Mantan Loper Koran Pengin Jadi Wartawan di Zaman Orde Baru (3)

0
119 views
Penulis di depan latar dua pendiri Kompas -- PK Ojong dan Jakob Oetama. (Ist)

AAH serem, selain harus menulis yang bersahabat saja, juga penerbitnya harus siap dengan ancaman di-breidel setiap saat kalau sudah tidak sesuai dengan selera penguasa.

Maka dari itu, saya pernah bermimpi untuk –kalau bisa nantinya– boleh menjadi wartawan olahraga saja. Itu setelah membaca serial tulisan seru dari wartawan Th. A. Budi Susilo, dkk. ditambah Kadir Yusuf sejak laporan analisis Piala Dunia Sepak Bola di Jerman Barat 1974.

Penulis dengan Hadisudjono Sastrosatomo, dokter spesialis mata perintis RS Mata JEC.

Dan untuk memupuk impian itu, saya belajar via surat dengan wartawan olah raga Valens Doy.

Bahkan, ia juga sempat-sempatnya menulis kartu pos buat saya saat tengah meliput Kejuaraan Dunia Bulutangkis yang pertama di Malmoe, Swedia, tahun 1977.

Kelak, ia juga pernah “menggoda” saya agar bersedia berkarier menjadi wartawan di koran Surya di Surabaya, tahun 1990.

Untuk itulah semasa kuliah di Bandung, saya menyempatkan diri mengikuti Pendidikan Pers Mahasiswa ITB (1980) dengan pembicara para tokoh pers nasional sekaliber Mochtar Lubis, Mahbub Djunaidi, Rosihan Anwar, Jakob Oetama, Goenawan Muhamad, Aristides Katoppo, Arwah Setiawan, Harmoko.

Selain itu, juga ada Abdul Gafur, MT Zen, Sudjoko, MAW Brouwer, JS Badudu, dll.

Pada awal bekerja setelah lulus kuliah 1981, saya sempat nyambi sebagai wartawan di majalah bulanan Komputer & Elektronika (Jakarta, 1982-1985) yang kelak Surat Izin Terbitnya diteruskan oleh Kelompok Kompas-Gramedia sebagai Majalah Info Komputer.

Ngobrol santai dalam acara “Ngeteh Kompas”. Kode nomor (1) Andreas Maryoto.

Saya pernah meliput press conference IBM dan Konferensi Komputer Nasional di Jakarta, 1983, bersama wartawan Kompas Ninok Leksono.

Juga meliput Computer Asia Conference di Singapore tahun 1983 dan itulah merupakan perjalanan saya yang pertama kali ke luar negeri.

Kenapa bermimpi ingin menjadi wartawan?

Alasannya sangat sederhana, selain puas kalau bisa menginspirasi pembaca, juga supaya kalau menikah atau meninggal dunia, masuk jadi berita, itu saja, he…he…he.

Kompas adalah santapan keluarga kami sehari-hari sejak 50 tahun yang lalu, tidak ada edisi yang terlewatkan tanpa dibaca, hampir semua tulisan dilahap untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

Gedung Menara Kompas di Palmerah Selatan.

Kompas adalah pedoman sekaligus pelita dalam mengarungi belantara, lautan, dan cakrawala kehidupan; tulisannya mantul (mantap betul), berisi, santun, dengan cara-cara penyajian yang bersahabat, sungguh mencerahkan, dan sangat mencerdaskan; menggunakan bahasa Indonesia yang tertib, ringkas, baik dan benar.

Di akhir pertemuan tadi, Mbak Ninuk sempat curhat sekitar tuduhan sepihak sebagian pembaca setia Kompas yang kecewa atas laporan hasil survei Kompas tentang elektabilitas kedua pasangan calon Presiden RI 2019-2024.

Di situ dituduhkan bahwa Kompas sudah tidak objektif, tidak independen, dan sejenis itu, sudah jauh dari idealisme para pendirinya yaitu Pak PK Ojong dan Pak Jakob Oetama yang selalu memegang teguh integritas dalam setiap usaha dan penerbitan beritanya.

Lesehan di acara “Ngeteh Kompas” bersama Ninuk Mardiana Pambudy (kode nomor 2); Albert Matondang (4), Shirley Ge (6).

Tentang itu, saya mengatakan bahwa “menara” Kompas (maksudnya integritas itu) tidak dibangun dalam satu malam. Sesuatu yang telah merasuki jiwa banyak orang Kompas selama puluhan tahun itu, tidak mudah untuk dirobohkan oleh hanya segelintir orang dalam sekejap saja.

Kompas masih akan hidup lama karena banyak yang menjadikannya sebagai pedoman dan pelita andalan dalam mengarungi lautan informasi yang tak semuanya bermutu atau bermanfaat.

Acara sore itu diakhiri dengan makan lesehan bersama keluarga besar Kompas.

Terimakasih Kompas.

11 Mei 2019 – Cosmas Christanmas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here