah.

Moralitas Katolik dilihat dalam hubungannya dengan hukum-hukum yang dibentuk dalam Iman, Kasih, dan Harapan, dan mengingatkan akan tujuan akhir dari kehidupan yang sekarang yakni hidup dalam hadirat Allah, serta pengalaman iman yang menyertai kehidupan kita yang telah lalu sehingga dapat memandang Yesus Juru Selamat atau penolong ketika dalam kesulitan.

Peserta rekoleksi

Rekoleksi yang diselenggarakan oleh Kevikepan Kategorial Bidang Kerohanian Keuskupan Malang ini menurut Panitia pada mulanya terdaftar secara online 90-an peserta tetapi pada hari pelaksanaan yakni Minggu 24 Maret 2019 yang hadir sebanyak 69 orang, lebih dari 90% orang muda Katolik baik yang berasal dari paroki-paroki di Kota Malang dan sekitarnya ataupun utusan dari organisasi Katolik, serta anggota keluarga mahasiswa Katolik dari beberapa kampus di Kota Malang.

Panitia penyelenggara juga para orang muda Katolik yang lincah super semangat penuh kreatif dengan yel-yel dan lagu-lagu khas orang muda Katolik. Mereka pula yang menjadi fasilitator ketika diskusi dan pengunggahan hasil diskusi.

Peserta Rekoleksi Generasi Milenial.

Vlog sebagai hasil akhir

Pada sesi kedua setelah istirahat makan siang, Romo Denny masih menyampaikan pengantar untuk masuk ke dalam diskusi. Peserta dibagi ke dalam 7 kelompok diskusi dengan tema yang mereka rumuskan sendiri yang intinya tentang “Orang Muda Berani Mewartakan Yesus Kristus”.

Setelah diskusi dalam kelompok mereka membuat video-Blogging dengan latar belakang mengambil tempat di sekitar halaman Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Malang.

Ada yang berperan sebagai bintang tamu bak artis, ada pula sebagai reporter dadakan dan semua direkam oleh cameraman insidental alias spontan. Hasilnya diunggah ke dalam suatu laman yang sudah ditentukan oleh panitia serta dapat dilihat oleh para peserta.

Kesan peserta

Beberapa peserta menyampaikan kesannya setelah mengikuti Rekoleksi Generai Millenial ini dengan mengatakan:

  • “Ah siyapp sangat menarik dan bermanfaat.”
  • “Senang sekali walaupun hanya sehari tapi memiliki kesan yang luar biasa karena bisa bertemu dengan saudara baru dan saling sharing.”
  • “Seru waktu membuat vlog.”
  • “Monggo dilihat hasil kerja sama kami kelompok 2 saat rekoleksi tadi”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here