‘Man jadda, wajada’ dan Spiritualitas ‘Magis’

3
3,191 views

FILM ‘Negeri 5 Menara’ yang diangkat dari kisah novel bestseller karya Ahmad Fuadi ini berkisah mengenai kehidupan para santri di sebuah pondok pesantren bernama Madani di pelosok Jawa Timur.

Sejak film mulai diputar, saya langsung bergumam: ini cerita ‘seminari banget.’ Maksudnya, gambaran suka duka hidup di pesantren, berbanding dalam segala kemiripannya, dengan ‘pesantren Katolik,’ seminari, tempat para calon imam digembleng.

Coba mulai dengan sang tokoh sentral: Alif Fikri Chaniago, anak dari Maninjau yang bercita-cita bersekolah di ITB dan menjadi seperti B.J. Habibie, terpaksa merelakan mimpinya untuk sekolah di sekolah sekular gara-gara keinginan ayah ibunya ingin dia menjadi cendekiawan Islam, seperti Buya Hamka.

Anak seminari mungkin akan senyum-senyum jika sungguh-sungguh ditanya; apakah mereka semua benar-benar pengen jadi pastur.

Bersama sang ayah, Alif pun berangkat ke Jawa untuk mengikuti tes masuk pondok, dengan hati yang berat dan enggan. Ketika sampai di pondok, ia langsung disambut informasi bahwa ia bakal belajar selama 4 tahun karena pondok mewajibkan satu tahun tambahan untuk persiapan kurikulum pondok. Maka tekadnya bulat untuk, kalau bisa, gagal di tes masuk dengan mencoba menyilang jawaban yang salah. Ajaib, bolpennya langsung mati, sehingga Alif terpaksa memakai bolpen pemberian sang ayah dan menyilang jawaban yang benar.

Ia pun lulus dan dengan hati terpaksa bertekad menjalani setahun hidup di pondok dan berencana akan berhenti dari pondok dan pindah ke Bandung untuk mengejar mimpi.

Namun segalanya tidak berjalan seturut sejalan rencananya.

Alif pelan-pelan dihadapkan pada kenyataan bahwa konsep awalnya tentang tentang pondok sungguhlah keliru. Pemimpin pondok, Ustad Amin Rais, mengungkapkan bahwa pesantren bukan sekolah agama Islam melulu.

Pondok adalah sekolah kehidupan, sekolah yang percaya bahwa tradisi dan pengalaman adalah guru terbaik untuk menciptakan orang-orang besar. Tujuan akhirnya adalah membuat para santri menjadi ‘orang besar’, tak peduli di dunia mana mereka akan hidup kelak.

Pesan yang sama untuk anak seminari: Jika tak menjadi imam kelak, mereka diharapkan jadi apa?

Di awal kelas, seorang ustad pengajar membuat terkesima para santri dengan memperkenalkan ungkapan yang akan menjadi mantra yang bergema hingga akhir kisah: man jadda wajada, ungkapan dalam bahasa Arab yang berarti: Yang bersungguh-sungguhlah yang akan berhasil.

Sang ustad menyampaikan mantra lewat simbol: memotong kayu dengan pedang yang tumpul. “Bukan yang tajam yang akan berhasil, tapi yang bersungguh-sungguh.”

Kesungguhan hati, tidak setengah-setengah, selalu mengupayakan yang terbaik, selalu going the extra mile adalah moral dari seluruh kisah film. Dalam spiritualitas Ignasian, mantra man jadda wajada ini amat berdekatan dengan spiritualitas magis, dalam bahasa Latin berarti ‘lebih’. Selalu mengejar yang ‘lebih,’ lebih baik, lebih maju, lebih besar demi kemuliaan Tuhan.

Itulah tujuan utama pendidikan; membentuk watak pribadi yang tak puas dengan apa yang ada, mengupayakan segalanya sepenuh hati dan jiwa, dan berkata,”if the best possible, good is never enough,” musuh utama kesuksesan adalah sikap puas diri pada sesuatu yang ‘sudah baik’ dan berhenti mengejar yang unggul.

