Lebih jauh dengan Keuskupan Ketapang: Mutiara Seni Berkualitas di Gereja Katedral  St. Gemma (5)

0
645 views
Ornamen hiasan pahat dan ukiran seni khas Dayak karya Petrus Kanisius menghiasi latar belakang altar Gereja Katedral St. Gemma Ketapang. (Mathias Hariyadi)

KALAU sekali waktu Anda pernah sampai di ‘pusat kota’ Kabupaten Ketapang, harap jangan lupa sekedar mampir masuk mengunjungi Katedral St. Gemma Keuskupan Ketapang. Lokasinya hanya bersebelahan dengan Wisma Keuskupan Ketapang.

Anda cukup tinggal jalan kaki menyeberang dari Wisma Keuskupan menuju Gereja Katedral St. Gemma Ketapang dan itu tak lebih dari dua menit saja.

Ada yang menarik di dalam gedung bangunan  Gereja Katedral St. Gemma Keuskupan Ketapang ini. Tiada lain adalah ukiran dan pahatan kayu dengan citarasa seni berkualitas yang ada di belakang altar gereja. Bukan hanya itu saja, di sisi kanan-kiri altar Gereja Katedral ini juga ada ornamen-ornamen ukiran khas seni masyarakat Dayak yang sangat mempesona.

Siapa punya ‘ide besar’ mengusung karya seni ukir dan pahatan khas Dayak ini ke meja altar Gereja Katedral St. Gemma Keuskupan Ketapang? Tiada lain adalah Pastor Matheus Juli Pr, imam diosesan (praja) Keuskupan Ketapang yang sehari-hari berpastoral di Gereja St. Gemma Paroki Katedral Ketapang ini.

Baca juga:  Lebih Jauh dengan Keuskupan Ketapang: Jungkir Balik di Jalanan Berlumpur dan Terjungkal di Miting (4)

Pastor Matheus Juli Pr, imam diosesan (praja) Keuskupan Ketapang yang menyelesaikan pendidikannya di Seminari Menengah Mertoyudan dan Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta.

Lahir dari keluarga seniman

Di Seminari Menengah Mertoyudan di Magelang kurun waktu tahun 1976-1981, Romo Juli bukan ‘orang sembarangan’. Mimiknya selalu serius.

Di lapangan bola, putera Dayak dari Simpang Dua ini menjadi anggota tim inti IFO (In Finem Omnia, Semua untuk Satu Tujuan: AMDG) –organ yang menampung para pesepak bola seminari. Ia menjadi striker di IFO ini.

Di meja belajar, ia menekuni bakat alamiahnya sebagai seorang pelukis. Semua seminaris di Mertoyudan sangat mengenal Pastor Juli: jago nendang bola di lapangan rumput sekaligus jago mengayun kwas di atas kanvas.

Satu pihak ia sangat lihai memainkan kakinya meliuk-liuk di lapangan bola bersama para seminaris asal Ketapang lainnya yakni (Donatus Rantan, Molly Paher, alm. Siar, Koa, Markus Mardius). Lain pihak, ia pun sangat ciamik memainkan tangan dengan kwas di ujung jari di atas kanvas untuk melukis.

Melukis bagi Pastor Juli bukan sembarang kegiatan. Ia mengawinkan ide di kepala dan kemudian mewujudkan ide besar itu di atas kanvas.

Darimana bakat alam itu tersimpan di kedirian Pastor Juli?

Kepada Sesawi.Net, ia mengaku bakat seni itu mengalir deras di darahnya dari keluarga besar moyangnya. Terlebih dari kedua orangtuanya yang sama-sama punya darah dan bakat seni.

Ayah kandungnya bernama Petrus Peder. Ayahnya adalah seorang seniman ukir dan pahat, sementara ibu kandungnya yakni Anastasia Elip juga seorang seniman anyaman. Dari kedua orangtuanya itulah, jiwa dan bakat seni khas campuran Dayak Simpang dan Kualan menyatu pada dalam diri Pastor Matheus Juli Pr.

