Laporan dari Roma: Satu-satunya di Dunia, 39 Frater Menerima Jubah Talare di Collegio Urbano

0
3,075 views
Sebagian para frater dengan jubah talare yang baru mereka terima di Collegio Urbano Roma. (Romo Yohanes Gunawan Pr/KAS)

KAPEL Pontificio Collegio Urbano Roma penuh sesak dengan para frater dan para imam saat misa ‘penjubahan’ pada Selasa malam, 31 Oktober 2017. Hadir sebagai selebran utama adalah Sekretaris Propaganda Fidei Uskup Agung Savio Hon Tai-Fai dari Hong Kong.

Ada 39 frater dari berbagai negara yang menerima jubah khusus yang biasa disebut talare.

Para fater penerima talare, jubah khas pemberian Collegio Urbano Roma. (Romo Yohanes Gunawan Pr/KAS)

Mereka berasal dari China, Korea Selatan, India, Bangladesh, Timor Leste, Vietnam, Papua Nugini, Mesir, Perancis, Sudan, Angola, Capo Verde, Nigeria, Kamerun, Kongo, Benin, Senegal, dan Indonesia.

Mungkin sekali, tradisi memberi jubah talare kepada para fratercalon imam asal berbagai negara ini hanya terjadi di Collegio Urbano Roma.

Tiga  frater dari Indonesia

Tiga frater di antaranya dari Indonesia adalah Fr. Gregorius Prima Dedy Saputro (Keuskupan Agung Semarang), Fr. Petrik Yoga Sasongko (Keuskupan Purwokerto), dan Fr. Stanislaus Kostka Aditya (Keuskupan Bandung).

Sebenarnya ada ada dua frater lagi dari Indonesia yakni Fr. Benedictus Seprinanda Sudarto (KAS ) dan Fr. Albertus Gatot (Bandung). Mereka tinggal di Pontificio Seminario Regionale Puggliese Pio XI, Italia Selatan.

Para frater dari berbagai negara yang tengah menjalani studi di Roma dan tinggal di Collegio Romano baru saja menerima jubah talare. (Romo Yohanes Gunawan Pr/KAS)

“Mereka berdua tidak menerima talare seperti kami karena mereka tidak tinggal di Collegio Urbano. Mereka hanya menerima jubah hitam dan klebet-nya juga warna hitam, tidak merah seperti kami,” tutur Fr. Gregorius Prima Dedy Saputro dari KAS.

Propaganda Fide

Penerimaan jubah talare itu menandai penerimaan mereka secara resmi sebagai seminaris (calon imam) yang sedang studi di Collegio Urbano Roma di bawah Kongregasi Suci bagi Penyebaran Iman (Sacra Congregatio de Propaganda Fide).

Kongregasi (Komisi Kepausan) ini juga dikenal dengan nama Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa (Congregatio pro Gentium Evangelizatione) di Roma adalah kongregasi Kuria Romawi yang bertanggungjawab pada karya-karya misionaris dan kegiatan-kegiatan terkait di dalamnya.

Misa penerimaan jubah talare untuk para frater dari berbagai negara di Collegio Urbano di Roma.

Eksis sejak tahun 1622

Kongregasi ini didirikan oleh Paus Gregorius XV pada tahun 1622 sebagai Kongregasi Propaganda Fide, sebuah organisasi yang mengatur karya-karya misionaris atas nama berbagai institusi keagamaan dan pada tahun 1627.  Paus Urbanus VIII membentuk sebuah sekolah pelatihan bagi misionaris.

Kongregasi ini diganti namanya oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1982, namun misi-misinya terus berlanjut tanpa pernah terputus.

Kantor pusat kongregasi ini mulanya berada di Palazzo Ferratini, yang disumbangkan oleh Juan Bautista Vives, berada di sebelah selatan Piazza di Spagna. Dua tokoh seni Barok terkenal dari kota Roma terlibat dalam pengembangan kompleks arsitektur bangunan ini; pematung dan arsitek Gian Lorenzo Bernini dan arsitek Francesco Borromini.

Talare yang penuh simbol dan makna.
Fr. Stanislaus Kotska Pr asal Keuskupan Bandung. (Ist)

Praefek Kongregasi Propaganda Fide saat ini adalah Uskup Agung Fernando Filoni, sedangkan  Sekretarisnya adalah Uskup Agung Savio Hon Tai-Fai dari Hong Kong. Pejabat Arsip Kongregasi ini adalah Uskup Luis Manuel Cuña Ramos. Tetapi per 28 September 2017, Mgr. Savio Hon Tai-Fai ditunjuk Paus Fransiskus menjadi Nuntius Apostolik di Yunani.

Pentingnya komunitas

Dalam homili Misa Penjubahan itu, Mgr. Savio Hon Tai-Fai mengungkapkan bahwa hidup para imam dan calon imam berasal dari anugerah Tuhan dan pemberian umat. Ia mencontohkan bahwa pakaian yang ia kenakan pun pemberian umat. Ada begitu banyak umat yang mendukung pendidikan dan karya pelayanan para imam di berbagai tempat.

Tugas para imam, lanjutnya, bagaimana mengajak umat untuk semakin dekat dengan Kristus. Hal ini dilatihkan selama masa pembinaan para calon imam di seminari. “Penting sekali kita dekat dengan Kristus terlebih dahulu. Di sana peranan komunitas sangat penting,” tegas Uskup Agung yang lahir di Hong Kong 21 Oktober 1950 ini.

Rektor Collegio Urbano, Mgr. Vincenzo Viva, menjelaskan bahwa sebelum penerimaan jubah talare bagi para frater ini ada persiapan khusus berupa  penjelasan makna talare, pemberian buku norma dan tata tertib untuk hidup berkomunitas di Collegio Urbano.

Makna talare

Ada beberapa makna dari simbol-simbol yang ada di jubah talare para frater itu.

  • Di bagian leher jubah, ada kancing berjumlah tiga buah yang menyimbolkan Trinitas.
  • Di bagian dada terdapat lima kancing menyimbolkan lima benua tempat para frater berasal.
  • Dan di lengan kiri dan kanan terdapat 10 kancing (masing-masing lima buah) menyimbolkan 10 Perintah Allah.
  • Jubah itu diikat dengan ikat pinggang (klebet) warna merah dan di bagian ujungnya ada logo Propaganda Fide.
  • Warna merah pada klebet melambangkan semangat kemartiran dan penyangkalan diri.
Imam dan para frater dari Indonesia.

Inilah kekhasan jubah talare para  frater di  Collegio Urbano.

“Jubah ini kami pakai setiap misa Kamis sore (giovedi sacerdotale), Minggu sore (vespri sollenita), pelayanan liturgi dan saat perayaan-perayaan Gereja,” jelas Fr. Gregorius Prima Dedy Saputro dari KAS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here