Lima Ciri Khas Pendidikan Yesuit

8
8,575 views

KARAKTERISTIK pertama pendidikan Jesuit adalah hasrat dan kehendak yang besar untuk berkualitas. Keunggulan akademis sangatlah penting.

Unggul di bidang ilmu

Ini tidak berarti bahwa institusi pendidikan Jesuit tidak memiliki kelemahan dalam program-program pendidikannya.Namun, lebih berarti bahwa setiap institusi pendidikan Jesuit selalu memiliki arah untuk mengusahakan pendidikan yang baik dan disegani oleh pelaku di dunia pendidikan. Keunggulan akademis berarti juga adalah pelayanan yang berorientasi pada kualitas, karena dengan demikian institusi pendidikan Jesuit menerapkan standar yang tinggi baik untuk siswa dan para guru.

Karakter kedua dari pendidikan Jesuit adalah dikembangkannya ilmu-ilmu humaniora dan ilmu pengetahuan (sains) di dalam setiap bidang dan spesialisasi.

Insititusi pendidikan Jesuit ingin agar setiap peserta didiknya bisa berpikir, berbicara dan menulis; memahami sejarah, sastra dan juga seni budaya; membantu agar cakrawala berpikir mereka diperkaya dengan pemahaman yang diinspirasikan dari filsafat dan teologi; dan di satu sisi memahami matematika dan ilmu pengetahuan. Institusi pendidikan Jesuit mau agar para peserta didik dapat dipersiapkan dan siap untuk hidup mandiri dan bekerja. Pendidikan yang demikian semakin penting dewasa ini di tengah-tengah tuntutan yang tinggi dalam penguasaan teknologi. Institusi Pendidikan Jesuit membutuhkan sarjana teknik yang bisa mengapresiasi karya sastra dan ahli komputer yang memahami sejarah dan akar-akar peradaban dunia dan manusia.

Karakter ketiga dalam pendidikan Jesuit adalah dorongan terus menerus untuk mencari jawab atas problem-problem etika dan sistem nilai hidup baik dalam level personal maupun dalam konteks dunia kerja para lulusannya.

Nilai-nilai keluarga, integritas pribadi, dan etika bisnis selalu menjadi pokok yang penting bagi institusi pendidikan Jesuit. Institusi Jesuit haruslah mengajak peserta didiknya untuk memahami dan mencari jawab atas problem-problem ekonomi, rasisme, perdamaian dan peperangan, kemiskinan dan penindasan serta problem-problem ketidakadilan.

Karakter keempat dari pendidikan Jesuit adalah pentingnya untuk mengembangkan pengalaman iman dan hidup rohani terlebih bagi peserta didik katolik. Namun demikian di era ekumenisme zaman ini, pengembangan iman dan hidup rohani tentunya terbuka untuk siapa saja. Pengalaman iman dan hidup rohani sangatlah penting dalam pengembangan pribadi yang integral. Oleh sebab itu perlu diintegrasikan dalam proses pendidikan agar peserta didik memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang baik dalam pengetahuan dan iman.

Pembentukan karakter

Karakteristik kelima dari pendidikan Jesuit adalah perhatian kepada pribadi.

Bagaimanapun besar dan kompleksnya permasalahan dalam sebuah institusi pendidikan Jesuit, perhatian dan pendampingan pribadi peserta didik adalah hal yang sangat penting. Peserta didik perlu mendapat perhatian dan sapaan yang manusiawi dalam konteks pengembangan dirinya secara integral baik di dalam maupun di luar kelas, secara akademis maupun non-akademis. Pendampingan dan perhatian macam ini, yang dilakukan oleh pendidik, karyawan, maupun pimpinan sekolah merupakan sesuatu yang diyakini lebih dari sekedar tugas, bahkan lebih dari sebuah profesi. Perhatian dan pendampingan terhadap pribadi peserta didik adalah sebuah panggilan.

Panggilan sebagai pendidik dalam institusi pendidikan Jesuit mendapatkan identitasnya secara nyata pada sejauh mana para pendidik memiliki semangat pantang menyerah, passion atau hasrat untuk menyapa, memperhatikan tumbuhnya pribadi peserta didik secara integral dalam berbagai aspek kegiatan dan juga tantangan-tantangan dinamika anak didik jaman ini, bukan sekedar datang, mengajar, menilai, dapat duit dan pulang.

