Lentera Keluarga – Kelahiran Pemimpin Buruk

0
264 views

Tahun C-1. Pekan Biasa XX
Rabu, 21 Agustus 2019. PW Pius X, Paus.
Bacaan: Hak 9:6-15; Mzm 21:2-3.4-5.6-7; Mat 20:1-16a.

Renungan: 

PERUMPAMAAN yang dibuat Yotam di Gunung Gerizim kepada umat Israel menunjukkan bahwa sikap tidak mau bertanggungjawab atas kepentingan bersama justru melahirkan seorang pemimpin yang buruk. Pohon-pohon yang berkualitas seperti Zaitun, Ara dan Anggur menolak untuk menjadi pemimpin, sehingga terpilihkan semak berduri, yang tidak punya kualitas sebagai pemimpin, tetapi ia mau dan pastinya akan membawa kehancuran bagi pohon-pohon lain. 

Salah satu hal yang membuat komunitas itu rusak dan hancur adalah bahwa kita lari dari tanggungjawab. Kita malas dipilih, malas susah/repot. Kita menolak tanggungjawab dengan mengatakan “orang lain sajalah”, padahal sesungguhnya kita itu mampu.Tidak mudah membangun kembali komunitas yang terluka karena ketidakmampuan seorang pemimpin dalam bekerja. 

Sabda Tuhan hari ini mengundang kita itu berani memikultanggungjawab dengan terlibat untuk discernment dan berani untuk dipilih. Jangan asal pilih pemimpin tanpa discernment, atau dengan “asal terpilih”. Seorang pemimpin komunitas bertanggungjawab menjadi penjaga roh, semangat hidup dan hidup bersama komunitas. 

Hal ini juga berlaku untuk komunitas-komunitas masyarakat seperti RT, Kepala Desa sampai kepada pemilihan DPR ataupun Presiden. Banyak orang-orang hebat di negeri kita. Semakin kita diam, pasif, maka bukan orang yang unggul  yang akan memimpin, mungkin justru mereka yang mengarahkan bangsa ini kepada primodialime dan radikalisme. Kita harus aktif, terlibat dan mau serta siap dipilih untuk menjadi pemimpin bangsa. 

Benar pepatah mengatakan bahwa seorang pemimpin itu tidak dilahirkan tetapi dibentuk; tetapi tidak semua bisa menjadi pemimpin, karena tidak semua mau dibentuk. 

Kontemplasi:

Gambarkanlah perumpamaan yang diberikan oleh Yotam.

Refleksi:

Apakah aku aktif, mau terlbat dan bertanggungjawab terhadap komunitas dengan terlibat dalam discernment dan membiarkan diri dipilih untuk menjadi pemimpin? 

Doa:

Ya Bapa, semoga kami semakin bertanggungjawab atas kebaikan komunitas, bangsa dan negara kami. 

Perutusan:

Terlibatlah dalam mengusahakan kebaikan bersama. Dan terimalah tanggungjawab sebagai pemimpin ketika mereka melihat kualitas anda. 

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here