Laporan dari Roma: Bermimpi, Mencintai, Bersaksi, dan Berlari, Kata Paus Menyapa Orang Muda

0
297 views
Paus Fransiskus menyapa Orang Muda di Lapangan Santo Petrus saat berlangsung Perayaan Ekaristi penutupan dan sebelumnya suasana di Lapangan Circo Massimo malam hari. (Fr. Benedictus Seprinanda Pr/KAS)

SIANG itu,  suhu udara di Kota Roma cukup panas. Puluhan ribu orang muda telah memadati Lapangan Circo Massimo, Kota Roma, sejak pagi. Panas terik matahari di siang itu membuat mereka mencari pohon untuk berteduh. Di bawah teduhnya pohon itulah mereka menghabiskan waktu dengan bersenda gurau dan menyantap makanan yang telah dibawa dari rumah.

Orang-orang muda ini bukanlah wisatawan yang sedang melancong ke Kota Abadi. Mereka ini orang-orang muda Katolik Italia yang akan bertemu dengan Paus Fransiskus. Orang-orang muda ini adalah utusan dari seluruh keuskupan di Italia.

Penulis berkesempatan mengikuti kegiatan ini,  karena sedang menjalani formasi di salah satu seminari untuk para frater Italia. Para frater Italia pun turut serta dalam kegiatan yang diselenggarakan di Lapangan Circo Massimo dan Lapangan Santo Petrus selama dua hari (11-12/8/2018).

Berjam-jam di bawah terik matahari, wajah-wajah lelah pun terpancar. Dinamika sudah mereka mulai dari keuskupan mereka masing-masing. Setiap keuskupan menyelenggarakan ‘perigrinasi’ atau berziarah dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki. Ada yang berjalan puluhan kilometer, ada pula yang berjalan ratusan kilometer. Seluruh perjalanan itu diakhiri perjumpaan dengan Paus Fransiskus di Kota Roma.

Antrian panjang

Ketika pintu masuk dibuka, antrian panjang untuk memasuki area acara cukup panjang. Kehadiran Paus Fransiskus membuat penjagaan cukup ketat. Setiap tas harus diperiksa satu per satu. Tampak petugas keamanan menyita barang-barang milik peserta yang dilarang dibawa masuk.

Panasnya matahari tak membuat surut semangat Orang Muda Katolik di Itallia menyambut Paus Fransiskus.  Para peserta sedang menanti kehadiran Paus Fransiskus di Lapangan Circo Massimo.

 

Di bawah teriknya matahari, orang-orang muda pun dengan sabar menanti giliran untuk masuk. Ada yang menyemangati satu sama lain dengan cara menyanyi dan berjoget. Ada pula yang menyemprotkan air mineral ke orang-orang di sekitarnya untuk melawan suhu panas yang sangat menyengat. Beberapa orang tampak keluar dari barisan dan menepi karena terlalu lelah. Tim medis pun sigap menolong peserta yang mengalami gangguan kesehatan.

Usai melewati pemeriksaan, penantian pun berlanjut. Masih di bawah teriknya matahari, puluhan ribu orang muda menanti dimulainya acara. Rasa lelah membuat mereka berbaring beralaskan matras tipis yang telah mereka siapkan. Beberapa dari mereka tampak mendirikan ‘tenda darurat’ dan sederhana dengan kain seadanya untuk menghalau rasa panas.

Sesekali seruan Master of Ceremony dari panggung membuat mereka bangkit dan menunjukkan wajah semangat. Ketika musik dimainkan, mereka pun bergoyang bersama seirama. Meski lelah dan panas, tidak sedikit yang larut dalam suasana siang itu dan tentu saja karena menanti hadirnya Paus Fransiskus di tengah-tengah mereka.

Perjalanan, penantian, perjuangan, dan pengharapan, itulah suasana siang itu yang bisa saya lihat. Saya menjadi bagian dari peserta dan mengalami rasa lelah yang sama, tetapi saya bisa melihat gelora semangat yang luar biasa.

