Lima Suster OSA Misionaris Merintis Karya: Sekali Tiba di Ketapang, takkan Pernah Boleh Pergi (1)

0
148 views
Rumah Sakit Daerah Ketapang di mana tiga suster OSA perintis misionaris ke Ketapang mulai bekerja sejak tanggal 9 Desember 1949. (Dok OSA/Repro MH)

SESAMPAI di depan pintu Pastoran Ketapang, Pastor Misionaris Belanda bernama Rafael dari Congregatio Passionis (CP) sudah “menghadang” mereka dengan berdiri di depan pintu guna menyambut kedatangan para suster muda OSA yang masih kinyis-kinyis (super imut) ini.

Kepada kelima “noni-noni” Belanda kiriman dari Biara Pusat Kongregasi OSA di Mariënheuvel di Heemstede itu, Pastor Rafael CP langsung berujar dengan sambutan sangat-sangat “menohok” ulu hati.

Pastor Plechelmus Dullaert CP bergaya dengan pipa cangklong. (Dok OSA/Repro MH)

“Sekarang kalian sudah tiba di Ketapang dan kami –para pastor CP—sudah berhasil mendatangkan kalian dari Heemstede ke Ketapang. Maka, untuk selamanya, maka kami tidak akan pernah mau melepaskan kalian bisa pergi keluar meninggalkan Kalimantan Barat,” kata pastor Passionis itu tanpa disertai “muka galak”.

Namun Pastor Rafael CP, demikian nama sang pastor Passionis itu– malah mengatakan “peringatan dini” itu dengan penuh senyum .

Ini, kata dia, hanya sekadar untuk mengingatkan bahwa perjalanan kelima suster OSA muda-muda itu dari Nederland ke Batavia hingga Pontianak dan akhirnya ke Ketapang itu pasti tidak akan pernah sia-sia.

Pastor Rafael CP.

Sambutan yang begitu menohok itu juga tidak menjadikan lima suster OSA yang masih kinyis-kinyis (super imut) itu lalu tersinggung dan kemudian ngambeg. Tidak sama sekali.

Justru sejak itu, mulai terjalinlah relasi kerjasama yang amat baik antara para pastor misionaris CP dengan lima suster OSA misionaris.

Mereka semuanya itu akhirnya bisa berkarya di Tanah Kayong berkat adanya rekomendasi Vikaris Apostolik Borneo-Belanda Mgr. Tarcisius HJ van Valenberg OFMCap yang datang mengunjungi Biara Pusat OSA Mariënheuvel di Heemstede, Nederland, di akhir tahun 1948.

Penduduk 15 ribu untuk tanah seluas lebih dari Jateng

Secara geografis dan peta demografis, wilayah reksa pastoral Ketapang di tahun 1949 itu punya luas wilayah kurang lebih sama dengan Negeri Belanda. Jumlah populasinya hanya 15 ribu orang terdiri dari berbagai etnisitas, terutama Dayak, Tionghoa, dan Melayu.

Orang-orang Dayak sebagai penduduk asli “pribumi” Tanah Kayong lebih suka menyingkir ke pedalaman atau kawasan Hulu.

Kawasan permukiman mereka lebih banyak berada di pedalaman yang mana –karena “dikepung” oleh kawasan hutan maha luas dan lebat— hanya bisa dijangkau dengan perahu motor atau klothok melalui perairan sungai.

Sungai Pawan menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Dayak dan menjadi akses penting transportasi melalui aliran sungai.

Para misionaris anggota tarekat Congregatio Passionnis (CP) menjadi sahabat para suster OSA di masa-masa awal merintis karya di Ketapang sejak 6 Desember 1949 hingga sekarang. Ki-ka: Br. Gaspard Ridder van der Schueren CP meninggal tenggelam karena terseret arus Sungai Pesaguan tanggal 27 Februari 1952. Berikutnya, Pastor Bernardinus Knippenberg CP tiba di Ketapang di bulan Oktober 1946. Berikutnya adalah Pastor Canisius Pijnappels CP yang bersama Pastor Knippenberg tiba di Indonesia bulan Juli 1946. (Repro MH)

Pada tahun-tahun itu, mereka umumnya bermata pencaharian sebagai peramu atau peladang dengan memanfaatkan hasil-hasil hutan berupa karet, aneka buah-buahan dan sayuran, serta daging dari hasil berburu hewan liar di hutan.

RS Daerah Ketapang

Hanya selang tiga hari kemudian setelah mereka tiba di Ketapang tanggal 6 Desember 1949, tiga suster muda OSA itu langsung menunaikan tugas barunya sebagai perawat di Rumah Sakit Daerah Ketapang milik Pemerintah RI. Mereka adalah Sr. Maria Paolo OSA, Sr. Desideria OSA, dan Sr. Mathea Bakker OSA.

Rumah Sakit Pemerintah satu satunya di Ketapang 1949. (Dok OSA/Repro MH)
Rumah Sakit Daerah di Ketapang menjadi satu satunya rumah sakit yang ada di wilayah Ketapang di tahun 1949, padahal wilayah Ketapang ini lebih luas dari Provinsi Jateng saat ini.

Sementara, Sr. Prudentia OSA punya tugas harian mengurus rumah tangga biara dengan Sr. Euphrasia Laan sebagai Pemimpin Biara.

Berjuang melawan dan untuk air

RS Daerah Ketapang di tahun 1949 itu berdiri di sebuah lokasi tidak jauh dari sungai. Namun dari dan di sungai itu pula, seluruh kegiatan “bersih-bersih” juga terjadi di situ.

Mereka membuang semua sampah di sungai tersebut.

Tidak hanya itu, mereka mencuci semua peralatan RS dan alat rumah tangga –termasuk mencuci sayuran dan buah-buahan—juga di perairan yang sama. Orang –orang lokal juga memperlakuan sungai itu dengan fungsi sama: menjadi tempat sampah sekaligus sumber kehidupan rumah tangga.

Itu baru satu persoalan.

Sungai dekat RS Daerah Ketapang di tahun 1949 yang menjadi sumber kehidupan RS masa itu. (Dok OSA/Repro MH)
RS Daerah Ketapang di tahun 1949 banyak menerima pasien keluhan sakit pathek atau frambosia, cacar, dan tifus. (Dok OSA/Repro MH)

Lainnya adalah air selalu menjadi masalah utama bagi para suster dan semua karyawan RS Daerah Ketapang.

Di kala musim kemarau, air menjadi hal yang sulit ditemui, karena itu mereka “berpaling” ke sungai. Namun, di musim hujan, air menggenangi semua kawasan dan praktis seluruh areal RS itu berada dalam “kobangan” genangan air.

Sementara itu, di dalam zal-zal RS yang hanya berdinding kayu lapis, para pasien hanya bisa tidur di atas tikar. Tidak tersedia bed atau dipan di sana. Pasien itu rata-rata menderita sakit kulit patek (frambusia), cacar, atau tifus. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here