Menjadi pendidik di Kolese Jesuit tidaklah sama seperti menjadi guru les atau karyawan kantor/perusahaan. Panggilan menjadi pendidik tentunya didasari akan adanya kecintaan terhadap peserta didik, kecintaan terhadap kaum muda yang didampingi dengan harapan dan optimisme besar supaya mereka bisa tumbuh mengembangkan potensi dirinya menjadi pribadi yang bertanggungjawab, berkomitmen, kompeten, berhati nurani dan berkepedulian sosial. Tanpa adanya kesadaran akan panggilan ini, karakteristik pendidikan Jesuit di sebuah kolese akan kehilangan gregetnya.

Disadur dari Five Traits of Jesuit Education oleh Robert A. Mitchell SJ, Boston College Magazine: 1988  dalam Jesuit Education Reader, 2008)

Augustinus Widyaputranto, mahasiswa program S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, pernah menjadi pendidik di Kolese Loyola, Semarang.

Photo credit: www.loyola-smg.sch.id

8 COMMENTS

    • Kolese Jesuit di Indonesia:
      SMP/SMA Kanisius, Jakarta Pusat
      SMA Gonzaga, Jakarta Selatlan
      SMA Loyola, Semarang
      Pendidikan Kayu Atas (PIKA), Semarang
      Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI), Solo dan Cikarang
      SMA de Britto, Yogyakarta
      SMA Seminari Mertoyudan, Magelang

      Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

    • Tentu saja perlu dipertimbangkan: Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara (yang dikelola oleh konsorsium yang anggotanya terdiri dari KAJ, OFM dan SJ).

      Alamat: Cempaka Putih Indah 100 A; Rawasari; Jakarta Pusat.

      STF Driyarkara menawarkan dua Program Studi: Filsafat (dengan jenjang S1, S2 dan S3)dan Teologi (dengan jenjang S1 serta Program Teologi Pastoral dan Persiapan Imamat).

      salam,
      Ignatius L. Madya Utama, S.J.
      Jl. Gereja Theresia 2
      Jakarta Pusat.

  1. Sejak 1964, saya didik oleh para Jesuit, baik formal maupun non formal. Mulai dari Romo: Rejnders, Jan Mulder, Beck, Casutt, Chetelat, Sutopanitro. Hematku pelajarannya adalah, rendah hati, jujur, disiplin, jujur, ulet, berani, imaginasi dsb. Soal Ilmu wahhh nampaknya saya nggak ahhh

    • Pak Martin, selamat atas terbitnya buku tentang Romo Sutopanitro. Sedikit ulasan sdh saya postingkan di web kami.

  2. Kolese adalah lembaga pendidikan yang dimiliki dan dikelola oleh Yesuit (sebutan bagi para rohaniwan ordo Serikat Yesus atau SJ). Tujuan pendirian kolese adalah untuk mempersiapkan/mendidik para pemuda supaya memiliki kecakapan intelektual dan hidupnya akrab dengan Tuhan, dengan demikian siap menjadi pemimpin keagamaan dan masyarakat.

    Kolese pada awalnya didirikan oleh Santo Ignatius Loyola pada sekitar tahun 1500. Ignatius Loyola membangun kolese dengan tujuan yang telah disebutkan ketika situasi reformasi gereja. Loyola adalah salah satu tokoh kontra reformasi dan melakukan pembaharuan dengan tetap berpegang pada ajaran Katolik.
    Kolese pertama di Indonesia adalah Kolese Xaverius di Muntilan. Pendiri dan pencetus ide itu adalah Pater van Lith, SJ. Murid-muridnya mengatakan bahwa ia adalah seorang Belanda berhati Jawa (waktu itu negara Indonesia belum berdiri). Ia sangat prihatin melihat keadaan kemanusiaan waktu itu. Orang Jawa di tanahnya sendiri adalah budak, sedangkan orang Belanda adalah tuan. Ini adalah suatu kemanusiaan yang timpang. Ia ingin mengubah persepsi, sikap, dan penghayatan akan kemanusiaan yang salah itu. Untuk itu, ia mendirikan kolese bagi pemuda Jawa atau Indonesia. Di Kolese Xaverius, siswa meresapkan iman keyakinan bahwa setiap manusia diciptakan sama sebagai anak-anak Allah. Di samping itu, mereka belajar bahasa dan budaya Belanda. Di asrama, siswa belajar hidup dengan cara hidup orang Belanda. Dengan bekal yang diperoleh selama di kolese, siswa-siswa Jawa menghayati kemanusiaan yang benar, tidak menjadi inferior, mampu berbahasa dan bertatacara sebagai manusia berbudaya modern. Mereka dapat duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan orang Belanda.
    Cita-cita kolese Pater van Lith, SJ berhasil. Hal ini tampak dari penghayatan para siswanya sebagai orang Jawa otentik yang mampu hidup modern. Mereka menghayati kemanusiaan yang benar, memperjuangkan, dan menyebarkannya. Banyak dari mereka menjadi guru dan mengajarkan apa yang telah diperoleh dari Muntilan. Banyak juga yang berkecimpung dalam berbagai profesi dan di mana mereka berada, mereka memperjuangkan ideal Kolese Xaverius.

