Kuliah Umum bersama Paus Fransiskus di Napoli: Kiblat Teologi di Zaman Kontemporer

0
257 views
Paus Fransiskus memberi kuliah umum di Napoli.

BEBERAPA bulan sebelumnya, tepatnya Februari 2019, segenap civitas academica Pontificia Facoltá Teologica dell’Italia Meridionale Sezione San Luigi-Napoli –selanjutnya disebut PFTIM San Luigi-Napoli– mendapat kabar gembira mengejutkan.

Kabar gembira tersebut menyebutkan Bapa Suci (Santo Padre) Paus Fransiskus akan mengunjungi lembaga pendidikan calon imam dan awam katolik yang dikelola oleh para Jesuit ini.

Kunjungan ini jatuh pada tanggal 21 Juni 2019. Bapa Suci menyelenggarakan kuliah umum (convegno) bersama segenap civitas academica San Luigi dan para undangan lainnya. Kuliah umum tersebut bernaung di bawah tema La Teologia dopo Veritates Gaudium nel Contesto del Mediterraneo.

Kabar tentang kunjungan dari Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia ini disampaikan secara resmi oleh Dekan Universitas San Luigi, Pater Pino Di Luccio SJ.  Kabar gembira dirilis melalui surat resmi tertanggal 11 Februari 2019 dan dipublikasikan melalui situs resmi Universitas San Luigi-Napoli.

Penampakan kampus dari ketinggian.

Berita ini pun segera tersiar luas baik di dalam maupun di luar universitas. Perlu diakui bahwa semenjak saat itu juga sebagian besar mahasiswa (terutama bagi mereka yang belum bertatapan muka secara langsung Bapa Suci, termasuk saya dan beberapa teman Indonesia lainnya), menaruh sebuah harapan agar momen ini kelak menjadi momen yang indah dan bersejarah.

Ada harapan untuk bisa berbicara empat mata dengan Bapa Suci, kendatipun pada akhirnya harapan itu harus tertunda.

Waktu pun terus bergulir. Berbagai persiapan pun terus ditingkatkan. Dalam bidang akademik, diadakan beberapa seminar akbar dengan tema-tema yang menarik. Misalnya saja, seminar akbar yang berlangsung selama dua hari penuh (9 dan 10 April 2019) dengan tema “Kristiani, Gereja dan Korupsi dalam Sejarah” (Cristiani, Chiesa e Corruzione nella Storia).

Ada penerbitan buku-buku terbaru dari segenap para dosen San Luigi. Selain itu, dari segi tata kelola bangunan, ada renovasi bangunan dan peningkatan infrastruktur kampus. Tak hanya itu, secara personal juga setiap pribadi mengatur jadwalnya sedemikian rupa agar kelak bisa hadir dalam momen bergengsi ini.

Singkatnya, masing-masing pihak mempersiapkan segala sesuatu secara matang demi menghadiri kuliah umum yang dipersentasikan oleh Uskup Keuskupan Roma ini.

Detik-detik kunjungan dari Bapa Suci pun sebentar lagi akan tiba. Sehari sebelum Bapa Suci tiba, tepatnya tanggal 20 Juni 2019, kembali diadakan sebuah seminar akbar (sesi pertama) dan akan dilanjutkan pada tanggal 21 Juni 2019 (sesi kedua) sekaligus sebagai hari pucak.

Seminar sesi pertama

Sesi pertama ini disebut dengan Sesi Analisis Konteks (Analisi del contesto). Sesi ini menghadirkan beberapa pembicara dengan tema yang berbeda. Ada Prof. Valerio Petrarca dari Universitas Federico II- Napoli dan Prof. Carmelo Torcivia dari Universitas PFTIM-San Luigi.

Keduanya menggarap tema tentang migrasi (le migrazione). Lalu ada Prof. Secondo Bongiovanni  SJ dari Universitas PFTIM San Luigi dan Prof. Giorgio Marcello.

Keduanya menggodok tema tentang interkulturalitas (l’interculturalitá). Selain itu, ada Prof. Pina De Simone dan Prof. Donatella Abignente dari Universitas PFTIM San Luigi.

Keduanya mempersentasikan tentang dialog dalam konteks Mediterania (il dialogo nel contesto del Mediteraneo). Pembicara terakhir untuk sesi analisis konteks ini adalah Prof. Fabrizio Mandreoli yang mengupas tentang teologi macam mana yang harus diterapkan dalam konteks Mediteraneo (Quale teologia nel contesto del Mediterraneo?).

Sesi pertama pun selesai.

Seminar sesi kedua

Sedangkan di sesi kedua (seconda parte), ada beberapa pembicara yang akan tampil sebelum Papa Fransiskus memberikan kuliah umum. Sesi ini disebut dengan sesi “Proposte” (usulan-usulan).

Para pembicara yang tampil adalah Prof.  Jean Paul-Hernandes SJ dan Prof. Giorgio Agnisola dari Universitas PFTIM San Luigi.

Keduanya membahas tema tentang kesenian sebagai tempat pertemuan dan dialog antarbudaya Mediteranea. Lalu  ada Prof. Sihem Djebbi, dosen di Universitas di Siena dan Universitas Sorbonne-Paris XIII dan Prof. Meir Bar Asher, dari Universitas Ibrani, Jerusalem yang mengangkat tema tentang dialog dengan agama-agama lain (il dialogo con le latre religione).

