Lentera Keluarga – Tanggungjawab

0
216 views

Tahun C-1. Pekan Biasa XXI. 
Jumat, 31 Agustus 2019
Bacaan: 1 Tes 4:9-11; Mzm 98:1.7-8.9; Mat 25:14-30.

Renungan:

DENGAN perumpaan mengenai talenta, Tuhan Yesus mau mengajar murid-muridNya mengenai tanggungjawab yang disertai dengan kreatifitas. Tanggungjawab tidak terletak pada besar atau kecilnya pekerjaan, tetapi terletak pada kesungguhan orang untuk melakukannya. Fokus tanggungjawab tidak terletak pada kepentingan atau keuntungan orang lain, tetapi terletak pada daya juang, keberanian menanggung resiko dan kreatifitas yang penting untuk melatih kemampuan diri sendiri. 

Seberapa besar warisan dan harta yang diberikan oleh orang tua kita kepada kita, tetapi tanpa tanggungjawab maka kita hanya akan hidup menggantungkan diri dari “deposito” dan hidup sebagai orang yang tidak mampu bekerja. Harta yang banyak tidak serta merta membuat orang bertanggungjawab: punya daya juang, keberanian menanggung resiko dan kreatif. Kadang kekayaan itu dijadikan mereka sebagai kesempatan untuk “menikmati” dan bergantung. Tanggungjawab itu melatih hidup dan kemampuan kita ketika semua yang kita miliki itu mungkin hilang dan tidak bisa kita andalkan lagi. 

Hidup kita sebagai imam dan religius juga tidak lepas dari tanggungjawab, yang mungkin kita rasakan sebagai tuntutan untuk berpikir bagi kebaikan gereja. Semakin kita berani menerima tanggungjawab, semakin kita dilatih untuk berkembang dalam hidup panggilan kita. Tantangan kita sebagai religius dan imam biasanya karena kelalahan dalam tanggungjawab dan yang sebaliknya adalah merasa hidup sudah nyaman, cukup dan bahagia dengan yang ada. Kebaikan dan kemudaan yang diberikan diberikan oleh umat kepada kita kadang meninabobokan kita untuk bertanggungjawab atas hidup kita sendiri.

Dalam hidup beriman, tanggungjawab iman juga harus kita wujudkan dengan kesungguhan, keberanian dan kreatifitas. Tidak cukup hanya baptis dan merasa aman. Baptis harus menjadi daya kehidupan kristiani konkret untuk mewujudkan kasih, mencintai Firman, Beribadah dan terlibat dalam hidup menggereja secara aktif. Gereja terasa hidup jika ada banyak orang yang mengembang tanggungjawab iman dengan sungguh-sungguh.  

Kontemplasi:

Gambarkanlah apa yang membuat hamba-hamba berani menggandakan talenta? Apa yang mereka cari?

Refleksi:

Apakah dalam hidup, karya dan pekerjaan aku bekerja dengan sungguh-sungguh, tanggungjawab, kreatif, menjadikannya berkat bagi diriku dan bagi orang lain?

Doa:

Ya Bapa, syukur dan terima kasih atas anugerah rahmat iman yang boleh kami terima. Semoga dengan sukacita, tekun, sungguh-sungguh, kami menghidupinya dari ke hari. Amin. 

Perutusan:

Kembangkanlah anugerah Allah dalam hidup anda untuk anda dan untuk kebaikan bagi banyak orang. 

(Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here