    Kolese Kanisius merupakan sebuah lembaga pendidikan yang terdiri dari dua sekolah, yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), yang dikelola oleh Ordo Serikat Yesus (SY). Oleh karena itu, kolese ini merupakan salah satu dari kolese-kolese yang tersebar di seluruh dunia yang juga dikelola oleh para Yesuit (sebutan bagi para anggota SY).

    Gonzaga College
    Kolese Gonzaga adalah sekolah untuk siswa SMA yang terletak di Jalan Pejaten Barat nomor 10 A, Jakarta Selatan. Kolese ini berdiri pada tahun 1987, dengan nama Kolese Kanisius Unit Selatan. Pada tahun 1990 baru memakai nama Kolese Gonzaga. Nama Gonzaga diambil dari nama santo pelindung sekolah, Santo Aloysius Gonzaga (1568–1591). Kolese Gonzaga pun akrab disebut dengan panggilan Gonz. Kompleks sekolah Kolese Gonzaga ini juga menyatu dengan kompleks Seminari Menengah Wacana Bhakti. Kompleks pendidikan Kolese Gonzaga ini berdiri di atas tanah seluas 2,8 hektare.

    Kolese De Britto (De Britto College atau yang lebih dikenal dengan akronim JB [jébé] yang berasal dari nama Johanes de Britto.), adalah Sekolah Menengah Atas Katolik yang diasuh oleh Serikat Jesuit. Dibangun di atas tanah seluas 32.450 m2. SMA ini termasuk salah satu SMA favorit di Yogyakarta dan terkenal karena prestasi di bidang akademis dan intelektual, Olah Raga, dan bidang non-akademis lainnya. Nama ‘de Britto’ sendiri didapat dari nama seorang Santo dan misionaris Portugal di abad ke-17 yang berkarya di India, Johanes de Britto.
    Kolese John De Britto berada di Jl. Laksda Adisucipto No. 161, Yogyakarta.Kolese De Britto sebagai komunitas pendidikan berjuang untuk membantu proses pembentukan pribadi siswa menjadi pemimpin-pemimpin pelayanan yang kompeten, berhati nurani benar, dan berkepedulian pada sesama demi kemuliaan Allah yang lebih besar.

    Loyola College
    Kolese Loyola (Loyola College atau yang lebih dikenal dengan akronim LC) adalah sebuah lembaga pendidikan bernafaskan iman Katolik yang dijalankan oleh Serikat Yesus. Kolese Loyola berlokasi di Semarang. Nama Loyola diambil dari nama santo pelindung sekolah, Santo Ignatius Loyola (1491-1556). Pada Agustus 1949, Pater Jan van Waayenburg, SJ mendirikan suatu SMA yang bernama Canisius VHO (VHO adalah sekolah persiapan ke perguruan tinggi). Pada awalnya, sekolah ini bertempat di Bruderan Kalisari. Jumlah siswa-siswinya sedikit. Oleh karena itu, antara siswa dan siswi dicampur. Setelah jumlahnya memadai, para siswa dipisahkan dari para siswi dalam kelas-kelas yang tersendiri. Kelas para siswa diasuh oleh romo-romo Yesuit. Sedangkan para siswi diasuh oleh suster-suster Fransiskanes. Pada tahun 1950, kelas para siswa dipindah ke lokasi baru di jalan Karanganyar. Canisius VHO menjelma menjadi Kolese Loyola. Kelas para siswa ini disebut Loyola Putra. Sedangkan para siswi dipindah ke daerah Bangkong, pada jalan Mataram dan diasuh oleh suster Fransiskanes. Sejak 1 Agustus 1968, kedua bagian secara resmi berdiri sendiri dengan nama Loyola I dan Loyola II. Sejak 1 Februari 1982, pemisahan Kolese Loyola dari Loyola II menjadi sempurna dengan berubahnya nama Loyola II menjadi Sedes Sapientie. Suster PI juga mendirikan sebuah sekolah sekolah yang terpisah dari Loyola II menjadi Loyola III di Kebon Dalem. Sekolah Suster PI ini telah berpisah secara resmi sejak 25 April 1973 dan menjadi SMA Kebon Dalem. Kolese Loyola sendiri menerima murid putri secara resmi dari kelas 1 pada tahun 1968. Untuk mewadahi kiprah alumni Kolese Loyola dibentuk suatu wadah KEKL (Keluarga Eks Kolese Loyola) pada tanggal 27 Desember 1962. Dalam KEKL, alumni tidak hanya bekerja sama untuk meraih cita-citanya, tetapi juga untuk menjadi pelopor dalam memperjuangkan kepentingan bangsa.

