Kisah Badrun

0
135 views
Presiden okowi IMF World Bank by Agus Tri

NAMANYA Badrun. Asal Sukabumi, etnik Sunda. Profesinya tukang kebun merangkap penjaga di rumah tetangga kami. Orangnya sederhana, lugu, dan rendah hati. Tak pernah keluar nada bicaranya yang mengunggulkan dirinya. Khas orang kecil yang apa adanya.

Saya kadang bertemu saat nongkrong di pos ronda di ujung gang rumah kami. Ngobrol apa saja, sekenanya. Diskusi ringan yang tak ada juntrungannya. Dari soal got mampet, kebersihan jalan kampung, musim hujan, sampai spanduk dan poster kampanye caleg yang menghias dinding sepanjang jalan kampung kami.

Lebih asyik kalau omong-kosong soal remeh-temeh, katimbang nonton debat kusir politik di TV yang ujungnya memecah-belah persatuan bangsa.

Yang menarik dari Badrun adalah ketaatan dan ketepatannya dalam beribadah. Sesaat sebelum azan berkumandang, Badrun minta diri, bergegas pulang dan tak lama kemudian keluar rumah berpakaian rapih. Badrun menunaikan sholat di mesjid dekat rumah.

Sampai di situ, kisah Badrun belum terlalu menarik, sampai tadi pagi, saat berjalan kaki untuk mengikuti misa Minggu pagi, saya jumpa Badrun membopong ransel di punggungnya.

Seperti biasa, dia menyapa ramah seraya mengucapkan: “Selamat beribadah pak”. Kami beriringan jalan sambil berbincang sekenanya.

Setiap bulan Badrun menjalankan ritual rutin pulang kampung ke Sukabumi. Keluarganya tinggal di sana. Dengan muka berbinar Badrun mulai bercerita tentang Sukabumi. Saya terpaku mendengarnya.

“Sekarang sudah enak pak. Jalan ke Sukabumi mulai lancar. Sebagian ruas jalan sudah lewat tol. Tinggal sebentar lagi, pulang kampung naik bis umum hanya dua setengah jam dari Bogor”.

Badrun belum usai, meski sebetulnya kami sudah harus berpisah karena arah tujuan yang berbeda. “Ya ampun pak, dulu kalau pulang ke Sukabumi saya jengkel karena capai setengah mati duduk di bis sampai 6 jam. Sekarang lega pak. Lega…. Ngga lagi kesel kalau lagi mudik”.

Nampaknya Badrun merasa ada tempat menyalurkan uneg-uneg. Dan saya rela menjadi saluran katarsis yang mungkin saja bisa meringankan bebannya.

“Untung pak, Presiden sekarang memperhatikan kepentingan rakyat kecil seperti saya. Ngga tahu apa yang dilakukan pemerintah-pemerintah sebelum ini”.

Saya terpaksa memotong curhatnya karena harus berpisah dengannya. Saya harus mengambil arah yang berbeda dengannya. “Hati-hati Drun. Salam untuk isteri dan anak-anakmu”. Nampaknya, Badrun tak mendengar lagi ulukan salam saya.

Sebelum misa dimulai, saya masih sempat merenung tentang manusia seperti Badrun. Orang yang sama sekali tak mempunyai pretensi kepentingan apa pun. Dia beragama dengan kafah. Ibadah ritual dan ibadah sosial dijalankan dengan pas, sepenuh hati, ikhlas, jujur, riang-gembira dan penuh welas asih.

Ini yang juga kemudian saya dengar dalam bacaan-bacaan Kitab Suci Minggu pagi ini.

“Bersuka citalah, dan berbagilah kepada sesamamu”. Begitu inti kotbah yang saya dengar diantara kantuk yang harus saya tahan.

Ada perbedaan antara saya dengan Badrun. Kalau saya baru mendengar dan memahami pesan Romo, Badrun sudah menjalankannya dengan perilaku sehari-hari.

Badrun
@pmsusbandono
Minggu pagi, 16 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here