Luk 6: 6-11, Senin, 9 Sept 2019: Hari Biasa Pekan XXIII

0
219 views
Ilustrasi: Yesus menyembuhkan mertua Petrus by John Bridges (Ist)

SABAT sebagai hari pemulihan dan penyembuhan keterbatasan manusia.

Injil hari ini menghadirkan kisah perjumpaan Yesus dengan orang yang mati tangan kanannya: “Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya.”

Dan pada bagian akhir Injil memperlihatkan Yesus yang menyembuhkan orang itu: “Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!”

Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. 6:11 Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.”

Apa arti penyembuhan ini? Apa arti tangan kanan yang mati ini?

Melalui kisah penyembuhan ini orang-orang yang hadir di sekitar kisah penyembuhan diajak untuk kembali pada peristiwa penciptaan. Tangan kanan mengekspresikan aktivitas manusia.

Dengan sakitnya itu, orang yang mati tangan kanannya tidak dapat beraktifitas karena keterbatasannya. Yesus memberikan pemulihan kembali. Pada hari Sabat Ia memulihkan keterbatasan orang itu.

Yesus sekaligus ingin menunjukkan suka cita hari Sabat yang mesianik, dan bukan yang legalistik.

Niat Yesus untuk menyembuhkan pada hari Sabat adalah untuk kebaikan manusia dan pertama-tama, untuk orang yang sakit.

Berbuat baik atau jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?

Motivasi cinta ini mengajak kita untuk merefleksikan perilaku kita sambil bercermin pada perilaku Yesus yang menyelamatkan. Hari ini Yesus tidak hanya ingin memperhatikan dan menyembuhkan orang sakit yang tangan kanannya mati, tetapi Ia juga ingin menyembuhkan ahli Taurat dan orang Farisi yang hidup dalam kepatuhan yang salah terhadap Hukum.

Menurut Penginjil, tujuan utama hari Sabat adalah untuk berbuat baik, dan untuk menyelamatkan: “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?”

Sementara itu orang-orang Farisi mendasarkan hubungan mereka dengan Tuhan pada dengan cara menghindari berbagai hal, misalnya: skandal, pencemaran, makan makanan yang tidak murni, bergaul dengan orang-orang berdosa.

Sekali lagi, tindakan melakukan apa yang benar dan baik dan adil lebih penting daripada tidak melakukan apa yang buruk atau tidak bermoral atau tidak adil. 

Tetapi Yesus mengajarkan bahwa iman dan ibadat otentik yang layak bagi Allah dinyatakan bukan dengan menghindari apa yang buruk tetapi merangkul apa yang baik.

Benar bahwa kita seharusnya tidak mencuri,  tetapi Tuhan memanggil kita untuk memberi dengan penuh syukur dan sukacita kepada mereka yang membutuhkan.

Benar bahwa kita seharusnya tidak membunuh, tetapi Tuhan meminta kita untuk membawa kesembuhan dan harapan bagi mereka yang hidupnya hancur.

Benar bahwa kita seharusnya tidak membenci, tetapi Tuhan memanggil kita untuk mencintai orang-orang yang tidak dapat dicintai, untuk mengampuni yang tidak termaafkan, untuk mencari yang terhilang dan dilupakan. 

Tuhan yang mencintai kita sepenuhnya dan terus-menerus meminta kita untuk saling mengasihi dengan cara yang sama. Allah yang dengan aktif mengampuni kita dan menyelamatkan kita memanggil kita untuk menjalani kehidupan yang penuh syukur dan rekonsiliasi yang aktif.

Tautan videonya di sini:

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here