Lentera Keluarga – Tali Pengikat Kesempurnaan

0
247 views

Tahun C-1. Pekan Biasa XXIII
Kamis, 12 September 2019
Bacaan: Kol 3:12-17; Mzm 150:1-6; Luk 6:27-38.

Renungan:

“..di atas semuanya itu kenakanlah cinta kasih, tali pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan”.  Kasih menjadi tanda dan cara hidup orang-orang pilihan Allah. Oleh Paulus kasih digambarkan sebagai sebuah tali pengingat yang membelenggu, mengurangi kebebasan pribadi dan memaksa diri untuk hidup bersama dengan orang. Kasih itu adalah sebuah keputusan atau komitmen untuk membangun hidup bersama, lepas dari suka dan tidak suka. Namun kasih sebagai keputusan itu disertai dengan”menyatukan” dan “menyempurnakan”. Mengasihi tidak cukup hidup dalam ikatan tetapi harus bertumbuh dalam intimitas dan kebaikan bersama dua pribai. Kasih tidak cukup hanya menerima diri dan pasangan apa adanya, karena kadang rumusan itu kerap menjadi alasan bagi kira untuk tidak mau berubah. Kasih sejati itu mengubah dan mendewasakan. 

Salah satu tren yang berkembang di kota besar adalah hidup bersama tanpa adanya ikatan nikah. Bayangan mereka, menikah itu membelenggu kebebasan mereka. Apalagi kalau mereka menikah dan mempunyai anak. Lebih baik hidup bareng seperti pacaran “plus” saja, dan kalau sudah tidak cocok bisa pisah dan cari teman dekat lain. Mereka takut akan “komitmen” dalam bentuk ikatan yang menuntut tanggungjawab. Cinta yang tanpa komitmen ini tidak akan membuat orang “lebih bersatu” dan “lebih dewasa.” Cinta ini rapuh dan bisa bubar seketika. Kesatuan dan kedewasaan cinta itu justru didapatkan dan diupgrade dengan keberanian untuk mengarungi  dan menyelesaikan konflik dan persoalan, kebersamaan dalam suka dan duka hidup dan menundukkan ego-kepentingan pribadi. 

 Hidup bersama kita dalam komunitas juga membutuhkan komitmen: memberikan prioritas pada jadual bersama, melibatkan diri untuk berkumpul bersama, mengambilbagian dalam tugas komunitas, membicarakan tema-tema hidup bersama, dan menundukkan kepentingan/kesibukan kita pribadi serta membangun “sense of belongin” komunitas. Hidup bersama tidak terbangun dengan sendirinya, tetapi hidup bersama itu harus diciptakan dan membutuhkan komitmen untuk melaksanakannya. Cocok dan tidak cocok, senang dan tidak senang adalah hal yang wajar tetapi bukan dasar ikatan bagi hidup bersama kita. Perbedaan dan  konflik tak terhindarkan tetapi penting bagi kebaikan hidup pribadi dan kebersamaan. 

Kontemplasi:

Gambarkan bagaimana nasihat Paulus ini bergema bagi jemaat di Kolose. 

Refleksi:

Apa komitmen yang kubuat dalam hidup bersama dan apa dampaknya dalam hidupku pribadi dan hidup teman sekomunitas/kelaurga?

Doa: 

Ya Bapa, sebagaimana Engkau memutuskan untuk mengasihi kami dan memberikan yang terbaik bagi kami, demikian juga kami memutuskan untuk mengasihi saudara-saudara kami dan memberikan yang terbaik bagai pekembangan hidupnya dan komunitas. 

Perutusan:

Beranilah membuat komitmen untuk hidup dalam sebuah ikatan yang tetap dan stabil, baik dalam perkawinan maupun komunitas. 

(Morist MSF)- www.misafajava.org

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here