Lukas 11: 1-4 Rabu, 9 Okt 2019 Hari Biasa Pekan XXVII: Kekuatan Doa 20 Detik

0
145 views
Para suster rubiah karmel berdoa di kapel menjalani ibadat pagi usai misa harian. (Mathias Hariyadi)

Yesus berdoa – para murid yang merindukan pengajaran doa.

Suatu kali “Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.”

Permohonan ini terasa aneh, karena pada waktu itu orang-orang Yahudi belajar untuk berdoa sejak mereka masih anak-anak.

 Semua orang berdoa tiga kali sehari: di pagi hari, siang, dan sore hari.

Mereka sering berdoa menggunakan Mazmur. Mereka melakukan doa  di rumah maupun di Sinagoga.

Rupanya mereka masih merasa belum cukup. Murid itu ingin lebih: “Tuhan, ajarlah kami berdoa.” Si murid ini melihat “sesuatu yang lebih” yang ada dalam diri Yesus.

Ia tidak berdiskusi atau bertanya tentang alasan si murid bertanya. Ia memahami bahwa para murid-Nya membutuhkan bantuan. Ia pun segera memenuhi permohonan mereka.

Doa Bapa Kami mengungkap lima permohonan pokok

 

Ia berkata: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

 

Yesus merangkum semua ajarannya dalam lima permohonan yang ditujukan kepada Bapa.

Dua permintaan yang pertama berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah.

Tiga permintaan lainnya berbicara tentang kebutuhan dan hubungan di antara manusia.

Doa Bapa Kami melatih sikap batin

Pendarasan doa singkat ini hanya membutuhkan waktu sekitar 15-20 detik.

Bagi seseorang yang mengaku sebagai pengikut Yesus sejak kecil, tentunya telah hafal di luar kepala dan mendaraskan doa itu berulangkali. Doa ini merangkum iman.

St. Cyprianus dari Kartago, uskup abad ketiga menulis, “Teman-teman yang terkasih, Doa Bapa Kami mengandung banyak misteri besar tentang iman kita. Dalam beberapa kata ini ada kekuatan rohani yang luar biasa, karena ringkasan pengajaran ilahi ini memuat semua doa dan permohonan kita.”

Paus Emeritus Benediktus XVI mengingatkan bahwa makna Bapa Kami bukan sekadar membaca teks doa.

Doa ini bertujuan untuk membentuk diri kita, dan melatih kita dalam sikap batin Yesus.

Tidak. Mari kita melihat secara singkat doa yang dipaparkan Lukas:

Ketika Yesus mengajarkan hal ini kepada murid-muridnya, apakah maksudnya berdoa berarti membaca rumus doa ini secara berkala?

Bapa Kami

Kita dapat menyebut Allah sebagai “Bapa Kami”. Ini mempunyai makna dasar bahwa Allah adalah sumber kehidupan, dan Pencipta setiap makhluk hidup.

Dalam menyapa Allah sebagai Bapa, kita mengakui bahwa kita adalah anak-anak, putera dan puteri, dari Allah. Tetapi jika kita adalah anak-anak dari satu Allah, maka kita adalah saudara dan saudari satu sama lain.

Tidak ada pengecualian.

Apakah kita siap untuk melihat bahwa setiap orang di muka bumi ini, terlepas dari ras, kebangsaan, warna kulit, kelas, pekerjaan, usia, dan agama adalah saudara lelaki dan perempuan saya? Jika tidak, kita harus berhenti berdoa pada kata pertama ini.

Dikuduskanlah nama-Mu

Dalam pernyataan ini, kita meminta agar seluruh dunia mengakui kekudusan Allah, bahwa seluruh dunia bernyanyi bersama para malaikat, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan.”

Allah tidak membutuhkan ini tetapi kita melakukannya.

Ketika kita bernyanyi seperti ini dengan segala ketulusan maka kita mengatakan bahwa kita adalah miliknya dan mengenali-Nya sebagai Bapa.

Datanglah Kerajaan-Mu

Ini adalah Kerajaan di mana pemerintahan Allah berlaku di hati, pikiran, dan dalam hubungan dengan sesama.

Sebuah Kerajaan di mana manusia dengan senang hati tunduk pada pemerintahan itu dan mengalami kebenaran dan cinta dan keindahan Allah dalam hidup mereka dan dalam cara mereka bereaksi dengan orang-orang di sekitar mereka.

Ini menghasilkan dunia kebebasan, kedamaian dan keadilan untuk semua. 

Kita berkomitmen untuk menjadi mitra Allah dalam mewujudkannya. Kerjasama kami dalam pekerjaan ini sangat penting.

Menjadi murid Yesus pada dasarnya harus terlibat dalam tugas mewujudkan Kerajaan ini. Dan itu harus dimulai sekarang juga.

Berikan kami setiap hari makanan kami yang secukupnya

Doa agar kita selalu diberi apa yang kita butuhkan untuk kehidupan sehari-hari.

Siapa yang dimaksud “kami”? Keluarga kita? teman-teman kita? Tentunya itu merujuk pada semua anak Tuhan tanpa kecuali. 

Jika itu masalahnya, maka kita berdoa agar setiap orang dipenuhi dengan kebutuhan sehari-hari mereka. Hal ini akan terwujud jika kita semua terlibat.

Pernyataan ini tidak hanya memberikan tanggung jawab kepada Tuhan. Memberi makan saudara-saudari kita adalah tanggung jawab semua orang.

Ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami.

Pengampunan dan rekonsiliasi harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Kristen dan kita semua tahu bahwa kadang-kadang itu bisa sangat sulit.

Namun, Allah kita begitu siap untuk mengampuni.

Menjadi seperti Dia, menjadi “sempurna” berarti memiliki kesiapan yang sama untuk memaafkan.

Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.   

Dorongan terdalam kita seharusnya bukan untuk mengutuk dan menghukum tetapi untuk merehabilitasi dan memulihkan hidup.

Kita dikelilingi oleh kekuatan yang dapat menjauhkan kita dari Allah. Kami berdoa agar kita tidak mudah menyerah.

Kita memerlukan tangan Tuhan yang membebaskan untuk mengangkat kita seperti ketika Dia mengangkat Petrus yang tenggelam.

Kita bergantung sepenuhnya pada bantuan Tuhan. 

Tautan videonya di sini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here