Lalu ada Prof. Francisco Ramirez Fueyo SJ dari Universitas Pontifika Comilas, Madrid.

Ia mengangkat tema tentang disernimento sebagai metode dalam menyelesaikan ketegangan antitesis (il discernimento come metodo di risoluzione delle “tensioni antitetiche). Dan kedua pembicara terakhir adalah Prof. Sergio Tanzarella dan Prof. Anna Carafora dari Universitas PFTIM San Luigi-Napoli. Keduanya menyuguhkan tentang kesaksian-kesaksian dan usulan-usulan (testimonianze e proposte). 

Puncak dari seluruh kegiatan dan persiapan pun tiba. Suasana kampus pun tentu sangat berbeda. Di sepanjang jalan Francesco Petrarca 115, 80122-Napoli-NA (jalan menuju kampus) berjejeran sejumlah banyak tim keamanan dan di beberapa titik terlihat para wartawan yang hendak meliputi kunjungan yang istimewa ini.

Paus datang memberi kuliah umum di Napoli.

Di gerbang utama, ratusan orang bersesakan dan membentuk barisan yang panjang untuk masuk lokasi seminar. Di awal kegiatan, Pater Pino Di Luccio SJ selaku Dekan PFTIM San Luigi, menyampaikan “benvenuto” — selamat datang kepada Carissimo (Yang Terkasih) Papa Fransiskus dan kepada segenap hadirin.

Lanjutnya, “kami merasakan bahwa kehadiran Santo Padre pada kesempatan ini merupakan hadiah khusus dari Roh Kudus.”

Teologi sesudah Veritatis Gaudium

Pada kunjungan yang istimewa ini, di hadapan seluruh seluruh civitas academica San Luigi dan para simpatisan serta seluruh umat Kristen di dunia (atau pun yang non Kristen tapi mempunyai kehendak baik), Papa Fransiskus memperdengarkan suara profetisnya. Salah satu poin penting yang ditekankan oleh Paus kelahiran Argentina ini adalah perihal kiblat teologi sesudah Veritatis Gaudium.

Mungkin pertanyaannya adalah apa sumbangsih teologi di zaman kontemporer ini? Atau ke mana arah dari teologi diwujudnyatakan?

Paus yang memiliki nama lengkap Jorge Mario Bergoglio ini menjelaskan secara gamblang tugas  teologi untuk kehidupan manusia dewasa ini. Bapa Suci mengatakan bahwa hakikat teologi dalam konteks Mediteranea (juga untuk Gereja Universal) adalah teologi yang mengedepankan sikap penerimaan (l’accoglienza) dan mengedepankan semangat untuk membangun dialog dengan sesama khususnya dengan agama-agama lain.

“Direi che la teologia, particolarmente in tale contesto, è chiamata ad essere una teologia dell’accoglienza e a sviluppare un dialogo sincero con le istituzioni sociali e civili, con i centri universitari e di ricerca, con i leader religiosi e con tutte le donne e gli uomini di buona volontà, per la costruzione nella pace di una società inclusiva e fraterna e anche per la custodia del creato.”

“Saya ingin mengatakan bahwa teologi, dalam konteks Mediterania ini (juga untuk Gereja Universal) dipanggil untuk menjadi sebuah teologi penyambutan atau penerimaan dan mengembangkan sebuah dialog yang jujur dengan institusi-instituti sosial dan masyarakat, dengan pusat-pusat universitas dan penelitian, dengan para pemimpin agama dan semua perempuan dan laki-laki yang memiliki kehendak baik, demi terciptanya sebuah perdamaian dalam sebuah masyarakat yang inklusif dan penuh persaudaraan dan demi keutuhan ciptaan.”

Saripati dari teologi accoglienza dan teologi dialogo terletak pada sikap keterbukaan dari Gereja untuk menerima dan membangun dialog dengan kelompok-kelompok lain. dialog dengan kelompok-kelompok lain dapat menjadi jalan yang sehat dalam memperat semangat persaudaraan.

Paus Fransiskus menegaskan bahwa:

 “Nel dialogo con le culture e le religioni, la Chiesa annuncia la Buona Notizia di Gesù e la pratica dell’amore evangelico che Lui predicava come una sintesi di tutto l’insegnamento della Legge, delle visioni dei Profeti e della volontà del Padre.”

“Dalam dialog dengan budaya-budaya dan agama-agama lainnya, Gereja mewartakan Sabda Bahagia dari Yesus dan karya cinta kasih Injili yang Dia wartakan merupakan sebuah sintesis dari seluruh ajaran Hukum Taurat, Pewahyuan para Nabi dan dari kehendak Bapa”.

Inilah salah satu tugas utama teologi yang harus diwujudnyatakan oleh kita sebagai orang beriman. Secara khusus bagi orang Kristiani, kita semua diajak untuk membawa Sabda Bahagia yang diajarkan oleh Kristus dalam suatu kehidupan yang nyata. Di mana saja kita berada, kita semua diajak untuk menjadi teman, sahabat dan penolong bagi sesama terutama yang menderita tanpa harus memandang suku, agama dan budaya.

Sebab, jika tidak benarlah apa yang dikritik oleh pejuang anti kekerasan India bernama Gandhi: “Saya suka Kristus anda, tetapi saya tidak suka dengan orang Kristiani anda”.

Dan selanjutnya, juga kata Gandhi: “Jika orang Kristiani benar-benar hidup menurut ajaran Kristus, seperti yang ditemukan di dalam Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristiani hari ini.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here