Maria, Pemberi Berkat Bangsa

0
209 views
Lukisan Bunda Maria bersama Kanak-kanak Yesus dengan bahan dasar manik-manik hasil karya Romo Matheus Yuli Pr, imam diosesan Keuskupan Ketapang dan Pastor Paroki Gereja Katedral Ketapang. (Mathias Hariyadi)

MENJELANG Pemilu Presiden dan Legislatif tanggal 17 April 2019 yang lalu bertebaran di media sosial, ajakan untuk mengadakan Doa Rosario bagi keselamatan bangsa dan terpilihnya pemimpin Pancasilais yang berjiwa, ngayomi, menyejahterakan dan membawa keadilan bagi bangsa ini.

Ada satu sahabat yang setia selalu mengirimkan ajakan yang sama itu setiap hari. Iya setiap hari…..hampir sepanjang masa kampanye.

Semenjak tokoh-tokoh nasionalis Katolik seperti Mgr. Soegijapranata, IJ Kasimo, dan kawan-kawannya masih berkiprah, mereka selalu menanamkan kesadaran bahwa orang Katolik bukanlah pembonceng gratis (free riders) dalam kancah kehidupan politik berbangsa ini.

Bersama sesama warga bangsa, mereka adalah warga negara yang penuh dalam membangun sejarah negeri merdeka ini. Orang Katolik membayar pajak, ikut aksi bela negara, memberikan suara saat Pemilu serta aktif terlibat dalam pembangunan bangsa. Kita ikut ambil bagian menentukan hitam putih merah negeri tercinta ini.

Semboyan uskup pertama Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Soegijapranata, 100% Katolik, 100% Indonesia merupakan rumusan pernyataan sikap sekaligus idealisme umat Katolik untuk negeri ini.

Ajakan doa bagi keselamatan negeri dan doa rosario kebangsaan tidak bisa dianggap remeh. Dalam kondisi bangsa yang rentan dengan disintegrasi, perpecahan dan kecurigaan karena ujaran kebencian, doa bagi bangsa ini terasa menjadi energi penuh kuasa. Politik yang menghalalkan segala cara demi merebut kekuasaan mesti diredam dengan kuasa yang jauh lebih besar.

Doa menjadi wujud partisipasi aktif dan tanggungjawab warga atas negeri. Tak pernah boleh dinggap remeh doa tulus warga bagi bangsanya sendiri. Inilah saat yang tepat bagi warga negara untuk memberikan dharma bakti (spirit nasionalisme) kepada Ibu Pertiwi.

Dari bermacam doa itu, doa rosario atau doa pujian bersama Bunda Maria ini dipilih banyak warga negara beragama Katolik untuk mengekspresikan jiwa keimanan dan ke-Indonesia-an mereka. Sebagaimana seorang kekasih menghadiahkan bunga terindah, demikianlah umat Katolik menghaturkan untaian bunga terindah bagi negeri ini yakni Doa Rosario kebangsaan.

Perempuan penghancur kuasa jahat

Dalam Kitab Suci, Bunda Maria diasosiasikan sebagai perempuan yang ambil bagian dalam karya keselamatan dan penebusan. Perempuan adalah gelar indah dalam Kitab Suci sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian 3:15 maupun Injil Yohanes 2 : 4-5, Yoh 19: 26.

Saat menciptakan manusia “laki-laki dan perempuan” (bdk Kejadian 1:27), Allah menghendaki bangsa manusia ini selamat dan bahagia. Namun kuasa dosa dalam bentuk ular menjebak Adam Hawa untuk memakan buah pengatahuan baik maupun buruk.

Perempuan pertama dalam Kitab Suci itu terpikat dan selanjutnya mengajak sang lelaki memungut buah terlarang itu. Mereka akhirnya bukan saja terhempas keluar dari taman Firdaus namun juga menjerumuskan bangsa manusia dalam dosa.

Demikianlah bangsa manusia keturunan mereka mewarisi dosa, dosa asal.

Namun Kitab Kejadian mencatat, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15).

Betapa pun kuatnya setan berkuasa, Allah mengutus seorang perempuan, Bunda Segala Bangsa, yang dinubuatkan akan menaklukkan setan. Ia akan menginjakkan kakinya ke atas kepala setan. Ia akan bersatu dengan Puteranya meremukkan ular itu dengan kakinya.