    PIKA College
    PIKA atau Pendidikan Industri Kayu Atas adalah lembaga pendidikan kayu terdiri dari pendidikan setingkat sekolah menengah kejuruan (Sekolah Menengah Teknik Industri Kayu) dan sekolah tinggi. Berlokasi di Jalan Imam Bonjol No 96, Semarang. PIKA menyelenggarakan training di bidang perkayuan dan furniture di sepanjang tahun. Konsultasi mengenai ISO dan uji kompetensi SMK juga diberikan oleh institusi PIKA. Produk hasil industri perkayuan seperti mebel rumah tangga atau perkantoran, juga diproduksi oleh PIKA sesuai dengan permintaan atau kebutuhan pribadi, organisasi atau industri.

    St.Mikael College
    SMK Katolik St. Mikael Surakarta adalah sebuah sekolah menengah kejuruan di Surakarta, Indonesia. Penyelenggaraan sekolah ini berada di bawah Yayasan Karya Bakti Surakarta. Kolese ini biasa disebut dengan singkatan MICO (Michael College). SMK Mikael mulai TA 2009/2010 membuat 2 program spesialiasasi yaitu spesialisasi mekanik dan gambar (drafter). Pencapaian kurikulum untuk spesialisasi mekanik yaitu pematangan pada teknik CNC sampai dengan pemrograman menggunakan CAM software, sedangkan untuk spesialisasi gambar (drafter) siswa didik untuk mampu merancang dengan menggunakan software gambar 3D base (Solid work dan Inventor). SMK Mikael juga mengembangkan teaching factory dengan fasilitas mesin CNC Milling 3 Axis dan CNC bubut 4 Axis.

    Seminari Menengah Mertoyudan
    Visi Seminari adalah menjadi komunitas pendidikan calon imam tingkat menengah yang handal dan berkompeten dalam mengembangkan sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan), dan scientia (pengetahuan) ke arah imamat yang tanggap terhadap kebutuhan zaman. 1.mendidik dan mendampingi seminaris (siswa) menjadi pribadi yang berkembang secara integral dalam sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan), dan scientia (pengetahuan) ke arah kedewasaan sesuai dengan usianya sehingga semakin mampu mengambil keputusan sesuai dengan panggilan hidupnya. 2.menyelenggarakan pendidikan yang mampu membentuk dan mengembangkan seminaris menjadi pribadi yang jujur, setia, disiplin, bertanggung jawab, solider, mampu bekerjasama, berjiwa melayani, berani memperjuangkan keadilan, dan mampu berdialog dengan penganut agama/kepercayaan lain, dengan mengedepankan manajemen partisipatif.

    Kolese Le Cocq d’Armandville adalah kolese Yesuit yang terletak di Nabire, Papua. Terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Bukit Meriam, Nabire. Kolese ini merupakan satu-satunya kolese yesuit yang berada di luar Jawa. Kolese Le Cocq d’Armandville meliputi SMA Adhi Luhur (didirikan 1987), Peternakan Babi dan Pertukangan Kayu Alfonsus, Asrama Putra Teruna Karsa dan Asrama Putri Santa Theresia, dan Pastoran para Jesuit yang bekerja di Sekolah dan kedua Asrama tersebut. Pada tahun 2000, Yesuit diberi kepercayaan oleh Keuskupan Jayapura untuk mengelola SMA Adhi Luhur yang telah didirikan pada tahun 1987 ini, dengan seizin Pater Jenderal Serikat Jesus. Misi Serikat Jesus di lembaga pendidikan ini adalah mau mempersiapkan kader pemimpin Papua masa depan. Sejak 2001 hingga tahun 2008 jabatan Kepala Sekolah dipegang oleh Pater J. Muji Santara, S.J. Pada tahun 2008, jabatan Kepala Sekolah diserahkan kepada Pater A. Mardi Santosa, S.J. Pater Bas Soedibja, S.J. adalah Rektor Kolese dan Superior para Jesuit, baik di Nabire maupun Papua. Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di SMA Adhi Luhur cukup beragam, mulai dari Ekstrakurikuler Basket, Jurnalistik, English Cocqiez Society, Futsal, Warung Magis, Hingga HIV-AIDS. Selain itu, Adhi Luhur juga rutin menyelenggarakan kegiatan tahunan seperti Open House, Ajang Kreativitas (AKAL), Festival Budaya, Valentine Day, Rekoleksi, Natal Sekolah, POSAL, dan lain-lain.

Leave a Reply to Ruddy S Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here