Lentera Keluarga – Kisah Aeropagus

0
182 views

Tahun C-1. Rabu Paska VI.

Rabu, 29 Mei 2019. 

Bacaan:Kis 17:15.22-18:1; Mzm 148:1-2.11-12ab.12c-14a.14bcd; Yoh 16:12-15. 

Renungan:

PAULUS adalah satu-satunya rasul yang berani berbicara di Aeropagus, tempat dimana para intelektual yunani berfilsafat menguji logika dan pengetahuan serta budaya yunani. Paulus menjelaskan Allah yang tidak dikenal termasuk juga kebangkitan orang mati. Nampaknya Paulus gagal dan ditertawakan, tetapi Dionisius dan Damaris serta beberapa orang  menjadi percaya. 

Aeropagus adalah lambang masyarakat kita yang beberapa “anti agama” dan beberapa “merasa tidak perlu agama – mengenal Allah” . Masyarakat yang sudah mapan, menekankan logika, ilmu, keahlian dan prestasi konkret. Tidak mudah berbicara mengenai Allah, apalagi berbicara mengenai dosa dan keselamatan. Di beberapa negara, gereja menjadi tempat kosong, dan iman kristen hanya menjadi tradisi. Namun kisah aeropagus mengingatkan kepada kita bahwa tidak ada kata gagal dan percuma ketika pewartaan ditolak atau dianggap tidak relevan. Boleh dikatakan “dunia yang tidak memerlukan Allah”. Di dalam hati setiap pribadi orang-orang jaman sekarang ada kerinduan kerinduan dalam untuk berjumpa dengan Allah. Pewartaan kita masih dapat menjawab kerinduan mereka.  

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana sikap Paulus atas reaksi pada pendengarnya di Aeropagus.

Refleksi:

Apakah aku berani bersaksi mengenai kehadiran Allah pada jaman sekarang ini?

Doa

Ya Bapa, semoga semakin banyak hati  Kaupanggil untuk dapat mengenalMu di tengah dunia yang “tidak membutuhkan Allah”. 

Perutusan:

Jadilah pewarta yang tanggung di dunia dimana “Allah tidak dikenal dan mungkin tidak dirasakan perlu ada”.  

(Morist MSF –  www.misafajava.org)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here