Marialah yang dinubuatkan itu. Dialah perempuan terjanji itu. Dengan kesediaannya menanggapi panggilan Allah, Allah menempatkannya sebagai Hawa Baru di samping Adam Baru dalam karya Penebusan. Leluhur kita yang pertama merupakan pasangan yang memilih jalan dosa. Akhirnya suatu pasangan baru, Putera Allah dengan kerjasama BundaNya, akan membangun kembali bangsa manusia dalam martabat aslinya.

Beberapa tahun terakhir ini, kuasa kejahatan itu seolah menggelayut menyelimuti udara Indonesia. Kuasa kejahatan seolah menggelapkan bangsa ini. Bangsa yang sebelumnya dikuasai energi paseduluran dan shallom kini mengenal kebencian antar sesama karena berbeda agama, suku dan budaya. Bangsa yang biasanya hidup rukun, kini seolah hobi hoaks, ujaran kebencian, kata-kata kasar.

Dari manakah caci maki benci, kebiasaan menjelek-jelekkan, mengutuk dan mengkafirkan bertumbuh? Dari manakah siasat adu domba, hantam kromo, siasat licik, indoktrinasi kebencian itu dibiasakan? Kemanakah menghilangnya tata krama buat sesama, unggah ungguh buat yang sepuh, magnificat buat negeri, annuntiation buat nation?

Bangsa yang sebelumnya mengenal sepi ing pamrih, rame ing gawe sekarang dikuasai energi korupsi, mengambil sebanyak mungkin bagi kekayaan sendiri. Bangsa yang sebelumnya welas asih pada sesama dan peduli pada alam ciptaan kini menjadi bangsa keturunan Kain yang garang mau membunuh saudara dan radikal menghancurkan siapa saja yang berbeda. Dan sebagainya….

Bunda Maria memahami betapa kuatnya kuasa setan sebagaimana dulu menjerumuskan Adam Hawa. Namun sebagai perempuan sejati, Bunda begitu mencintai anak-anaknya. Ialah Bunda untuk kita semua. Bila kita bersedia bersatu dengannya, kita pun mampu meremukkan kepala kejahatan.

Bunda segala bangsa

Dalam pesta perkawinan di Kana, kita mendapati perempuan itu menjadi perantara dan penyalur rahmat. Sang Putera bertanya, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, perempuan? Saat-Ku belum tiba.”

Yesus menyebut BundaNya dengan “perempuan”. Ia mengingatkan BundaNya akan panggilannya sebagai perempuan terjanji Bunda Dunia.

Mukjizat di Kana itu di satu pihak menggambarkan hubungannya yang sempurna dan harmonis dengan Putera. Di pihak lain itu menunjukkan bagaimana Yesus menghendakinya sebagai “perempuan” yang memohon mukjizat.

“Bukankah Tuhan Yesus Sendiri yang menunggu saat terjadinya mukjizat besar-Nya itu, yakni mengubah air menjadi anggur, sampai BundaNya mengatakannya? Dia bermaksud mengadakan mukjizat-Nya, tetapi menunggu sampai BundaNya berbicara.

Sebagai perempuan sejati, Bunda Maria sungguh seorang perantara dan penyalur rahmat. Ia berbicara atas nama bangsa, atas nama orang kecil yang tertindas, yang berkesudahan. Dialah Bunda yang hadir saat kesulitan dan kehancuran mungkin terjadi. Pantaslah Bunda Maria disebut Bunda Segala Bangsa. Dialah bunda setiap bangsa khususnya bangsa-bangsa yang sedang berjuang.

Karena kasih Sang Bunda, Gereja Katolik beberapa kali diselamatkan dari ancaman serius. Karena kasih Sang Bunda, banyak bangsa diselamatkan.

  • Karena kasih Bunda, ideologi komunisme di Eropa bisa runtuh.
  • Karena doa Sang Bunda, beberapa pulau di Philipinne terbebas dari bahaya angin taufan.
  • Karena kasih Bunda, banyak keluarga mengalami mukjizat kesembuhan, mukjizat kesejahteraan.

Bunda Maria adalah pemimpin. Dialah pemimpin lembut yang membawa ketegasan bagi tiap pemimpin bangsa. Dialah pemimpin yang tegas bagi pemimpin dunia yang rapuh dan lemah. Dialah pemimpin berjiwa rahim bagi pemimpin radikal dan berjiwa teroris.

Bulan Maria menjadi kesempatan menyatukan diri bersama Sang Perempuan dan Bunda para bangsa.

Kita bersatu berdoa mohon berkat bagi negara dan bangsa, bagi para pemimpinnya, bagi bumi air udara. Kita memberkati bangsa kita.

Kita memberkati kesulitan, tantangan dan salib bangsa ini.

Jb. Haryo
8 mei 19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here