Lentera Keluarga – Kemurahan dan Keadilan Allah

0
218 views

Tahun C-1. Pekan Biasa XXVIII. 
Rabu, 16 Oktober 2019. 
Bacaan: Rom 2:1-11; Mzm 62:2-3.6-7.9; Luk 11:42-46. 

Renungan:

PAULUS dengan indah mengungkapkan dua sikap Allah terhadap orang berdosa yaitu kemurahan dan keadilan Allah. Kemurahan Allah dimaksudkan untuk “menuntut engkau pada pertobatan” dan keadilan Allah dinyatakan dalam “membalas setiap orang menurut perbuatannya”.  Kemurahan Allah ditujukan untuk pertobatan yang dinyatakan dalam kesungguhan untuk berubah bukanlah senjata bagi kita untuk mentolelir dan jatuh kesalahan yang sama. Kemurahan Allah adalah kesempatan bagi kita untuk upgrade dan memperbaiki diri. Kemurahan ini tidak berlaku bagi mereka yang “mengeraskan hati”; yang berlaku bagi mereka adalah keadilan Allah. Penghakiman itupun bukan dilakukan oleh Allah secara adil dan jujur. 

Kemurahan hati Allah kadang kita temukan ketika  kita berbuat salah dan dosa karena kelemahan kita. Kita melukai Allah, kita melukai pasangan ataupun orang-orang yang kita layani. Perasaan yang kita alami adalah merasa bersalah, menyesal dan berdosa. Kemurahan hati Allah, orang-orang yang kita lukai menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri. Namun jika kita mengeraskan hati atas kesalahan dan dosa kita, maka wajah Allah akan berubah menjadi wajah keadilan, Ia akan menjadi hakim atas perbuatan kita. Maka janganlah kita sia-siakah kemurahan hati Allah dengan kesungguhan kita untuk bertobat dan memperbaiki diri.  

Selain itu, kita pun dipanggil untuk mengenakan sikap Allah  yang murah hati dan memberi kesempatan bagi orang-orang yang bersalah kepada kita untuk membangun hidupnya kembali. Kadang secara obyektif, mereka sudah kita ampuni tetapi mereka tetap melakukan hal yang sama; Dengan kenyataan ini kita perlu melihat 2 hal: apakah kita membantu yang bersangkutan untuk bertumbuh ataukah melihat apakah ia berjuang dengan sungguh untuk berubah. Keadilan baru kita tuntut kepada mereka ketika mereka “bertegar hati” dan itupun harus dilakukan secara jujur dan adil; bukan prinsip membalas atau melukai orang

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana Paulus mengungkapkan kemurahan dan keadilan Allah. 

Refleksi:

Bagaimana sikapku terhadap kemurahan hati Allah yang diberikan padaku ketika aku jatuh ke dalam dosa?

Bagaimanakah aku bersikap terhadap saudaraku yang berbuat salah kepadaku?

Doa: 

Ya Bapa, semoga kemurahan hatiMu mendorong aku membangun pertobatan dan membaharui hidupku dengan sungguh-sungguh.

Perutusan:

Jadikanlah kemurahan Tuhan sebagai kesempatan bagi anda untuk semakin memperbaharui hidup anda. Jangan gunakan kemurahan Allah itu sebagai kesempatan untuk jatuh ke dalam dosa yang sama.

(Morist MSF)- www.misafajava.org

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here