Paus Fransiskus yang hadir saat itu memberi semangat pada puluhan ribu orang muda dengan kata-katanya yang sederhana tetapi menggerakkan dan menggetarkan.

Perjalanan mengejar mimpi

Bagian pertama dalam audiensi bersama orang muda, Paus Fransiskus mengajak orang-orang muda untuk memiliki impian dalam hidup mereka. Orang muda yang tidak memiliki impian itu, kata Paus,  ibarat orang muda yang sedang memasuki masa pensiun dalam hidupnya. Impian-impian inilah yang akan menggerakkan setiap tindakan dalam kehidupan sehari-hari saat ini demi masa depan.

Impian-impian itu adalah tujuan hidup kita dan saat ini kita sedang berjalan menuju padanya. Maka dari itu, hidup kita tidak lain adalah sebuah peziarahan menuju impian-impian itu. Perjalanan itu tidaklah mudah, tidak ada jaminan, dan cukup berisiko, untuk itu diperlukan semangat tiada henti dan pantang menyerah. Orang muda diajak untuk selalu berjuang dengan penuh ketekunan dan membawa semangat itu dalam setiap kesulitan.

Paus mengingatkan, agar kita senantiasa melibatkan Tuhan dalam perjalanan mengejar impian. Kalau pun perjalanan itu sulit dan menantang, ada Tuhan yang selalu berada di sisi kita. Mengejar mimpi tanpa melibatkan Tuhan akan membuat kita menganggap diri lebih mampu dari siapa pun dan di sanalah ada egoisme.

Seorang imam pernah bertanya kepada Paus Fransiskus, “Siapakah lawan dari -aku-?” Kalau Anda menjawab lawan dari ‘aku’ adalah ‘kamu’, berarti Anda sedang menebar benih peperangan.

Lawan dari ‘aku’ adalah ‘kami’.

Paus Fransiskus hendak mengatakan bahwa lawan dari egoisme adalah persaudaraan, kedamaian, persahabatan, dan komunitas. Impian yang sejati adalah impian tentang ‘kita’. Impian-impian yang sejati adalah impian yang menumbuhkan kedamaian, persaudaraan, dan kebahagiaan.

Untuk itulah, Paus Fransiskus mengajak orang muda untuk berjalan bersama dan menerima orang-orang di sekitar tanpa prasangka. Berjalan sendiri membuat kita bebas dari segala sesuatu, mungkin juga akan lebih cepat, tetapi berjalan bersama membuat kita menjadi umat Allah. Seperti kata pepatah, “Jika Anda ingin pergi cepat, larilah seorang diri. Jika Anda ingin pergi jauh, pergi dengan seseorang.”

Hidup bukanlah sebuah undian

Dalam peziarahan mengejar impian-impian itu, selalu ada ‘jebakan’ yang bisa melemahkan. Jebakan pertama adalah kritik. Kritik-kritik itu bisa menyemangati tetapi bisa juga melemahkan kita. Orang lain bisa saja melihat impian kita sedemikian jauhnya, kemudian mengkritik setiap tindakan kita.

Hal ini sering kali melemahkan semangat perjuangan orang muda. Kedua, perjuangan itu tidak jarang membawa pada krisis-krisis pilihan hidup dan realitas sulit yang harus dihadapi. Ketiga, jebakan pada kenyamanan, merasa cukup, dan tidak ingin memiliki impian yang lebih jauh.

Paus Fransiskus menyapa puluhan ribu orang muda Katolik yang datang dari beberapa keuskupan di Italia.

Atas semua hal itu Paus Fransiskus mengingatkan orang-orang muda untuk terus maju dan terus menjadi peziarah menuju impian. Jangan pernah takut dengan risiko karena hidup bukanlah sebuah undian yang hanya kebetulan dan tanpa berbuat apa-apa semua terwujud. Akan tetapi, segala sesuatu dalam hidup harus diperjuangkan dan kita semua memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Kelemahan diri dan krisis kehidupan tentu tidak terhindarkan. Dalam situasi itu kita perlu melihat tanda-tanda yang dibuat oleh Yesus dalam kisah-kisah Penginjil. Sebut saja, ketika tuan rumah kekurangan anggur dan Yesus mengubah air menjadi anggur. Ketika orang buta dan orang-orang sakit datang kepada Yesus dan disembuhkan. Ketika banyak orang kelaparan dan Yesus menggandakan roti.