Hidup pondok seperti hidup di asrama seminari, selalu berhadapan dengan kenyataan bahwa segalanya penuh keterbatasan namun keterbatasan bukanlah kata akhir untuk menyerah. Sebaliknya, keterbatasan adalah tantangan untuk mengejar yang unggul.

Listrik mati hidup dan genset yang byar-pet karena mesinnya sudah tua, tak mematikan kreativitas para santri untuk merakit mesin bekas menjadi genset baru. Peralatan terbatas untuk menampilkan pentas seni, bukan halangan untuk berkreasi dan berseni.  Para ustad pengajar yang sungguhpun tak digaji tetap berdedikasi tinggi dalam mewakafkan dirinya untuk pendidikan.

Makanan yang seadanya, tidur diatas tikar, tak ada TV untuk sekedar menonton pertandingan badminton, semuanya bukan halangan untuk maju.

Ada juga kisah persahabatan Alif dengan kelima teman santri yang selalu bermarkas di bawah menara masjid sambil menunggu maghrib sembari memandangi awan; Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa, Sulawesi, juga menyadarkan Alif tentang makna persahabatan, kebersamaan dan saling mendukung.

Masing-masing punya mimpi menjadi ‘orang besar’ menurut versi masing-masing, dan melanglang buana ke negeri-negeri yang jauh, dan berjanji saling bertukar kabar dan foto mereka kelak di berbagai negara yang mereka kunjungi bersama menara-menaranya.

Saya jadi tersadar mengapa banyak anak seminari suka berfoto di depan menara kapel.

Tak hanya Alif yang belajar bahwa tak semua hal berjalan sesuai rencana sendiri. Tuhanlah sang empunya rencana.

Ada momen sangat emosional dan penuh air mata ketika para santri yang menyebut kelompok mereka sebagai ‘sahibul menara’ itu harus berpisah dengan teman mereka yang cemerlang dan lurus, Baso. Baso harus pulang ke Gowa untuk merawat neneknya yang dan merelakan diri untuk keluar dari pondok.

Berhenti sekolah mungkin bagi banyak orang sama dengan sebuah kegagalan. Tapi Baso membuktikan sebaliknya ketika ia justru menjadi pendakwah yang sukses di pulau-pulau sekitar Gowa. Berhenti tak berarti mati. Gagal tak berarti menyerah kalah. Selalu ada pengharapan dan keyakinan bahwa Tuhan punya rencana yang lebih baik.

Film ini menjadi film membawa pesan universal, terutama mengenai kepemimpinan dan pendidikan karakter lewat agama, yang disampaikan secara kaya dalam detail yang sarat simbolisasi.

Film yang berdurasi hampir mendekati dua jam lamanya ini juga sangat inspiratif dan menghibur dengan banyak adegan-adegan lucu penuh canda.

Film ditutup dengan kisah sukses ke enam santri menggapai mimpi mereka, berjumpa salah satunya di Trafalgar Square, London.

Sayang, menurut saya film ini harus diakhiri dengan cerita sukses yang ‘too good to be true.”

Pengalaman justru menunjukkan bahwa kisah pendidikan lebih sering adalah kisah kegagalan ketimbang keberhasilan, gagal membentuk pemimpin ulung dan sukses sebaliknya membuat orang-orang yang biasa-biasa saja.

Sayapun menggumam: Namanya juga film.

 

Photo credit: www.negeri5menara.com

 

3 COMMENTS

  1. Ya, saat melihat film ini yang pertama terbersit adalah bagaimana hidup di lingkungan asrama yang kadang lucu kadang haru dan juga terkadang menyebalkan. Tetapi itu semua memberi warna bagi sebuah cerita yang kita sebut pengalaman hidup.

    Kisah Negeri 5 Menara memberi gambaran bagaimana interaksi karakter saling berpadu, dan berakhir sempurna indahnya. *Namanya juga film, hehehe….

    Salam bagi penulis,

    ^Indra Goen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here