Bagian dalam gedung Gereja Katedral St. Gemma Keuskupan Ketapang di Provinsi Kalimantan Barat. (Mathias Hariyadi)

“Tiga tahun lalu, ayah saya mendapat penghargaan seni dari Menteri Pariwisata (waktu itu) Jero Wacik sebagai seniman ukir dan pahat khas Dayak,” terang Romo Juli menjawab Sesawi.Net di Pastoran Katedral, 3 Januari 2017 lalu.

Transfer keahlian dan keterampilan

Kini, Pastor Matheus Juli –imam praja Keuskupan Ketapang—sudah memutuskan atas kesadaran sendiri untuk tidak lagi menyentuh kwas dan bermain seni di atas kanvas. Singkat kata, ia pensiun total dari kegiatan seni: melukis.

Lalu yang terjadi kemudian tidak kalah menariknya. Pastor Juli lalu mentransfer keahlian dan keterampilannya melukis kepada Petrus Kanisius yang boleh dibilang anggota keluarga besarnya sendiri. “Ia masih terbilang keponakan saya sendiri,” terang pastor diosesan (praja) Keuskupan Ketapang ini.

Ibu kandung Petrus Kanisius yakni Leah adalah kakak Pastor Yuli.

Kepada Petrus Kanisus ini, Pastor Yuli men-sharing-kan idenya tentang ‘pola’ cerita yang mesti ‘digambar’ oleh Petrus. Bukan menggunakan kwas dan di atas kanvas, melainkan Petrus Kanisius harus mampu ‘menggambar’ kisah cerita hasil ide kreatif Pastor Mattheus Yuli ini ‘di atas’ kayu gelondongan.

Tentu, proses kreatif ini makan waktu lama karena lokasi workshop dimana Petrus Kanisius ini bekerja ada di tengah pedalaman. Kayu-kayu itu dipahat di pedalaman. Nantinya,  dan setelah jadi, kayu-kayu berukiran itu lalu  ‘dikirim’ ke ‘pusat kota’ Ketapang.

Ada dua pekerjaan besar yang selalu menunggu Petrus Kanisius atas arahaan sang paman. Yakni, mengukir satu batang gelondongan kayu ulin setinggi 9,4 m dengan sejumlah ornamen hiasan dan rumah  ‘kisah harmoni Indonesia di Kalimantan’.

Projek tugu dari kayu uli ini akhirnya berhasil diselesaikan oleh Petrus Kanisius dalam waktu sekitar tiga bulan. Kini, tugu dari bahan baku satu kayu ulin gelondongan bernama “Yesus Pohon Kehidupan” bertengger gagah di halaman Gereja Katedral St. Gemma Ketapang.

Sementara, rumah “kisah harmoni Indonesia di Kalimantan” hingga kini belum rampung dikerjakan.

Tugu “Yesus, Pohon Kehidupan” berbahan dasar kayu ulin satu gelondongan setinggi 9,4 meter di halaman Gereja Katedral St. Gemma Keuskupan Ketapang. (Mathias Hariyadi)

“Begitu kayu gelondongan ulin ini selesai dikerjakan di ‘hutan’ Nanga Tayap, maka ukiran dalam satu batang kayu ini dikirim ke Ketapang memakai truk trailer dari pedalaman menuju dermaga sungai dan kemudian ‘dikapalkan’ menuju pusat kota untuk kemudian diangkat lagi ke Katedral dengan trailer,” terang  Pastor Juli.

Projek kedua ini tidak kalah rumit dan bahkan lebih sulit. Yakni, melukis kisah ‘Sejarah Penyelamatan’ menurut teologi katolik di atas lembaran-lembaran papan kayu. Karena kisah Sejarah Penyelamatan ini sangat ‘panjang’ dan mencakup banyak dimensi, maka gambar ‘kisah besar’ itu kemudian dipecah-pecah menjadi ukiran kecil-kecil di atas papan sepanjang 1 meter dengan lebar 0,5 m. Barulah setelah semua penggalan ‘kisah’ Sejarah Penyelamatan kemudian disatukan lagi sehingga ‘kisah’ itu menjadi satu bagian menyeluruh.