Dalam semua tanda-tanda itu, Yesus menunjukkan Allah yang tidak kelihatan. Secara lebih jauh lagi, semua ini bukanlah wujud kuasa ilahi semata. Akan tetapi, kisah kelemahan manusia berjumpa dengan rahmat Allah. Rahmat Allah itulah yang akhirnya menyempurnakan setiap kelemahan manusia. Manusia yang terluka dan lemah akan disembuhkan berkat perjumpaan dengan-Nya.

Orang muda dan asmara

“Memilih” tampaknya menjadi ungkapan tertinggi dari kebebasan. Memilih dan memutuskan pilihan-pilihan penting dalam hidup, sangat erat kaitannya dengan orang-orang muda.

Paus mengingatkan bahwa konsep ‘memilih’ yang sering kali kita hidupi saat ini adalah sebuah ide kebebasan tanpa ikatan, tanpa tanggung jawab dan selalu ada “jalan untuk lari”, seperti ‘saya memilih, tapi… atau saya memilih tetapi tidak sekarang’.

Hal-hal seperti inilah yang akan menghentikan langkah dan impian kita.

Mengenai pilihan, Paus Fransiskus menyinggung soal cinta di antara orang-orang muda.

Paus memulainya dengan bertanya, “Apakah kita harus menyelesaikan semua tugas belajar di bangku perkuliahan baru berpikir soal cinta?”

Tentu saja tidak, cinta datang kapan saja ketika dia menghendakinya”, jawabnya singkat.

Cinta bukanlah sebuah profesi atau pekerjaan. Cinta adalah kehidupan dan jika datang hari ini, kita tidak perlu menanti tiga, empat, lima tahun mendatang. Untuk itu, Paus menekankan agar orang-orang muda perlu membedakan antara cinta sejati dan antusiasme semata.

Paus pun menyambung soal hidup perkawinan untuk menjelaskan mengenai cinta sejati. Pernikahan bukan sekadar pergantian identitas. Akan tetapi, pernyataan cinta secara total, tulus, terbuka, dan berani. Paus Fransiskus pun menyinggung kisah penciptaan.

Dalam kitab Kejadian dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya. Paus menegaskan bahwa inilah cinta. Ketika kita melihat sebuah perkawinan, seorang laki-laki dan seorang perempuan hidup dalam cinta, di sanalah kita temukan gambar dan rupa Allah. Maka kalau kita bertanya, Seperti apakah Allah?’. Jawabnya, seperti hidup perkawinan.

Mengapa demikian?         

Kita tidak menemukan keserupaan dengan Allah hanya pada diri laki-laki saja atau perempuan saja. Akan tetapi, keduanya secara bersama-sama, dan itulah gambar dan rupa Allah. Untuk itu dikatakan bahwa ‘mereka akan meninggalkan ayah dan ibu mereka dan menjadi satu daging’.

Inilah cinta sejati. Cinta yang saling menumbuhkan dan tidak bisa bertumbuh sendirian. Seorang suami tidak dapat bertumbuh tanpa istrinya dan seorang istri tidak dapat bertumbuh tanpa suaminya. Inilah makna cinta sejati atau satu daging karena saling menumbuhkan satu sama lain.

Yesus mengetuk pintu dari “dalam”

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”, kutip Paus Fransiskus dari Kitab Wahyu.

Dalam kutipan itu, Allah mengetuk pintu hati kita dan ingin datang kepada kita. Akan tetapi, Paus Fransiskus berpikir sebaliknya. Yesus mengetuk pintu bukan dari luar tetapi dari dalam hati kita agar hidup kita semakin ‘keluar’ dan menjadi saksi bagi banyak orang.

Paus menginginkan Gereja yang semakin terbuka dan menjadi saksi di tengah-tengah dunia untuk merawat orang sakit, membela mereka yang lemah, dan melampaui batas kenyamanan diri yang selama ini ada.

