Lentera Keluarga – Dunia Terbalik

0
196 views

Tahun C-1. Pekan Biasa XXIV
Rabu, 18 September 2019. 
Bacaan: 1 Tim 3:14-16; Mzm 111:1-6; Luk 7:31-35.

Renungan:

TIDAK ada satupun yang sesuai kriteria dan memuaskan. Itulah kritik Yesus kepada orang banyak yang mengikutiNya. Hidup Yohanes dan muridNya dipertanyakan, demikian pula hidup Yesus dan murid-muridNya dipertanyakan. Orang banyak itu menggunakan kriteria mereka sendiri untuk menilai hidup orang lain padahal mereka sendiri juga tidak mempunyai kriteria dan patokan yang jelas. Karya keselamatan Allah tidak diatur oleh minat manusia. 

Kenyataan seperti ini juga dapat kita jumpai dalam hidup sehari-hari bahwa Pengobatan yang diberikan seorang dokter tidak diatur keinginan oleh pasien; pola pendampingan psikolog ataupun psikiater juga tidak diatur oleh keinginanan klien; peraturan lalu lintas tidak bisa datur oleh pengguna jalan; pola asuh guru tidak diatur oleh anak-anak yang diasuhnya. 

Dalam hidup berkeluarga, kita tidak dapat menjadi orang tua yang memuaskan semua anak-anak kita, tetapi kita mengantar anak kita untuk bertumbuh baik. Takut membuat anak kecewa, sedih, marah dan menuruti keinginannya justru membuat kita menjadi orang tua yang tidak bijak dan sikap ini justru akan menjadi bumerang bagi hidup anak sendiri. Sama halnya, menuruti anggota keluarga kita yang sakit ataupun yang sedang menderita ganguan kesehatan fisik maupun mental. Menuruti keinginan mereka bukanlah tanda cinta; tetapi membantu mereka baik itu adalah tanda cinta kita sebagai orang tua dan anggota keluarga. 

Dalam hidup menggereja, kita juga tidak jarang menjadi kritikus ulung terhadap hidup menggereja, baik dari ibadat sampai pada ajaran sampai pada kotbah dan kehidupan para gembala. Syukur jika kritik itu ada dasar kebenarannya, tetapi tidak jarang kritik itu didasarkan pada “keyakinan pribadi”. Maka tidak mengherankan muara dari umat yang demikian ini adalah “membangun iman subyektif” menurut versinya sendiri. Kita sebagai gembalapun kadang juga bersikap sama, menilai, mengritik, dan mungkin membuat kebijakan pastoral yang tidak ada dasar pijakannya dan tanpa dialog dengan pihak yang lebih tinggi. Religiuspun sama halnya, menjadi religius menurut “versinya”, mengritik dan melanggar regula umum yang ada. Inilah Dunia terbalik.  

Kita hari ini diundang untuk pertama-tama memahami Tuhan dan rencanaNya yang baik dan menyelamatkan untuk kita. Kitalah yang menyelaraskan hidup kita dengan hidup gereja, dengan kebijakan gereja yang lebih luas, dengan regula yang membentuk dan mengantar kita pada pola hidup tertentu. 

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana sikap Tuhan Yesus terhadap orang banyak yang mempunyai pikiran terbalik melihat karya keselamatan Allah. 

Refleksi:

Apakah dalam hidupku aku membiarkan diriku diatur oleh Allah ataukah aku masih mengatur Allah daripada memohon berkat dan bantuanNya?

Doa: 

Ya Bapa, ajar aku untuk selalu mendengar, taat dan setia pada rencana dan rancanganMu yang terkadang tidak di luar skema pemikiranku. Amin. 

Perutusan:

Janganlah atur Allah untuk kebaikan kita karena Ia lebih tahu apa yang terbaik untuk hidup kita. Amin. 

(Morist MSF)- www.misafajava.org

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here