“Semua penggalan kisah Sejarah Penyelamatan yang diukir di papan kayu satu per satu itu kemudian dipasangkan satu sama lain sehingga secara keseluruhan kemudian menampilkan kisah cerita sebagai satu kesatuan,” terang Pastor Juli.

Nilai seni berkualitas tinggi

Nilai seni bermutu tinggi ini tentu saja tidak hanya menyangkut soal proses kreatif itu sendiri. Yakni, ketika sang pengukir sekaligus pemahatnya yakni Petrus Kanisius itu mampu menyatukan penggalan-penggalan kisah itu kemudian menjadi satu kesatuan cerita yang utuh dan bagus.

Lebih dari itu, ini menyangkut juga kemampuan Petrus Kanisius dalam aktivitas intelektuanya bisa menyerap informasi lisan yang disampaikan Sang Paman –Pastor Matheus Juli—untuk kemudian dia olah sendiri dan kemudian dia wujudkan dalam seni pahat.

Proses kreatif ini layak dipuji. Di sini terjadilah transfer ‘knowledge’ dan keahlian dari Pastor Yuli yang lulus sarjana di Jawa dengan keponakannya Petrus Kanisius yang tidak tamat sekolah.

Hasilnya sangat istimewa dan mencengangkan. Kata Mgr. Pius Riana Prapdi Pr ketika projek besar yang dimulai tahun 2007 dan berakhir setahun kemudian itu akhirnya rampung terpasang rapi di belakang altar Gereja Katedral St. Gemma Keuskupan Ketapang.

“Ketika berlangsung acara Sail Karimata 2016, banyak turis asing masuk Gereja Katedral Ketapang. Komentar mereka satu suara: Amazing, formidable. Sebuah karya seni ukir dan pahat khas Dayak yang luar biasa.” Itu kata para turis asing sebagaimana dikutip Mgr. Pius Riana Prabdi.

Altar menjadi kian megah berkat hiasan kayu berpahat dan berukir karya seniman pahat-ukir otodidak Petrus Kanisius dari kawasan hulu Keuskupan Ketapang, Kalbar. (Mathias Hariyadi)

Proses kreatif lanjutan

Menurut Pastor Matheus Juli, perlu waktu tiga bulan bagi Petrus Kanisius untuk semakin menyempurnakan karyanya.

Karena bakat seni itu lahir dari ‘alam’ dan di pedalaman Ketapang tidak ada ‘pemacu kreativitas’, maka boleh dibilang hasil karya ukir dan pahat khas Dayak itu masih ‘kasar’ tampilan permukaannya. Untuk bisa memperhalus tampilannya, maka Petrus Kanisius dikirim ke Bali untuk belajar ukir dan pahat dari para seninan Bali.

Untunglah Keuskupan Ketapang ini punya imam diosesan asli Bali yakni Pastor Made Sukartia, alumnus Seminari Mertoyudan tahun masuk 1974. “Petrus berhasil dikirim oleh Pastor Made ke Gianyar untuk keperluan belajar ukir dan pahat agar kualitas tampilannya lebih halus lagi,” terang Pastor Juli.

Hingga kini, di pedalaman dan kawasan hulu Keuskupan Ketapang masih tersisa –walau sangat sedikit—harta karun alam luar biasa yakni kayu belian, ulin, dan aneka hasil hutan lainnya. Di ‘pusat kota’ Ketapang dan di Katedral St. Gemma Ketapang, hasil hutan itu sudah berubah ujud menjadi sebuah karya seni berkualitas tinggi: Tugu ‘Yesus Pohon Kehidupan’ dan ‘lukisan’ ukir dan pahat Sejarah Penyelamatan.

Dua karya seni ini ada di sini berkat duet kerjasama yang intens antara Pastor Matheus Juli yang bertindak sebagai inisiator dan pencetus ide kreatif bersama Petrus Kanisius yang menjadi eksekutor tunggal mengolah prakarsa seni dan kemudian mewujudkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here