Sebagai orang Kristiani, kita tidak bisa hanya melihat penderitaan, mendengarkan masalah, diam, dan membiarkan orang lain berbicara tanpa berusaha memberikan jawaban positif. Inilah tugas kita yakni memberi diri dan berani mengambil risiko dalam setiap kesaksian hidup kita.

Kita pun bisa melihat hidup jemaat perdana, orang-orang percaya karena melihat kesaksian. Mereka hidup seperti yang dikatakan Injil karena melihat dan mendengar suatu kesaksian. Maka dari itu, betapa pentingnya kesaksian dalam hidup iman kita. Dengan tegas Paus menyatakan, Gereja tanpa kesaksian hanya asap yang tidak bisa mengobarkan apa pun.

Orang muda yang berlari cepat

Paus mengakhiri pesannya kepada orang muda dengan mengutip peristiwa makan kosong pada saat Yesus bangkit (Yoh 20,1-8). Dalam kisah itu,  Maria Magdalena berlari untuk menyampaikan kepada para rasul. Petrus dan Yohanes pun juga berlari menuju makam. Semua berlari karena ada hal mendesak yang harus mereka lihat.

Mungkin saja mereka sedang berharap untuk melihat wajah Yesus lagi. Orang yang paling kuat berlari saat itu adalah Yohanes. Tentu saja karena dia lebih muda. Selain itu, Yohanes tidak ingin berhenti berharap untuk melihat Yesus bangkit setelah melihat Yesus mati di kayu salib.

Yohanes memiliki harapan yang sedemikian kuat berkat kedekatannya dengan Maria. Ia memiliki harapan untuk melihat Yesus kembali. Belajar dari pengalaman Yohanes, ketika kita merasa bahwa iman kita suam-suam kuku, marilah kita pergi kepada Maria. Sebagaimana yang dialami oleh Yohanes, Maria akan membuat kita merasakan iman dan pengharapan yang lebih.

Saat ini,  hati orang-orang muda berdetak dengan cinta untuk Yesus, seperti Maria Magdalena, Petrus, dan Yohanes.

Paus Fransiskus sebagai pengganti Petrus senang melihat orang-orang muda berlari lebih cepat darinya, seperti Yohanes yang didorong oleh dorongan hati. Dorongan hati dari dalam itu tidak lain adalah suara Roh yang menggerakkan untuk mengejar setiap impian. Paus kembali mengingatkan agar jangan puas dengan langkah kita saat ini. Dibutuhkan senantiasa keberanian untuk mengambil risiko dan lompatan ke depan.

Paus Fransiskus bersuka cita karena melihat orang-orang muda berlari lebih kencang daripada hanya di dalam Gereja, agak lambat, dan takut.

Gereja membutuhkan iman orang muda. “Kami membutuhkan kalian. Dan ketika kalian tiba dan kami belum datang, bersabarlah menunggu kami, seperti Yohanes menunggu Petrus di makam kosong itu.”,tegasnya.

Tidak surut semangatnya

Panasnya siang itu dan kelelahan fisik tidak sedikit pun menyurutkan semangat orang-orang muda untuk menyambut Paus Fransiskus. Pertemuan sore itu bukanlah akhir acara. Orang-orang muda masih berdinamika hingga keesokan harinya di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.

Sekali lagi saya disuguhi semangat yang terus berkobar hingga akhir acara. Teriakan-teriakan semangat “Papa Francesco! Papa Francesco!” sambil bertepuk tangan seirama tanda menyambut Paus Fransiskus menggema berkali-kali.

Kiranya semangat yang sama juga diharapkan oleh Paus Fransiskus. Gereja membutuhkan semangat orang-orang muda yang sedemikian kuat untuk menggapai mimpi, menjadi saksi, dan berani mengambil risiko. Gereja membutuhkan orang-orang muda yang saling mencintai dengan tulus dan saling menumbuhkan. Di atas semua itu, senantiasa mengandalkan Allah dalam setiap perjalanan hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here